
Mahreen berdiri di depan Kaca yang memperlihatkan luasnya Hamparan kota,jalanan yang Ramai membuatnya terpokus pada lalu lalangnya kendaraan.Tak jarang beberapa Angkutan berhenti bahkan membelokkan kendaraan tersebut masuk ke Area Rumah Sakit.
Menghembuskan Nafas kasar saat mengingat di tempat Ini ia sering bertukar pendapat dengan Laki-laki yang amat ia sayangi.
Bertahun-tahun menjalani Rumah tangga namun harus Hancur karena Penghianatan.
kembali Mahreen menghembuskan Nafas kasar,Sesak di dadanya begitu menyiksa Hingga ia terduduk seketika di Lantai.
Air mata Mahreen mengalir begitu saja.
"Maafkan Aku Mas"Lirihnya
"Semoga Engkau di terima disisinya,Mas Orang baik sangat Baik"Ucapnya lagi.
Hari ini ia mendapatkan Kabar dari Tailand jika Mantan Suaminya meninggal Seminggu yang lalu karena Serangan Jantung saat menemani Istri Mudanya berbelanja kebutuhan.
Entah apa yang membuat Mantan suaminya mengalami Hal itu karena Yang ia tahu Mantan suaminya adalah orang yang Disiplin dalam makanan dan dia tau Mantan Suaminya itu tak memiliki penyakit Berbahaya apapun.
Perpisahan dengan Mantan suami yang belum lama hanya 6 bulan membuat Mahreen terpukul sebab ia sangat-sangat Tahu kondisi Mantan Suaminya dari Asisten pribadi yang selalu menemani Mantan suami nya itu.Asupan makanan dan rutinitasnya,Bahkan Asisten yang kerap di Panggil Pak Fatah tersebut selalu melaporkan kegiatan Mantan Suaminya meski Pak Fatah tahu jika Mahreen sudah bukan siapa-siapa lagi bagi Tuannya.
(Dikarenakan Author lupa lagi nama Suami Mahreen dan anak-anaknya jadi Author kasih Nama Mario Mahendra Wijaya untuk Mantan suami Mahreen dan Emi Riza Raffi Wijaya untuk anak pertama nya, El Nino Putra Wijaya untuk anak yang kedua dan yang terakhir adalah El Zio Zayn Malik Wijaya.)
"Assalamualaikum Bunndaaaa"Ucap Naya Riang saat memasuki Ruangan Mahreen diikuti oleh Kartika.Naya dan Kartika tidak tau keadaan Mahreen di dalam Ruangan.
"Nay"Ucap Kartika mematung saat melihat Mahreen duduk di lantai yang cukup dingin dengan tubuh bergetar.
Sesegera mungkin Kartika dan Naya mendekat lalu mengelus punggung Mahreen,memeluknya tanpa bertanya lebih banyak.
Brak....
__ADS_1
pintu ruangan di tendang begitu keras membuat Kartika,Naya dan Mahreen terlonjat kaget.
"Bunda"Panggil Riza dengan keras.
Mahreen bangkit lalu menatap anak pertamanya.
"Apa-apaan Bunda menghubungi Nadia dan bertanya kenapa dengan ayah? Bukankah Bunda bukan siapa-siapanya ayah? kenapa Bunda sekarang banyak tanya tentang ayah setelah Ayah Tiada? kenapa nggak dari dulu udah menanyakan tentang ayah, bukan keinginan bunda untuk bercerai dengan ayah baru sekarang kenapa Bunda bertanya-tanya tentang ayah tentang kematian ayah?"
Riza menatap Bundanya dengan tatapan garam, Kapan teduhnya yang selalu Ia berikan kepada sang Ibu setelah sang Ibu memberitahu Jika ia dan ayahnya memutuskan untuk bercerai.
" Apa salahnya Bunda hanya bertanya pada istrimu?"
" kalau Bunda peduli sama Ayah, Kenapa Bunda malah mengecewakanku."
" Bunda hanya bertanya Reza Bunda hanya bertanya? dan apa yang terjadi 6 bulan lalu Itu sudah keputusan bunda dan ayah kamu" jawab Mahreen dengan air mata yang terus mengalir
"Abang"Panggil Nino lalu menatap Kakak dan Ibunya bergantian"Sudah Puas Bun?"Tanya Nino dengan senyum sinis nya.
"Bunda mana puas Kak"Jawab Zio.
"Apa yang Bunda Puas kan?"Tanya Kartika menatap Zio,Nino dan Riza menantang."Aku bertanya apa yang Bunda Puaskan."
"Bunda puas melihat kita kehilangan sosok Ayah."Bentak Riza.
Mata Kartika menutup sejenak.
" Apa-apaan sih Abang Janganlah Abang memperpikiran seperti itu terhadap Bunda"
" Diam kamu anak Pungut"Naya diam,Kartika pun mengelus lengan Naya pelan
__ADS_1
"Tika sadar,Tika dan Naya memang hanyalah seorang anak Pungut.Dan kalian adalah anak Kandung Bunda juga Ayah.maaf Kami ikut campur dalam urusan kalian,Tapi kalian yang berbadan Kekar dan bertubuh Tinggi apa pantas berkata kasar dan meninggikan Suara pada seorang Wanita lemah,Ringkih yang nyatanya adalah Wanita yang berjuang melahirkan dan membesarkan kalian."Ucap Kartika penuh penekanan.
"Tapi Bunda....
