ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
77


__ADS_3

"Tidurlah kamu pasti lelah"Ucap Gifari.


Mahreen menatap Gifari sendu"Maaf karena Zio ikut tidur di kamar ini"


Gifari tersenyum lalu beranjak berjalan kearah Kasur dimana Mahreen duduk"Zio anak ku juga,Gak usah berpikir yang tidak-tidak"


"Terima kasih"


"Ayo kita tidur"Ucap Gifari,Mahreen pun membaringkan tubuhnya.Gifari menyelimuti Mahreen sebelum ia beranjak ke bagian lain untuk tidur"Selamat tidur,Jangan lupa baca do'a"ucap Gifari lalu menutup matanya.


Suara merdu seseorang mengaji mengusik tidur lelap Mahreen ia melihat anaknya tengah memeluknya dengan erat,namun ia tak menemukan suami barunya disebelah putranya.


Perlahan ia memindahkan tangan anaknya dan mulai bangkit,ia melihat Gifari tengah duduk di balkon dengan Al-Qur'an di tangannya.


Mahreen menuju kamar mandi jam sudah menunjukan pukul 3 ia akan shalat tahajud dulu.Setelah shalat ia berjalan ke arah Balkon dimana suami nya tengah larut dengan Bacaannya.


"Sudah bangun?"


Mahreen tersenyum seraya mengangguk"Dari tadi pukul 3."


Gifari mengangguk"Besok kita pindahan ya,kerumah saya."Mahreen hanya tersenyum"Rumah saya gak sebesar rumah ini hanya ada dua kamar,Dapur dua kamar mandi dan ruang kosong.


"Ruang tamu?"


"Disana tak ada sofa dan lainnya."


"Nanti boleh aku romak agar lebih nyaman?"Tanya Mahreen hati-hati.


Gifari diam"Rumah itu rumah mendiang istri saya,Rumah orang tua istri saya dan mungkin kita tinggal disana hanya beberapa bulan karena rumah itu akan di ambil alih oleh adik istri saya"


Mahreen menghela nafas besar"Kalau begitu,kita urus KPR aja,agar kita bisa mendapatkan rumah dengan cara menyihcil.kita jangan pindah ke rumah itu."


Diam,Gifari terbersuara membuat Mahreen merasa tak enak hati.


"Begini"Ucap Mahreen dengan Ragu"Maaf sekali,Aa jangan tersinggung kenapa aku bilang kita ambil cicilan rumah.karena kita sekarang tengah membangun rumah tangga dan di dalamnya ada aku sebagai istri,ada Aa sebagai kepala keluarga dan Ada Zio sebagai anak kita gak mungkin tinggal di rumah sodara atau di rumah itu."


"Kalau mengontrak?,Penghasilan aa hanya sedikit."


"Bantu aku"Ucap Mahreen"Kerjaan terlalu banyak dan aku sudah lelah namun Zio masih kanak-kanak belum bisa di harapkan.saya butuh bantuan,jika Aa berkenan ayo kita sama-sama menjalankan nya."


"Saya ada kerjaan juga,mungkin saya hanya bisa bantu dari rumah. Dan soal rumah saya memang sudah membeli rumah tapi rumah nya harus di renovasi,Saya punya sedikit tabungan dan rencananya mau merenovasinya dalam waktu dekat ini."


Mahreen kembali tersenyum"Kita renovasi itu dulu,dan kita gak perlu pindah.Aa bawa saja barang-barang Aa yang butuhkan dan tinggal disini sementara waktu.kita gak tinggal bareng sama Adek jadi Aa gak perlu ngerasa canggung dan lainnya. Besok juga barang-barang aku akan datang dan menuhi rumah kecil ini."


"Terima kasih"


"Kita sekarang sudah menjadi keluarga jadi jangan banyak terima kasih,karena itu sudah seharusnya."

__ADS_1


"Tidak,karena memang Saya harus berterima kasih."


"Dua hari kedepan akan pergi ke Tasik,Aa ikut kan?"


Gifari tersenyum sebelum menjawab Zio sudah mengagetkan dengan berteriak.


"Bunda"Teriaknya....


Mahreen mengusap wajahnya sudah biasa anaknya seperti ini jika lampu kamar padam.


"Bunda disini"Ucap Mahreen


Gifari bangit lalu melihat Zio yang menangis "Kenapa Zio?"


