ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
72


__ADS_3

"Khem"Fatiah berdehem cukup keras,Ia melihat Mahreen menunduk dalam"Segala sesuatu yang di lakukan dengan terburu-buru bukan lah hal yang baik,begitupun meminta dan melakukan sesuatu.Ada baik nya kita manusia libatkan Alloh dalam setiap Urusan."


Arsa mengangguk lalu tersenyum pada istri tercintanya."Saya berterima kasih dengan kejujuran apa yang bapak Sampaikan.semoga Alloh memudahkan jalan bapak,Namun apa yang di Ucapkan istri saya ada benarnya.Ya kita harus libatkan Alloh dalam setiap langkah.maka dari itu Kami tidak menolak maupun menerima niat baik bapak.namun berilah kakak saya waktu untuk ia berpikir dan meminta pendapat juga meminta ijin pada putra tunggalnya"


"Kakak saya pernah mengalami kejadian buruk,Dua tahun lalu suami dan kedua anaknya berpulang dalam suatu kecelakaan,Satu tahun ini ia kembali ceria,jahil"Ucap khadijah lembut,matanya terus menatap tangan yang ia pegang"Ada luka yang tak kasat mata dan itu sulit tersembuhkan,Kakak saya tengah membalut lukanya belum melepas segala nya dengan penuh rasa ikhlas."


"Saya tau itu Bu,Saya sudah mendengar sedikit.Saya pun ada luka yang jelas tadi sudah di dengar oleh Bu Mahreen.Saya laki-laki pendosa tapi entah mengapa setelah melihat Ibu Mahreen saya ingin memilikinya."


"Mungkin kamu hanya terobsesi"Ucap Vinsen,membuat suasana tegang seketika.


"Saya tidak merasakan itu,Saya tertarik dan ingin memilikinya bukan semata-mata karena pandangan saya yang melihat paras Cantiknya tapi saya melihat ketulusannya,begitu baik dan pengertian juga peehatian pada siapapun.beliau baik tak pandang bulu itu membuat aku merasakan hal yang berbeda."


"Aku kedalam dulu"Ucap Mahreen lalu beranjak masuk kedalam kamar Utama.


"Biar aku saja"Ucap Khadijah saat Jansen bangun.Khadijah diam di balik Pintu."Saya rasa kakak butuh waktu."


Ceklek


Khadijah pun masuk,Ganis dan Fatiah saling tatap lalu ikut beranjak.


...____________...


"Zio"Panggil Hakim.


Zio yang baru keluar dari Unit pun melempar senyum"Pagi Om"


"Pagi,Kamu berangkat sendiri?"


"Iya Om,Naik sepeda"

__ADS_1


"Sepeda?"


"Sepeda Ontel di bawah"


Hakim terbelalak"Ontel"


Zio tertawa seraya mengangguk"Kenapa?gak boleh?Saya pecinta sepeda Ontel Om"Ucapnya"Saya duluan"Ucap Zio


"Bu Mahreen adalah seotang dokter yang pernah menikah dengan seorang CEO dan sekarang ia menjadi CEO,lalu anaknya sepeda ontel."


Hakim menggeleng pelan lalu beranjak masuk kedalam lift ia masih bingung dengan jalan cerita hidup seorang Mahreen wanita yang begitu Anggun dan Cantik meski menggunakan pakaian-pakaian yang lebar dan panjang namun itu yang membuatnya terlihat berbeda,terlihat lebih berwibawa.


"Bunda baru pulang?"Tanya Zio pada sang ibu yang baru keluar dari mobil Avanza hitam.


"Iya Sayang,kamu mau langsung berangkat?"


"Iya,Tadi Om Abang nelpon katanya 3 bulan lagi harus pulang.bukan hanya harus tapi Wajib."


"Yess"Seru Zio."Zio boleh Mancing kan?"


"Bebas,tapi pulang nya jangan lupa harus cariin kado buat pengantin."


"Pasti itu."Ucapnya lalu mendekat pada Sang bunda dan memeluknya sekilas juga mencium kedua pipi Bundanya sebelum meraih tangan dan menciumnya dengan Hidmat."Zio berangkat ya Bun."


"Iya hati-hati"Zio mengacungkan jempol seraya berucap salam.


"Zio pecinta sepeda?"Tanya Hakim.


Mahreen menegang di tempat saat mendengar suara Bas di sebelahnya.

__ADS_1


"Bu?"


Mahreen menatap Hakim sekilas"Dia hanya tak suka dengan kemacetan jadi dia gunakan sepeda koleksi Nenek nya dulu"


"Ibu juga?"


"Apa?"


"Mobil?"


"Memang harus mengikuti jaman ya?"Ucap Mahreen seraya tersenyum kecut.


"Tidak Bu,tapi kebanyakan kan....


"Saya paham,cuma memang saya suka mobil ini jadi saya pakai yang ini.Bapak mau kekampus?"


"Iya,Saya permisi"Pamitnya Mahreen mengangguk"Eh,,,soal yang waktu itu....


"Saya sedang memikirkannya."


"Saya tidak memaksa jika ibu tidak berkenan.karena ya saya hanya seorang buruh kecil di banding keluarga besar Ibu."


"Saya tak memandang itu,Bapak lihat sendiri saya seperti apa.Hanya mungkin sedikit saya memberi tau jikalau saya menikah lagi saya tak akan membawa apapun dari hasil saya bersama suami saya terdahulu,saya hanya akan bawa anak.Anak saya yang memiliki harta dan saya hanya akan bekerja sebelum anak saya mampu mengelola usaha yang ditinggalkan mendiang suami saya."


Hakim mengangguk"Saya juga hanya akan membawa anak dan hasil saya terdahulu akan saya kumpukan dan atas namakan Sisi."


"Itu lebih baik."Ucap Mahreen lirih


Hakim tersenyum"Saya menunggu jawaban ibu,dan saya akan bekerja keras untuk bisa jadi suami yang baik."

__ADS_1


Mahreen menunduk seraya mengangguk"Saya pamit"Ucap Mahreen pelan lalu berbalik"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam


__ADS_2