
Vinsen menatap dirinya dihadapan cermin,ia akan pergi menemui teman nya Delisa ia akan menyatakan perasaan nya hari ini.
Vinsen dengan pakaian pormalnya ia akan pergi ke Apartemen yang di tempati Delisa
Sesampainya disana ia yang sudah dandan dengan rapih terkejut saat melihat Delisa duduk di Pangkuan seorang laki-laki.
"Gimana?"
"Gak tau sayang,Tapi Yang masa aku harus sama dia yang jelas-jelas baru berstatus duda."
"Itu gak akan lama sayang,Cukup sampai kamu mendapatkan beberapa projek nya."
"Ahhhh kamu ini"
"Maaf ya sayang,ini demi masa depan kita nantinya"
Vinsen tersenyum kecut,dengan mudahnya ia mempercayai Delisa bahkan hingga membuatnya menjadi sekertaris pribadinya.
Vinsen berbalik ia keluar Unit tersebut meninggalkan dua orang yang tengah memadu kasih di Sofa ruang santai.
Vinsen menyandarkan tubuhnya pada dinding lift lalu menekan Tombol paling tinggi yang akan mengantarkannya pada satu ruangan dimana ada orang yang ia cari saat ini.
Brak
"401"
Seorang laki-laki yang sedang duduk di ruangan itu mendongak lalu berdiri menunduk.
"Gerakan Penjaga keamanan geledah semua unit dn jangan biarkan ada yang berbuat mesum di gedung apartemen ini."Ucap Vinsen.
Laki-laki tersebut mendongak tak lama mengangguk dan langsung keluar ruangan dengan terbirit-birit.
Vinsen menjatuhkan tubuhnya pada Singgle Sofa
"Maafkan Aku Tania,Aku sadar sekarang bukan kamu yang berbeda tapi perlakuan ku yang berbeda.Harusnya aku membuat rumah menjadi nyaman bukan hanya Aman."
__ADS_1
Vinsen memjamkan matanya rasa bersalahnya kian membludak.Satu tahun sudah ia bercerai dari Tania wanita yang ia renggut kesuciannya secara paksa karena ia yang buta karena cinta.
Cinta itu rumit dan ia sadar ia kendalikan oleh hati yang tergiur oleh kata-kata manis.
Rumah tangga nya Hancur karena hati yang tak bisa teguh karena luluh oleh Ucapan wanita yang hanya tergiur oleh kekayaannya.
"Maaf"
"Maafkan aku Tania."
..._________________...
Vinsen berjalan dengan Gontai menuju rumah dimana di adakannya Pernikahan mantan Istrinya.
Ia bisa melihat Mantan Istrinya berdiri berdampingan dengan seorang laki-laki tampan,jauh lebih muda darinya.
Hatinya sakit,ia tak memungkiri jika ia iri pada laki-laki yang selalu melempar senyum dan menatap Tania dengan tatapan lembut.
Husain Al Ayubi itulah nama yang ia ketahui di kartu undangan yang ia dapat sebulan lalu.
"Selamat"
"Terima kasih"Ucap Husain seraya menerima Uluran tangan Vinsen yang di arahkan pada Tania.Tania tersenyum seraya mengatupkan tangannya di depan dada.
Vinsen menatap Husain lalu berujar"Titip Tania,Jaga dia dengan Baik dan jangan biarkan ia terluka.Jangan sia-siakan wanita sebaiknya."
"Insya'alloh Bang."
Vinsen beralih pada Tania"Selama Dek,Kamu berhak bahagia.Maaf kan Abang yang jelas-jelas selalu membuat mu terluka."
"Enggak bang,Tidak perlu ada kata maaf.Kita keluarga."
Vinsen tersenyum seraya melempar senyum kecil,Ia beralih menatap Husain"Iya bang,Abang keluarga kita sekarang.Rumah Saya terbuka lebar untuk Abang sama seperti Bang Jansen dan Teteh Mahreen."
"Terima Kasih Husain"Ucapnya lalu merangkul Husain sebentar.Husain mengangguk ia berkata banyak dengan Vinsen memberi tahu agar tidak usah khawatir dengan kedua putrinya,ia akan menyayangi mereka tanpa membeda-bedakan.
__ADS_1
"Nyesek kan lo"Ucap pedas itu ia dapatkan dari Alma.
Vinsen menyembut kedua putrinya dan menghiraukan Alma yang menyindirnya dengan kata - kata pedas.
Sintia dan Ciara di bawa oleh Vinsen menuju Hotel dimana ia menginap.Ia mengajak mereka bermain,berbelanja dan banyak hal hingga ia tak ingin berpisah dengan kedua anaknya.
Tania dan Husain membiarkan Sintia dan Ciara bersama ayahnya karena mau bagaimana pun ia harus memberi waktu agar mereka merasa dekat satu sama lain.
Seminggu sudah Sintia dan Ciara menemaninya Di Surabaya,berjalan-jalan dan banyak hal seru yang ia lakukan.
Hari ini tiba saat nya ia berpisah.
Berpisah dari Anak bukanlah hal yang mudah bagi Vinsen,Ia akan menjalani hidup sendiri tanpa ada kecerewetan dari dua Bidadarinya namun itu sudah konsekwensinya.
Vinsen menatap sendu anak-anaknya yang tengah berjalan mendahuluinya,ia menyeret koper besar berisi pakaian dan mainan anak-anaknya.
Dua Princess yang memiliki kebiasaan tak jauh berbeda darinya.
Sesal tak berguna untuknya.
Dia harus menerima pil pahit itu dan dia harus kuat.
Mungkin lebih tapatnya menguatkan.
Buah yang ia taman,ketidak harmonisan karena terlena saat bertemu dengan orang yang memiliki tutur kata lebih manis dari yang menungguinya dirumah.
Kehancuran yang di buatnya sendiri.
Vinsen menertawakan dirinya sendiri.
Dulu ia pernah membayangkan bagaimana hancurnya rumah tangga kakaknya yang di bangun bukan karena cinta bahkan lebih parah,kakak nya membangun rumah tangga dengan orang yang tidak sama sekali di kenalinya.
Vinsen sadar bukan harus kenal sama kenal tapi kuat sama kuat.kuat karena menguatkan.
Yah rumah tangga itu mudah dibangun tapi sulit untuk di pertahan kan.
__ADS_1