
Mahreen mematung di tempat saat membuka Pintu Apartemen nya.
Laki-laki bertubuh tinggi tegap yang ia tahu Duda beranak Dua itu tersenyum pada nya.
"Ada apa Pak?"tanya Mahreen.
"Saya mau mengajak Mbak pergi bersama kedua Anak saya,Mbak juga boleh mengajak Anak mbak"
"Dalam acara apa yah?"
"Hanya ingin jalan-jalan."
Mahren mengangguk lalu menatap Putra nya yang duduk di Sofa seakan bertanya.
Zio bangkit berjalan kearah dimana Bundanya Berada."Setengah Jam Lagi kami selesai."
"Oke,Zio"Ucap Pria tersebut.
...----------------...
Sesuai dengan pembicaraanya kemarin Jansen memboyong semuanya berlibur.
"Naik-naik ke puncak Gunung tinggi tinggi sekali"
Naik naik kepuncak Gunung tinggi -tinggi sekali."
Sorak Ramai di sepanjang jalan begitu membuat ia tertawa bahagia
"Kiri kanan ku lihat saja ada Pohon cemara"
Kiri Kanan ku lihat saja ada pohon cemara
"Itu bukan pohon Cemara Sintia"
"Hah?Iya kah bang?"Tanya Sintia.Syam mengangguk sebagai jawaban.
"Udah jangan dengerin abang,Lanjutin nyanyinya sayang."Ucap Tania.
Syam menatap Dri yang duduk di sebelahnya"Kak Dri boleh aku duduk di dekat jendela"
Dri mengangguk lalu membantu Syam agar mudah berpindah.
"Abang kenapa Pindah"Ucap Jansen seraya mengangkat Syam agar tidak harus susah.
"Abang ingin dekat jendela dan Tidur."Ucapnya"Terimakasih Kak Dri.
"Sama-sama Dek"
Jansen tersenyum melihat perlakuan Dri pada anak-anaknya.Dri bisa menjadi Kakak yang baik dan Kakak yang begitu sayang pada Adik nya.meski mereka tak sedarah tapi mereka bisa saling menyayangi dan menjaga.perlakuan Dri pada Syam membuatnya terenyuh.
Syam menengadah tangan pada Jansen.
"Apa?"tanya Jansen.
"Susu kotak 2 Pap"Jansen tersenyum"Mana?"
"Sebentar lagi Sampai,kamu bisa membelinya nanti bersama Kakak Dri."
"Oke."
"Jangan tidur,Duduk yang tenang ok"
__ADS_1
Syam mengangguk lalu menatap Dri.
"Om"
"Papap,jangan panggil Om kakak"Ucap Syam membenarkan,Jansen tersenyum seraya mengangguk.
"Papap?"
"Yes,Kakak panggil Papap Jansen jangan Om,begitupun pada Mama Ganis jangan memanggil Tante.betulkan Papap"
Jansen mengangguk"Iya kamu dan Key,Shi juga Via kalian sudah Om anggap sebagai anak Om sama seperti Syam,Aslan dan Arsan kalian boleh memanggil Om seperti Syam memanggil dengan Sebutan Papap dan memanggil Tante dengan sebutan Mama.kami orang tua kalian sekarang,jangan canggung dan Jangan anggap kami orang lain."
"Terimakasih Papa"Ucap Key menyaut dari arah depan sedangkan yang lainnya hanya menunduk.
"Sebelum di protes panggilnya pake P belakang nya ya"Ucap Jansen pada Key,Key pun mengangguk.
"Mama dan Papap gak maksa kalian untuk memanggil kami seperti itu,Tapi satu hal Mama sekarang adalah Mama kalian dan Papap adalah ayah kalian kalian jangan takut,canggung,dan merasa tak enak hati.kalian sama,Kita Keluarga."Ucap Ganis yang mendekat pada Shi yang duduk dua baris di depan dimana Syam Duduk.
"That's Right"Ucap Syam"Yey Syam punya kakak banyak."Serunya,Dri pun yang duduk di sebelahnya mengangguk dan tersenyum.
Bagi Shi,Via,Key dan Dri keluarga Jansen adalah penyalamat bagi mereka.ketika mereka tersiksa di keluarga nya keluarga Jansen datang dan merangkul hingga berbuat banyak untuk membawa mereka.
"Terima kasih Papap,Mama.Aku akan jadi Kakak yang akan menjaga kalian semua."
"Ya harus itu,Kamu kan laki-laki.Ingat tanggung jawab mu besar."Dri mengangguk.
"Sudah sampai,Ayo"Ucap Tania mengintrufsi.
Vinsen Bangkit"Bagai keluarga Cemara ya Bang."Sindirnya.
Jansen hanya tersenyum menanggapi itu.
"Keluarga Abang kan Cuma Aku,Mereka tuh hanya keluarga Mbak Ganis yang malang."
