
"Abang Syam"Panggil Ganis.
Syam menoleh sebentar lalu kembali pada buku gambarnya.
Ganis duduk setelah di acuhkan Putranya."Mama ingin Ada bidadari di keluarga kita,Dirumah Mama.Abang,Mama kesepian ketika orang-orang bisa mengepang rambut dan ber dress couple tapi Mama malah berdress sendirian."Keluh Ganis.
Syam melirik Mama nya.
"Mama boleh minta satu hal."
"Apa"Ucap Syam yang kembali pada Buku gambarnya
"Dede Bayi,Mama harap Abang bisa menerima nya."Syam hanya bisa mengangguk lalu pokus lagi pada apa yang di kerjakan
"Mama jauhin Tante Tania,Abang gak suka?"
Ganis menatap anaknya yang tak beralih dari Buku nya sedikitpun.
"Jangan Tanya lagi Mama"Ucap Anak yang Sudah menginjak Umur 7 tahun itu.Syam memiliki Kepekaan yang sangat hebat,ia juga cukup pintar dan tanggap.Di usianya ia mampu mengalahkan Ayahnya berdebat,bukan hanya itu ia juga sudah bisa bahasa Inggris secara pasih dan sedikit Bahasa Arab,Iya juga menjadi Penghapal yang baik dan penggila matematika seperti Ayahnya.
"Mama gak akan tanya.Mama tau kok alasannya apa,Abang tadi denger percakapannya kan?"
Syam menaruh alat tulisnya lalu menatap Ganis seraya mengangguk.
"Maaf"Lirihnya
Ganis tersenyum,Tangannya terulur untuk mengacak rambutnya"Jangan di ulangi lagi yah."
"Abang tak janji.Mama kenapa orang dewasa ada yang seperti itu?"
"Sayang,manusia memang memiliki pemikiran yang berbeda-beda.Nanti setelah kamu besar akan akan lebih mengerti.Namun Nak pesan Mama jangan pernah membeda-bedakan orang dari segi Ekonomi,Sosial atau dari segi kepintaran.karena Manusia itu istimewa dengan kelebihan dan kekurangan nya masing-masing"
"Aku jadi takut,aku mau jadi anak-anak saja"Ucap Syam
"Nak,gak akan ada yang terus menjadi anak-anak di dunia ini.semuanya akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Upin Ipin bisa kenapa Abang gak bisa?"
Ganis tertawa,ia sadar Syam hanyalah anak kecil.Anak cikal nya yang sangat luar biasa mandiri dan pintar.
"Upin-ipin kan tokoh kartun Bang"Ucap Jansen.
__ADS_1
Ganis dan Syam mentap Jansen yang berjalan ke arah mereka.
Jansen mencium kening Ganis sebelum ikut duduk di sebelah Syam...mereka tengah duduk di samping Vila yang mereka tinggali.Vila ini adalah Vila milik Alm. Pita namun tahun-tahun di mana Vita baru memiliki Mahreen Vila tersebut di jual kepada orang Cina yang memiliki Bangunan sebelahnya,dan 12 tahun lalu Jansen membelinya,Banyak yang berubah dari Vila ini yang dulunya Hanya satu bangunan dan kolam,luas nya lun tak seluas saat ini.
Vila yang memiliki luas cukup besar itu memiliki Satu bangunan Rumah besar dua lantai dengan banyak kamar di dalamnya dan satu rumah kayu yang memiliki Fasilitas Dua kamar,Dapur,Ruang keluarga,Ruang tamu dan Toilet dimana rumah itu menjadi Rumah yang selalu di gunakan Jansen dan Ganis saat disana,karena memiliki halaman yang di tanami rumput Hijau dan beberapa pohon Sawo juga kedongdong belum lagi pintu Dapur yang terhubung langsung dengan Kolam besar yang berisi Banyak ikan Koy besar sembarangnya ada 4 pohon Vinus berjajar dan mereka sekarang tengah menikmati sore hari disana Ganis dan Syam Duduk di sebelah taman samping rumah,disana di sediakan Tempat Duduk dan meja yang cukup besar biasanya jika tengah berkumpul banyak keluarga selalu di adakan Bakar-bakaran disana...
"Aku juga tau"Ucap Syam cepat.Syam tak begitu menyukai Ayah nya sebab ayahnya selalu saja membuatnya kesal.Sebenarnya bukan membuatnya kesal lebih ke terlalu mengarahkannya untuk selalu mengalah dan mengikuti segala arahannya.
