
" Ya Allah Masya Allah ini rumah, apa kandang sapi sih." kesal Jansen saat membuka pintu rumah Mahreen.
" Bang namanya juga banyak anak kecil, Udah deh jangan protes."
" sayang anak-anak kita juga kayak gini, ini mereka aja yang gak bisa ngatur anak-anak supaya anak-anaknya enggak ngeberantakin segala mainan ini itu di mana aja. Gimana kalau ke injak" ucap Jansen pada istrinya Ganis
" udah jangan samain anak abang sama anak-anak kita, Biarin mereka berekspresi dengan keinginan Keinginan mereka masing-masing. aku nggak apa-apa Kok rumah jadi berantakan dan lain sebagainya. bahkan itu lebih baik daripada di rumah yang selalu bersih, selalu rapi, tapi seperti tak berpenghuni." jawab Mahreen.
Rumah Mahreen memang bener kotor, karena anak-anak bermain di sana, tapi bagaimana Mahreen dan suaminya itu bukanlah masalah, Mereka senang karena rumahnya begitu banyak anak dan begitu banyak saudara yang ke sana.
Ghifari menatap istrinya dengan sayang, Iya bersyukur memiliki istri yang banyak memiliki keluarga,bertahun-tahun tidak memiliki keluarga ataupun saudara membuatnya merasa sangat berbeda.namun kali ini istrinya bukan hanya kado terindah untuknya, tapi juga benar-benar menjadi pelengkap untuk hidupnya.
Tania heboh dengan anaknya yang sudah bisa merangkak, begitupun suaminya yang bermain dengan anak-anak lain. Ghifari sendiri dia menjaga Putri kecilnya karena istrinya menjaga Putra bungsunya. anak pertamanya Ia bermain bersama dengan suami Tania juga anak-anak lain yang Arsya bawah ke rumah ya anak siapa lagi kalau bukan anak Arsya, rumah bukan hanya seperti kapal pecah tapi lebih dari itu. namun kebahagiaan pun menyelimuti rumah itu, Ghifari berharap bukan hanya kali ini tapi ia berharap seterusnya rumah itu ramai dikunjungi oleh sanak saudara dari istrinya. harapannya satu semoga kebahagiaan tak pernah luntur menyinari keluarganya.
Vincent datang bersama putrinya, Iya langsung bergabung dengan anak-anak Arsya dan juga anak pertama dari mahreen, ada suami Tania pula di sana dan ia berbaur cukup sangat membuat sedikit tegang tapi menantang.... Vincent benar-benar membuat semua orang tercengang dia bilang jika dia akan menikahi Yasmin wanita yang sudah dikenalkan oleh Khadijah beberapa bulan lalu.
__ADS_1
harapan-harapan indah turut menyinari kebahagiaan keluarga besar itu, keluarga yang diawali bukan karena sedarah, tapi karena persahabatan. dimulai dari persahabatan orang tua, menjadi persahabatan anak-anak pula.
Ganis ikut bergabung, Ganis bergabung dengan para ibu-ibu yang sedang mengurus bayi-bayi kecil, anak-anaknya ikut bergabung dengan yang lainnya meninggalkan suaminya yang mencak-mencak sendiri. Iya karena Jansen memang berbeda tapi perbedaan itu tidak menjadikan mereka berbeda, mereka tetap sama kau mereka memiliki kebiasaan mereka sendiri-sendiri, tapi bisa bersatu dalam suatu hal jika itu baik.
" Sepertinya kita harus melaksanakan acara tour keluarga, bagaimana?" tanya Jansen.
" itu bukan suatu hal yang buruk, tapi sepertinya nggak deh" ucap " yang aku tahu orang sibuk itu gak bisa tuh menghadiri yang namanya liburan, kalaupun ada liburan pasti bawa pekerjaan, dan itu bukan namanya liburan tapi memindahkan tempat di mana harusnya bekerja ke tempat rekreasi."
" Jangan gitu lah kamu ini sama Abang sendiri sindirannya pedes banget."
" Arsya, teteh Anak pertama kan? bukan anak kedua atau ketiga!" Arsya mengangguk" jadi Teteh nggak punya abang kan?" yang lain tertawa karena melihat Jansen yang kesal dengan apa yang diucapkan oleh Mahreen.
