
"Maaf aku lancang Bun"Ucap Kartika penuh penyesalan,Kartika menundukkan kepalanya ia berjalan kearah sofa lalu duduk dengan kepala tertunduk.
"Kamu keren tau,aku salut sama kamu yang bisa....
Ucapan Naya terhenti saat mendapatkan elusan lembut dari Mahreen.
"Ambilkan Air."Ucap Mahreen pada Naya.Naya pun mengangguk.
Mahreen berjalan kearah berlawanan dari Naya,Ia berjalan kearah Sofa dimana ada Anak Gadis dengan Wajah memerah duduk disana.
Mahreen bisa melihat kemarahan yang tertahan.Wajah yang memerah hingga ketelinga dan Tangan yang mengepal dengan buku-buku yang sudah memutih.
Mahreen baru pertama kali melihat sisi lain Kartika.Jujur ia bahagia karena mendapatkan pembelaan dari anak Angkatnya.tapi ia juga merasa Iba.
"Istigfar sayang"Ucap Mahreen pada Kartika.
Mahreen mendekat,mengelus pelan Jari-jari Kartika,Kartika mendongak.Matanya Merah penuh Amarah,Sangat-sangat terlihat anak itu masih memendam Amarah.
" Astagfirullah hal adzim, Astagfirullah hal adzim, Astagfirullah hal adzim, Astagfirullah hal adzim alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaihi." ucapnya yang diikuti oleh Kartika, perlahan air mata Kartika turun.Mahreen memeluk Kartika seraya mengelus punggungnya,Ia terus ber istigfar untuk menenangkan Putri kecilnya.
"Kartika gak suka Bun,Gak suka sama perlakuan kakak-kakak sama Bunda."Ucap Kartika di sela tangisannya.
"Siapa yang suka,Aku juga gak suka kali"Sambung Naya"Tika gak salah,malah kamu Hebat bisa dengan tenang dan ngomong dengan Gamblang sama Kakak-kakak.Kamu Pelindung Kami Tika,Kamu pelindung kami di waktu-waktu mendesak." ucap Naya" jujur aja tadi aku cukup tegang dengan keberadaan kakak-kakak semua" Naya naruh Air di meja, Iya duduk di sebelah bundanya'' kakak-kakak datang dengan amarah, amarah yang seharusnya tak pantas diuapkan pada seorang ibu, amarah yang tidak seharusnya diucapkan secara gamblang, harusnya mereka yang lebih dewasa berpikiran lebih dewasa pula. mereka harusnya mencari tahu dulu apa sih yang terjadi di dalam keluarganya, Kenapa bisa itu terjadi? Kenapa harus jalan yang seperti ini? dan mengapa menjadi seperti ini? harusnya mereka mencari tahu dulu lalu mereka meluruskan itu pada Bunda."
" Bunda juga bangga sama kamu, Terima kasih karena sudah membela Bunda. Bunda bahagia punya kamu dan Naya, kalian adalah harta berharga bunda saat ini. kakak-kakak kalian pun sama berharga bagi Bunda, Jangan benci sama mereka ya karena mau bagaimanapun mereka adalah darah daging Bunda."
" kami hanya kecewa Bun, kami hanya kecewa bukannya benci pada mereka. Memang......
" Tika gak mau bahas itu lagi, Tika mau pulang aja Bun" ucap Kartika melepaskan pelukan dari sang ibu. dia bergegas berdiri" Apakah ada obat pereda sakit kepala? sepertinya nanti Kartika akan sakit kepala Bunda karena tadi ketika menangis" jelasnya" Astagfirullah badanku tegang semua"
" Nanti bunda kasih obat untuk kamu namun sekarang kita langsung aja ke restoran Bunda udah ngerasa laper, Emangnya kalian tidak lapar?"tanya Mahreen pada Kedua anak Gadisnya.
" kalau Naya jelas lapar lah Bun, tadi makan pas waktu istirahat aja itu pun cuma bakso."
" Ya udah Bun Kita makan aja dulu. Dan langsung kita pulang ke apartemen, Aku mau berendam dan nenangin pikiran"
Mahreen mengangguk saat Kartika mengutarakan keinginannya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu jangan Asal bicara sama Bunda,Apalagi menjelek-jelekkan kakak. mau bagaimanapun Kakak adalah anak-anak Bunda sedangkan kita hanya anak-anak yang Bunda asuh, kita bukan anak kandung Bunda Tapi Bunda memperlakukan kita seperti anak-anaknya yang lain. Kamu harus jaga ucapan kamu Nay,jangan sampai Bunda sakit Hati dengan apa yang kita Ucapkan."Ucap Kartika serius saat Mahreen tengah memesan pesanan makanan untuk mereka.
"Tapi aku gak..
"Ikhhh tapi.....
"Gak ada tapi-tapian Naya,Kita harus sadar kita ini siapa."Sela Kartika dengan Nada serius tak terbantahkan.
