
Hari-hari Mahreen begitu berat di Usianya yang sudah tidak muda lagi ia harus tinggal di rumah besar seorang diri karena Anak-anaknya telah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing belum lagi Di Usianya saat ini ia harus menelan pil Pahit dengan keadaan Rumah tangganya.
Suaminya memutuskan menikah lagi untuk ke tiga kali nya menjadikan ia memiliki dua madu,namun yang membuat nya menggugat cerai suaminya adalah ketiadaan waktu untuknya
Mungkin dalam setahun Ia bertemu suaminya hanya Dua atau tiga kali itupun jika anak-anaknya datang berkumpul,Namun ketika anak-anaknya tak ada suaminya pun tak pernah berkunjung sama sekali.
Mahreen duduk termenung di balkon kamarnya, ya mengingat beberapa tahun kebelakang hari-hari indah selalu ia lewati dengan suaminya.dan di balkon kamari ini ia selalu bercanda,saling melempar senyum dan memberi kenyamaan.
Entah kapan kerenggangan itu bermula hingga Suaminya datang dan Bilang jika ia telah menikah lagi dengan orang Surabaya dan parahnya beberapa tahun lalu ia pun membawa istri mudanya lagi kerumah dengan seorang anak kecil.
30 tahun Usia pernikahannya namun tuhan Tidak memberinya Buah Hati Perempuan,Lebih tepatnya Putrinya meninggal di Usia 9 tahun karena kecelakaan.membuat suami nya Terpukul dan menyendiri hingga beberapa tahun,namun setelah kembali lagi terjun kedunia Bisnis setelah pakum beberapa tahun,Suaminya menjadi berbeda.Dan itu sangat jelas di sadari Mahreen.
Mahreen mencoba berdamai dengan keadaan dan ikhlas apa lagi anak-anaknya yang lain telah berkeluarga tidak sepatutnya ia berkeluh kesah tentang suami nya pada anak-anaknya,karena ia tidak mau jika Anak-anaknya membenci Ayah mereka.
Senyum Mahreen mengembang ketika ia mendapat kabar dari Naya jika Kartika dan Naya telah sampai di Jakarta dan akan langsung ke Apartemen.
Mahreen bangkit berdiri lalu masuk kedalam kamar,ia meraih Tas lalu menggunakan Sepatu nya,kemudian turun kelantai dasar dan menyapa pembantunya.
__ADS_1
Masuk kedalam mobil Mahreen menancap gas dan pergi dari rumah besar itu.Ia merasa tidak berhak tinggal di rumah itu karena Rumah itu adalah Rumah menidiang Ibu dari Suaminya.
Tujuan Mahreen kali ini adalah Apartemen yang akan Ia tinggali dengan Kartika dan Naya anak mendiang Sahabatnya.
Ia sudah memutuskan untuk pindah dari Rumah itu dan tinggal bersama Kartika juga Naya,iya pun sudah bilang pada anak-anaknya dan pada Suaminya tentang iya yang akan keluar dari Rumah besar itu.meski awalnya anak-anaknya tidak suka dengan keputusan Orang tuanya namun pada Akhirnya mereka mengijinkan Ibunya untuk berlaku sesuka Hati.
...----------------...
Pagi ini Mahreen merasa bahagia karena ia dapat mengimami dua gadis SMA di belakangnya,Ia merasa memiliki keluarga Baru yang mana tak ia dapatkan beberapa tahun silam.
Membalikkan Tubuh dan langsung mendapatkan senyum ceria Gadis - gadis tersebut,Di ulurkannya tangan lalu di Sambut oleh Naya yang langsung mencium nya dengan kehusyuan dilanjut oleh Kartika.
Pertanyaan itu membuat Mahreen yang tengah melipat Sejadah menatap nya"Insya'alloh kalian SMA di tempatnya Abang Syam.Nanti bunda antarkan."
"Nanti ngerepotin Bunda"Ucap Kartika.
Mahreen mendekat lalu memeluk Kartika dari Samping"Kenapa kamu selalu seperti ini sih Nak?Sekarang ini Bunda adalah Ibu kamu,Wali kamu,dan yang akan bertanggung jawab tentang kamu,Jangan sungkan lagi sama Bunda,Minta apapun keperluan mu dan curhatkan semua keluh kesah mu.Insya'alloh Bunda akan selalu ada Untuk kalian berdua.Kalian adalah Harta paling berharga di hidup Bunda saat ini."
__ADS_1
Naya mendekat lalu memeluk Mahreen"Terima kasih Bunda,I love you"
"Love you to"
Berkutat di Dapur,Itulah kegiatan wanita paruh baya yang masih cantik di Usianya saat ini.dengan Balutan Daster Panjang dan Hijab Instan ia terlihat cekatan memegang spatula dan memasukan Bumbu-bumbu pada wajan.
Menu Pagi ini adalah Nasi Goreng dan telur,Menu simple dengan Bahan-bahan sisa di kulkas.
Cetrek.
Kompor pun mati dengan cepat Mahreen membawa wajan itu ke meja makan dan memasukan Nasi goreng panas tersebut pada Piring yang sudah ia siapkan.Selepas itu ia pun bergegas ke kamar.
Sebagai seorang Direktur Rumah sakit ternama ia harus masuk kantor dan mengurusi berbagai jenis pekerjaan.selain itu ia pun harus mengantarkan dua Gadisnya ke sekolah dan menitipkan pada Syam anak pertama dari Jansen dan Ganis.
Setelah Sarapan Mahreen bergegas berangkat dengan dua gadis yang sudah Cantik dengan setelah SMA dan Hijab juga tas dan Sepatu yang rapih.mereka bertiga pun berangkat dengan Mahreen yang mengemudi.
Membawa mereka di Jalanan Ibu kota yang selalu padat di pagi hari,Setelah Sampai di tempat Tujuan Mahreen langsung meminta bertemu dengan Syam karena jika ia harus mengurus ini itu sendiri yang ada ia akan menghabiskan Waktu cukup lama di sekolah jadi ia mengambil keputusan untuk menyerahkan kedua gadisnya di urusi oleh Syam.
__ADS_1
Setelah bertemu Syam dan berbasa Basi ia pun berangkat ke kantor dan mengikuti beberapa rapat.