"Lalu kalau tau...
"Sudah Pap"Ucap Ganis,Jansen pun seketika Diam
"Kenapa kamu Tak suka dengan Tante Tania dan Om Vinsen."
"Mereka Berisik seperti Papap"Ucapnya dengan terus menggambar tanpa menoleh pada Jansen yang bertanya.
"Heh,Papap tidak berisik ya."
Syam menyimpan alat tulisnya,Lalu menatap Jansen sengit"Itu Papap bertanya yang tidak penting,Mau tau aja urusan orang lain kan itu orang yang tidak memiliki kerjaan."
Sakmat
Jansen diam saat anak nya mengatakan itu,Sungguh di luar dugaanya jika anaknya kembali bisa membalikan perkataan nya.Meski sudah Biasa anaknya seperti itu tapi tetap saja itu membuatnya selalu terkejut.
Ganis tersenyum"Teh manis hangat saja sayang dan jangan lupa Kopi pahit Untuk Papap."
"Papap bisa minta sendiri"
"Syam"Tegur Jansen.
Syam tertawa melihat muka kesal ayahnya,memang seperti itulah anaknya tak begitu takut padanya namun pada Ganis mereka begitu berbeda meski Ganis terkadang keras pada mereka tapi tetap mereka tak ada satupun yang berani membantah.
"Kita ke Gunung besok ya Bang"Ajak Ganis"Kita belum pernah kesana."
Jansen mengangguk"Pagi-pagi ya,sorenya Abang mau ke Alun-alun Dri tadi bertanya tentang bagaimana di Alun-alun Bandung"Jawab Jansen"Sepertinya ia ingin kesana."
"Iya Bang,Terima kasih."
Jansen mengangguk"Soal Anak-anak tadi Papap bilang pada Dri tapi dia malah Minta masuk ke Pesantren Aagim."
"Pesantren?itu bagus Bang."
__ADS_1
"Sayang setuju"
"Jika mereka ingin menimba ilmu di pesantren aku akan mendukang mereka Bang"
"Tapi Abang gak tau yang lain bagaimana?"
"Ya nanti coba tanyakan bagaimana keinginan-keinginannya."
"Sayang tidak keberatan."
"Tidak,sama sekali tidak Bang."Ucap Ganis"Terima kasih sudah menerima mereka
"Keluarga Mu adalah keluarga ku Juga Sayang."
"Papap mana Abang?"Tanya tanya Arsan.
"Abang sedang mengambil Susu dsn meminta membuatkan minum untuk Papap dan Mama pada Mbak."
" Arsan juga mau Susu"Ucapnya.
"Minum Susu jangan Yogurt."Ucap Ganis pada anak nya penggila minuman asam itu.
Arsan mengangguk meski dengan raut wajah kecewa.
"Minum Susu biar Tinggi serti Abang Mu,jangan kalah sama De Ciara dan De Sintia."
Arsan tersenyum lalu mengangguk"Arsan ke mbak dulu"Ucapnya sambil berjalan cepat.Anak nya itu jika Lari di hadapan Ganis pasti akan di tegur karena ia jika lari di rerumputan selalunya tersandung kakinya sendiri dan itu akan membuatnya di tegur oleh sang Ibu.
"Aslan mana ya,Dia belum mendatangi kita seperti ke dua anak kita yang lain"
"Sepertinya Dia main dengan Ciara dan Sintia."
"Hah,Anak itu mau jadi apa dia"
"Jadi juru masak kaya nya."
"Ma...
"Biarkan Saja kita hanya perlu mengarahkan sedikit saja agar mereka Bisa lebih terarah,kita gak perlu mengekang apa yang mereka mau.Jika Kakak Aslan maunya jadi juru masak kita hanya perlu mendukungnya,biarkan saja namun kita juga harus bekali dia dengan ilmu Bisnis agar kedepannya ia bisa mengembangkan apa yang dia mau.semoga saja setelah Dewasa ia bisa memiliki Restoran atau lainnya dengan Ilmu dari ayah nya dan dari Hobi nya."
Jansen mengangguk.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sedikit Informasi Vila yang dimaksud di atas memang benar adanya tempatnya sangat Cantik bikin Author yang pernah kesana merasa betah.dan sekarang katanya akan Dijual kebetulan sodara ada yang kerja disana.