
"Tania"Panggil Vinsen.
Tania menatap Vinsen malas"Vin,aku udah bilang yuk kita cerai.agar kamu bebas dan aku juga sama."
"Iya Aku emang setuju tapi bagaimana dengan Ciara dan Sintia"
"Kenapa kamu harus pusing,mereka akan ikut aku ada Moya dan Ariska yang akan membantu
"Lalu kalau aku ingin bertemu dengan nya?"Tanya Vinsen"Belum lagi bagaimana reaksi Abang dan keluarga."
Tania menatap Vinsen dengan pandangan tak suka "Kita udah gak sejalan,mau di terusin juga percuma.aku mau tenang Vin,aku pengen bebas."Ucap Tania"Kamu tau kan rumah ku yang di Surabaya kamu bebas masuk dan bertemu anak-anak kapan pun aku gak akan larang kamu."
Vinsen duduk seraya mengangguk.Mungkin kesalahannya sudah di luar batas hingga Tania memutuskan pernikahan dengan nya.
Ia sadar bagaimana perlakuannya.Dia terlalu acuh dan mementingkan dirinya sendiri,dia berlaku seperti dirinya tak memiliki pasangan.
Dia pun sadar sering menyalahkan masa lalu dan selalu berandai-andai,Andai dulu ia tak merusak Tania mungkin ia akan hidup dengan wanita yang ia inginkan.tapi ia malah merusak Tania hingga ia di nikahkan dan menjalani hubungan rumah tangga yang hambar,ia selalu berusaha membuat rumah tangganya seperti terlihat Harmonis namun tak bertahan lama.entah mungkin memang jalan nya yang bermula dari ketidak baikkan.
Puncak nya setelah ulang tahun Ciara yang kedua,ia meminta Tania melayaninya.Namun Tania menolak karena ia tengah datang bulan,ia pun pergi dengan marah dan bertemu Temannya.Ia merasa nyaman berbicara dengan teman wanitanya,hingga kejadian itu terus berlanjut membuat hubungannya dengan Tania merenggang.
Tania memiliki sifat masa bodo,tapi ia bukan tak mau dan tak ingin mencari tau suaminya bagaimana di luar tapi ia merasa hal itu bukanlah hal yang penting karena mau bagaimana pun seorang laki-laki di luar jika laki-laki itu baik ia akan kembali pulang kerumahnya yang dimana di dalamnya ada Istri dan anak-anaknya.
Tania bukan orang bodoh untuk tidak mengenali gerak gerik orang yang tengah puber,dan nyaman tinggal lama di luar.hingga ia memutuskan untuk menyibukkan diri dengan membangun bisnis online bersama Ganis istri Jansen,disela-sela ia mengurus anak-anaknya.
__ADS_1
Jansen dengan tangan terbuka memberi ijin Istrinya untuk menyibukan diri asalkan tidak lupa melayani nya dan mengasuh juga mendidik ketiga buah hatinya.Berawal dari Tania mengajak jualan via Online berubah menjadi Toko yang begitu menjanjikan dan Tania sadar suaminya sudah jauh dari jalur yang semestinya.
Hari itu tepat sepulang dari Bandung ia mengajukan surat perceraian yang langsung di tanda tangani oleh Vinsen tanpa pikir panjang.
Dan Tania rasa mungkin ini jalannya ia harus sendiri,tidak namun ia akan bersama anak-anaknya.
"Moy"Panggil Tania"Semua udah siapkan?"
"Udah kak"Ucap Moya"Barang-barang gak banyak yang di bawa hanya barang yang penting aja buat Cia dan Tia gak apa kan?biar nanti Moya Pas ngurus beberapa berkas ambil barang-barang yang belum sempat di bawa,soalnya masih banyak yang belum di kemas."
"Iya,Rumah ini gak akan di jual kan Vin?"tanya Tania.
"Enggak,Rumah ini bakal jadi Rumah Sintia atau Ciara suatu saat nanti."
"Oh oke"Jawab Tania.Tania menyerahkan Tas pada Moya dan menyuruh Moya lebih dulu ke mobil menemani Ariska dan kedua putrinya.
Vinsen berdiri"No Tania,Aku yang harus bilang Maaf.Maaf karena aku gak bisa jadi suami yang baik untuk mu dan Ayah yang baik untuk anak-anak.kegagalan ini bukan salah mu,kamu pantas egois karena aku pun turut Andil pada keegoisan mu.karena sifat dan sikap ku lah kamu memilih pergi."
"Kamu harus bahagia Vin,terima kasih dua putri dari mu akan ku jaga dan akan ku didik semampu ku."Ucap Tania dengan derai air mata.
Ia sudah menetapkan diri untuk setia dan tak akan berpaling,mencoba menerima apa yang Alloh takdirkan namun ia tak mampu jika harus berdiri sendiri meski ada pendamping yang menemani.
Bugh
__ADS_1
Vinsen memeluk Tania "Jadilah Adik bagiku Tania,jangan ada batas di antara kita.jadilah seperti dulu jauh sebelum kejadian terkutuk itu.aku Minta Maaf,maaf.....
Tania membalas pelukan Vinsen,Pelukan yang sering membuatnya merasa tenang.Waktu yang di jalani bersama bukan hanya waktu yang bisa di lupakan satu dua hari namun kenangan bersama itu akan membekas dan akan terus berputar di setiap langkahnya menuju masa depan.
Tania berharap ia bisa mendapatkan kebahagian bukan duka yang berawal dari kesalahan.
Banyak yang Pernikahan yang terjadi karena kesalah namun berujung saling mencintai dan melengkapi,namun ada pun yang berakhir seperti dirinya....ya begitu lah hidup.
"Aku tak janji,tapi aku dan kamu punya Sintia dan Ciara.kita besarkan mereka bersama dengan Cinta dan kasih sayang yang tak putus."
Vinsen melepaskan pelukkannya"Pergilah,Aku akan berkunjung di lain waktu."Ucap Vinsen
Tania menunduk berat rasanya ia harus meninggalkan Vinsen yang terlihat rapuh,tapi ini konsekwensi dari apa yang ia pilih.
Tania mendongak lalu menatap Vinsen yang menatapnya penuh dengan kesedihan.
"Bang,Jaga diri baik-baik,sehat-sehat disini."
"Kamu juga,Ada apa-apa kabari abang.Abang akan datang secepat yang abang Mampu."Ucap Vinsen
Vinsen terduduk lemas saat setelah Tania menghilang dari balik Pintu,ia mengakui kesalahannya ia memaki dirinya yang karena Nafsunya ia memudarkan jarak dengan istrinya.
Apa yang di taman ia pula yang akan menuainya.
__ADS_1
Vinsen bangkit dengan langkah tertatih dan kata maaf yang terus keluar dari mulutnya ia berjalan mencoba secepat mungkin keluar rumah untuk melihat kepergian kedua anaknya dan juga Mantan istrinya.
"Bodoh gue emang bodoh"Makinya pada diri sendiri.