Katika mengisaratkan untuk Zio diam"Kalian pernah bertanya mengapa bunda melakukan itu?apa kalian pernah bertanya apa yang bunda Rasakan."
"Diam kamu,Ngerti apa kamu?"Tanya Nino dengan wajah merah padam.
"Ngerti?"Kartika tersenyum mengejek,Kartika menatap Mahreen yang menangis dengan gelengan kepala pelan" Harusnya kalian bertanya pada diri kalian sendiri kenapa kalian tidak bisa mengertikan situasi yang tengah terjadi dan konflik yang tengah terjadi diantara kedua orang tua kalian? Kalian bertanya padaku ngerti apa aku? aku Ngerti Kak maka dari itu aku berkata apa kalian mengerti dengan perasaan Bunda? aku tanya pada Kakak Nino yang terhormat. apa Kakak Nino yang terhormat ini mengerti perasaan Bunda yang ditinggalkan suaminya?
Ditinggalkan karena memiliki daun muda? ditinggalkan karena sudah tidak cantik lagi? Apakah kak Nino tahu perasaan Bunda, Bunda mendampingi Ayah dari merintis hingga Ayah menjadi seseorang yang dihormati banyak orang, namun ketika Bunda sudah ringkih, sudah tidak semenarik dulu bunda ayah tinggalkan, Bunda Ayah campakkan, Bunda Ayah Sakiti. apa Kak Nino, Bang Riza dan Kak Zio tahu perasaan Bunda? jika aku yang ada di posisi Bunda aku sudah menghajar kalian sampai babak belur, Di mana kalian ketika Bunda menangis di malam idul Fitri beberapa tahun silam.?
Kalian tahu Ayah tidak pernah pulang. sibuk dengan daun muda - daun mudanya. di tahun terakhir ini Bunda memutuskan untuk berpisah dengan ayah karena Bunda sudah terlalu tersakiti oleh ayah tapi dengan gampangnya kalian bertanya kepada Bunda.Kenapa memilih perceraian? Kenapa Apakah tidak bisa berdamai dan rukun seperti dulu? kalian hanya bertanya seperti itu tapi kalian tidak tahu dan tidak merangkul Bunda bertanya pada Bunda dengan Hati Ke Hati."
Zio,Nino dan Riza menunduk.
" maaf Kak, makilah diri Kakak sendiri jangan maki Bunda lagi, jika tidak makilah kami. kami ridho dan ikhlas dicaci dan dimaki oleh Kakak tapi kami benci jika Kakak melakukan itu pada orang yang telah mengandung Kakak sembilan bulan lamanya," ucap Naya menggebu.
" Kak,Kakak tahu Bunda ditinggalkan oleh ayah lebih dari 3 tahun dan ayahnya datang ketika kalian pulang bersama istri-istri kalian dan anak-anak kalian. benda ditinggalkan dari pertama kali ayah menikah dengan istri pertamanya Ibu Sri lalu istri kedua dan ketiganya hingga akhirnya Bunda bilang jika tidak mau pulang lebih baik Ceraikan lalu Ayah dengan gampangnya menceraikan Bunda saat itu juga. sebelum itu terjadi apa yang membuat Bunda ingin diceraikan oleh laki-laki yang menjadi cinta keduanya setelah kakek Ardi, Apa kalian pernah bertanya itu? Mengapa Bunda ingin diceraikan?"
Kartika mendekat ke arah anak pertama sang Bunda lalu membenarkan jas mahal yang dikenakan oleh Riza" apa menurut ya kamu? berpakaian bagus tapi dengan wajah yang sudah keriput? kamu mempermalukanku di hadapan beberapa kolegaku, kamu berpakaian seperti ibu-ibu tahun 70-an. kamu sudah tidak seksi dan juga tidak menarik lagi lalu untuk apa kamu menempati rumah ini. rumah ini adalah rumah istana untuk aku istri dan anak-anakku tapi kamu bagiku kamu hanyalah seorang babu"
kata itu keluar begitu saja dari mulut Kartika, Kartika menatap ketiga anak bundanya yang terlihat syok. Kartika berjalan mendekati sang Bunda" wanita yang telah mendampingi seorang laki-laki bertahun-tahun lamanya dimulai dari masa kuliah hingga sukses dan menjadi seseorang terkenal dan ternama namun berakhir dengan sematan seorang babu itu pantas?"
" bagiku yang hanya seorang anak pungut Bunda adalah berlian, aku iri pada kakak yang dilahirkan oleh berlian ini. namun kalian yang terlahir dari seorang yang mulia malah memperlakukannya sama hinanya dengan perlakuan seorang laki-laki bijak yang tidak memiliki hati. aku tidak mengada-ngada Kak, aku mendengarnya langsung karena kejadian itu membuat aku muak dengan sosok Ayah yang selalu kalian puja-puja. Terserah kalian mau percaya atau mau bagaimana tapi bagiku sekarang ini adalah mengusir kalian. pergi dari tempat ini dan renungi Apa kesalahan kalian"
" Bunda" Panggil Nino, sang Bunda membalikkan tubuhnya menandakan ia tidak mau berbicara dengan siapapun saat ini.
" Aku harap kalian mengerti dengan apa yang aku ucapkan tadi, biarkan Bunda tenang, kalian bisa kembali lagi beberapa bulan kemudian. Karena aku tahu bunda bukan orang penting untuk kalian yang lebih penting untuk kalian adalah istri dan juga bisnis." ucap Kartika begitu menyentil hati ketiga laki-laki tersebut
__ADS_1