"Zio takut Papa,,,hiks,,,,Bunda matiin lampu?"Tuduh Zio menatap bunda nya kesal.


Mahreen menggelengkan kepalanya tanda ia tak mematikan lampu.


"Papa yang matiin semalam"


Zio menatap Ayah barunya itu "Jangan dimatiin lagi,Zio gak suka."


Mahreen tertawa"Tos jadi pamuda tapi borangan" (Udah jadi pemuda tapi masih penakut)


"Bunda"Ucap Zio tak terima.


"Zio mah sieunan na ampun.cobi gera A engke mah ajak ka ragunan pasti gera alim kaluar tina mobil."(Zio itu takutnya banyak.coba nanti Aa ajal keragunan,pasti dia gak akan mau keluar dari mobil)


"Bunda,Ah sebel sama Bunda."


Mahreen hanya memeletkan lidahnya.


"Wudhu sana udah mau subuh"Ucap Gifari melerai,Gifari berjalan ke arah kamar lalu menyalakan lampu.


"Bunda nyebelin,Awas ke mun di tasik di adukeun gera ka Nin Amma" ( awas kalau di tasik nanti di aduin sama nenek Amma) ancam Zio seraya berjalan masuk ke dalam kamar.


"Nin Amma bakal kicep karena Bunda bawa Berondong"


"Berondong?"tanya Gifari.


"Iya"Jawab Mahreen seraya tersenyum,Dengan Jahil dia. mendekat ke arah Gifari "Aku kan nikah sama berondong"


Cup


Entah keberanian dari mana Mahreen mencium Pipi Gifari yang di tumbuhi banyak bulu-bulu halus setelah ia berbisik.


Mahreen menutup mulutnya saat Gifari mentapnya dengan mata yang terbelalak karena kaget.

__ADS_1


Aaahhhh


teriak Mahreen lalu bergegas ke kasur dan menelungkupkan wajahnya di sela-sela bantal.


...______________...


"Kenapa gak isi rumah sebelah sih A"Keluh Arsha"Kan rumah sebelah mau di beli sama Bang Vinsen dan Bang Jansen buat kalian."


"Gak usah terima kasih"Ucap Mahreen "Dan lagi kita juga akan tinggal beberapa bulan saja di sini sebelum rumah kita selesai"


"Rumah,Masya'alloh dimana rumahnya."


"Di...


"Rahasia"Potong Mahreen"Udah A bawa aja itu kedalam"


"Dasar kakak nyebelin...


"Tapi selalu ngangenin"Potong Mahreen,Arsha tertawa lalu mengunyel2 pipi kakaknya"Gak sopan ikh"Tepis Mahreen


"Besok mau berangkat bareng Fatiah atau Khadijah.?"


"Khadijah emangnya mau berangkat?"Tanya Mahreen"Khadijah kayanya gak akan berangkat deh,soalnya kan masih bayi anaknya.takut kenapa-napa soalnya jalan kesana masih belum bagus."


"Lebih tepatnya udah jelek lagi"Ucap Arsha,Mahreen mengangguk"A Gifari ikut."


"Insya'alloh ikut"


"Teteh beneran mau tinggal di rumah belakang dulu,gak mau pindah sekalian ke sebelah rumah."


"Gak,Teteh udah di belakang aja.toh gak akan lama."


"Ya udah kalau gitu,tapi kalau perlu apa-apa kasih tau ya nanti biar aku...


"Ok,gak usah di bahas nambah panjang"


"Ya udah."Ucap Arsha."Aku istirahat dulu ya,soalnya nanti sore aku harus ke bandara karena ada penerbangan keluar negri."


"Iya,kamu istirahat yang cukup dan minum suplemen biar enakeun badannya."


"Muhun kakak ku yang cuantik"


Mahreen tersenyum kala melihat adiknya mulai beranjak pergi,ia merasa adiknya itu bukan lah adik tapi kakak untuknya.


Hidup sudah tak memiliki ibu dan Ayah adalah hal yang amat sangat tidak mengenakan,tidak ada lagi yang merangkul ketika mendapatkan hal sulit juga penghibur ketika gundah datang...


Miris memang saat tau sebagian orang ada yang memilih menitipkan orang tuanya ke panti jompo.sedangkan dirinya yang ingin sekali bisa bertatap muka dan berbagi cerita tak lagi bisa bersua.

__ADS_1


__ADS_2