" lebih baik kita menikmati apa yang sekarang tengah terjadi, jangan banyak protes, jangan banyak komen, Nikmati aja meskipun di sini gerah karena banyak orang tapi tempatnya kecil." Sindir Arsya" tapi serius Aku bersyukur punya kalian semua, nanti salah satu anak kita ada yang nikah terus nikahnya sama anak-anak kita lagi aduh bakalan nambah seru tuh cerita kita."
" Heh kamu mah jodoh-jodohin anak-anak, Bunda dulu bilang katanya gak boleh kayak gitu. Biarin mereka mencari masa depan mereka sendiri-sendiri." tegur Tania
__ADS_1
" Ya nggak gitu lah Tan, aku juga nggak ada niatan mau jodohin anak-anak. Biarin mereka besar tumbuh dan mencari jati diri mereka sendiri-sendiri. Aku cuman mau menikmati hari-hari bahagia bersama mereka, dan bersama kalian. ini hal langka loh kita bisa berkumpul, apalagi ada yang namanya Bos Jansen dan bos Vincent yang super duper sibuk, ditambah Nyonya Tania yang sudah tinggal menetap di luar negeri, Aduh susah banget ini acara bisa kumpul-kumpul kayak gini dan bisa semuanya ada di sini. Sekarang juga kita kekurangan personil Khodijah nggak datang, karena dia sibuk di pesantren. kalau mikirin soal kesibukan semua orang juga sibuk, apalagi para Bos, yang apa-apa tinggal bilang pasti dibeliin. bahkan sama si punya rumah juga nawarin rumah yang lebih besar tapi ditolak."
" kamu curhat atau apa sih Dek? gak jelas banget!" ucap Mahreen
" nggak aku lagi sidang." dengus Arsya.
" haul almarhum bakal dilaksanain Bulan depan kan?" tanya Tania" aku nggak janji datang, tapi Semoga ada rezeki dan juga ada umur aku usahain. Iya kan suami?" suami Tania mengangguk.
" pasti dilaksanain, biasa acaranya di Tasik. tapi sepertinya personil kita memang selalu seperti itu, nggak pernah komplit meskipun sudah diwanti-wanti untuk datang di hari itu." ucap Arsya Seraya melirik Jansen yang sudah 2 tahun mangkir.
" udahlah gak usah dibahas ini itu lagi, yang mau datang datang aja rumah di Tasik terbuka lebar untuk siapapun yang mau hadir. dan kalau soal masalah kamu Tania, hadir ayo Nggak hadir juga nggak papa. Kami semuanya punya kesibukan masing-masing, kita bergelut sama takdir Allah lah yang maha berkehendak. jika Allah menghendaki kita bisa berkumpul lagi nanti di kampung, tapi jika tidak kita hanya bisa berdoa dan saling mendoakan kebaikan dan kebahagiaan masing-masing. di mana pun kita berpijak Jangan pernah kita lupa salat dan jangan pernah kita lupa mendoakan mereka-mereka yang sudah lebih dulu berpulang. kita mendoakan satu sama lain untuk kebaikan, untuk kebahagiaan, untuk kesuksesan. kita bukan rayuan untuk kita sendiri tapi kita harus meraih untuk kita bersama. sukses Bersama meskipun kita tidak lagi bersama." ucap Mahreen.
" aku nggak janji hadir, tapi seperti biasa aku usahain."
" dilarang bawa helikopter, soalnya sekarang udah nggak ada lapangan dan juga udah nggak ada atap yang bisa menyimpan si helikopter itu. udah gak usah gaya-gayaan udah tua juga masih aja gaya-gayaan." ucap Mahreen dengan dengusan keras yang ia tujukan pada Vincent
__ADS_1
" bukan gaya-gayaan, masalahnya waktu."
" lebih baik gak usah datang daripada nyusahin orang, kita gak boleh nyusahin orang. siapapun itu kita harus menghargai mereka. mereka punya kesibukan mereka masing-masing begitupun kita. Jangan kira mereka seperti orang yang tidak memiliki pekerjaan atau lain sebagai mereka lebih sibuk daripada kita tapi mereka menyempatkan waktu untuk bisa mengaji bersama dan mendoakan bersama. umat muslim itu saling, saling dalam segala hal, Ingat dunia gak akan dibawa mati." ucap Mahreen.