"Iya memang kami keluarga Cemara,Keluarga Bahagia yang memiliki Banyak Anak dan Banyak anggota di Dalam nya."Ucap Jansen."Ayooo goooo kita berlibur.kita bersenang-senang."Ajak Jansen dengan Riang.
Ganis tersenyum"Ayo Ayo jangan ada yang murung kita senang-senang sekarang."Ajaknya.
"Mbak dan Mas nya tolong awasi anak-anak."
"Ini uang buat kalian"Ucap Jansen memberikan Uang masing-masing 50.000.
"Aslan dan Arsan di titip Mbak aja"Ucap Ganis,Jansen pun mengangguk.
"Abang mau bawa uang sendiri?"tanya Jansen.
Syam mengangguk"Dua,Abang mau beli Susu"
Jansen tertawa lalu memberi nya dua lembar Uang."Gunakan secukupnya,Sisanya bisa kalian tabung."
"Siap Papap"Ucap mereka bersama,
Jansen tersenyum tanpa Sadar air matanya menetes begitupun Ganis.
"Wow kalian Hebat"Puji Ganis.
"Ayo turun,mbak titip ya."Ucap Ganis saat melihat Aslan dan Arsan di gandeng para pengasuhnya.sebenarnya anak-anak Jansen tak memiliki pengasuh hanya Jansen dan Ganis memiliki 8 orang yang membantunya di rumah dan saat ini membawa 4 untuk membantunya menjaga anak-anaknya.meninggalkan 2 di Jakarta dan 2 di Vila.
"Ayo tinggal kita"Ajak Jansen pada Ganis.
"Tunggu sebentar Mama mau ambil tas dulu."
__ADS_1
Jansen dan Ganis keluar bersamaan lalu menikmati pemandangan bersama.
Jansen menatap Ganis yang tersenyum bahagia,Jarang-jarang ia bisa sesenang ini.
"Terakhir waktu liburan di Malaysia ya kita kaya gini"Ucap Jansen"Mama Bahagia.
"Sangat Pap,Mama Sangat Bahagia."Ucap Ganis."Sebisa Mungkin Papap harus meluangkan waktu setidaknya 2hari dalam sebulan untuk kita berkumpul bersama."
"Satu hari pun sulit sayang apalagi dua"jawab Jansen mengingat Jadwalnya yang amat sangat padat.
"Cari orang dari keluarga kita yang bisa di percaya,Di Tasik banyak keluarga kita kan?setidaknya ajak mereka untuk membantu."Ucap Ganis"Tua itu pasti Bang,dan Mati itu akan.menikmati hidup itu perlu maka luangkan lah waktu karena hidup bukan hanya tentang materi tapi juga tentang kedekatan keluarga."
Jansen mengangguk.
Disisi lain Arsan dan Aslan bermain dengan Kakak-kakaknya kecuali Syam yang memilih duduk memperhatikan.
Syam duduk dengan tenang tanpa terpengaruh dengan keadaan sekitar.
Duduk dengan memasukan tangannya pada saku jaket itu yang di lakukan,di temani satu Bodygart yang bertugas menjaganya.
Syam mendongak"Bapak duduk saja tak usah berdiri saya terganggu dengan bapak yang berdiri."
"Tapi Den"
"Bapak lebih tua,lebih baik duduk agar kakinya tidak sakit.pesanlah kopi untuk Bapak minum."Ucapnya.
Udin pun duduk di sebelah tuannya dan memesan Wedang jahe.
"Abang tak pergi kemana pun?"
Syam menggeleng"Mama gorengan"Ucap Nya
Ganis pun memberikan Gorengan yang dipegangnya pada Syam.
"Mama?"
"Gorengan nya tinggal satu,Abang makan saja."
Syam menggeleng"Mama saja yang makan"Jawabnya.
Jansen menghela nafas lalu melirik mbak dan memanggilnya lalu menyuruhnya membeli gorengan Ubi makanan kesukaan Syam.
"Susu nya sudah habis Bang?"
"Abang tak membeli Susu hanya membeli roti dan Air karena Kakak membeli teh dan jajanan."
"Sisanya Abang atau Kakak yang pegang?"tanya Jansen.
Syam menatap Ayahnya dingin"Abang kan yang minta kenapa harus kakak yang pegang"
Jansen tertawa"Duduk dan makan disini,Bagi Pak Udin makanan nya."Syam mengangguk dan meraih kantung keresek yang didalam nya ada makanan kesukaan nya lalu menyimpannya di sebelah pak Udin.
"Makan pak jangan Harus aku yang ambilkan"
Pak Udin mengangguk"Terima kasih Den"yang di jawab hanya dengan anggukan.
Setelah makan Syam bangun lalu berjalan menjauh dari tempat itu,ia mengajak pak Udin untuk berjalan-jalan sesekali meminta Pak Udin memotret nya.
Bruk
Syam terjatuh lalu mendongak.
__ADS_1
"Tante nda"
"Mahreen???