Naya menunduk saat setelah menatap mata Kartika yang menatapnya tajam dengan tangan di lipat dan punggung bersandar pada sandaran Kursi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
"Mahreen"Panggil seseorang laki-laki.
Mahreen tersenyum saat mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Bagaimana kabarmu?"Tanya Cahyo.
"Baik Cahyo,Ray,Revan"Sapa nya dengan anggukan kepala.
"Hay Mahreen,Alhamdulillah ya kita bisa ketemu disini."Ucap Revan.
"Iya Van,Bagaimana kabar Istri mu dan Si Kembar?"Tanyanya.
Cahyo,Ray dan Revan adalah teman SMA Mahreen.setahu Mahreen Cahyo dan Revan bekerja di Perusahaan ternama sedangkan Rayhan ia tak tau tentang laki-laki berkulit putih pucat tersebut.
"Baik,Si Kembar sedang aktif-aktifnya.bahkan sekarang aku memperkerjakan 3 pengasuh di rumah karena Anak pertama dan kedua juga si kembar sulit di tangani."
"Istri mu masih bekerja?"Tanya Rayhan.
Revan menganggukkan kepalanya saat pertanyaan itu dilontarkan Rayhan.Istri Revan adalah seorang manajer bank ternama.
"Kenapa tidak resign saja seperti istriku."Ucap Cahyo.
"Mungkin Dia adalah seorang istri sekaligus ibu yang ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya iya memutuskan bekerja keluar rumah,untuk membantu perekonomian dalam rumahnya. dia ingin mempersiapkan masa depan yang lebih baik untuk anak-anaknya maka dari itu ia memilih untuk bekerja, sebenarnya mau itu ibu rumah tangga ataupun ibu-ibu yang bekerja semuanya memiliki keinginan dan cita-citanya tersendiri dan juga tujuan masing-masing. gak usah mempertanyakan dan gak usah membanding-bandingkan satu dan yang lainnya.ya karena mereka punya tujuan masing-masing dan kalian harus berpikir positif mungkin dengan cara mereka seperti itu mereka bisa meluapkan emosinya dengan bekerja karena mau bagaimanapun di rumah segala macam permasalahan bermunculan mau itu dari anak, dari suami, orang tua, mertua, tetangga bahkan orang-orang yang ikut bekerja di dalam rumah."
" bukan berarti seorang wanita yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga itu lebih baik karena Nggak semuanya itu lebih baik, yang lebih baik itu adalah seorang wanita yang tahu Bagaimana iya bisa berperilaku baik di dalam rumahnya. saat dia Di luar dia bisa menjadi orang hebat namun saat di dalam rumah dia bisa patuh kepada suaminya. patuh sepatu-patuhnya menjadi seorang istri dan menjadi guru untuk anak-anaknya, guru dalam perilaku, guru dalam mengasihi, Dan juga menjadi sandaran ternyaman bagi anak-anaknya."
" bener banget dan itu yang aku selalu pikirkan" ucap Revan" pernah sekali aku berperilaku buruk dan berkata yang tidak baik.membanding-bandingkan masalah penghasilan dan juga berkata yang buruk tentang wanita yang memutuskan untuk bekerja terus bekerja meskipun di rumah ada anak yang menanti dan membutuhkannya. tapi lama-kelamaan satu dua orang anak hadir di dalam rumah aku merasa penghasilan aku seperti itu mungkin Jika dibagi-bagi dengan pengeluarannya,dengan pengeluaran rumah, dengan pengeluaran anak,mungkin akan pas-pasan tapi dengan istri membantu perekonomianku mungkin kita juga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain,dan anak-anak juga tidak terlantar. dirumah pun ada CCTV yang mengawasi Bagaimana dengan keseharian mereka bersama pengasuh hingga akhirnya sampai sekarang aku udah memiliki anak 4.aku baik-baik aja dengan istri yang keluar rumah bekerja, kami sepakat untuk sesekali menghabiskan waktu bersama anak-anak dan kami pun mengecek anak-anak setiap hari meski dari kejauhan. kami menyayangi anak kami dengan cara kami. Meskipun mungkin anak-anak membutuhkan selain dari materi yang kami hasilkan tapi kami memutuskan untuk memilih jalan ini untuk kebahagiaan mereka Meskipun mungkin sedikit membuat mereka sakit."
" Revan Insya Allah semua akan baik-baik aja, Sabtu Minggu adalah waktu untuk mereka. jangan habiskan waktu kamu dengan nongki-nongki. tapi habiskanlah waktumu dengan anak-anak agar anak-anak tahu jika kedua orang tuanya menyayanginya."
" Thanks Ren, kamu wanita kuat dan kamu juga wanita yang hebat. banyak yang mengagumimu dan jika......
__ADS_1
" Maaf putri-putriku sudah menunggu, dan sepertinya pesananku sudah ada di meja. aku harus segera menyusul anak-anakku, salam untuk keluarga kalian... Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" pamitnya sebelum Revan melanjutkan ucapannya