ARAH (Kiblat Cinta)

ARAH (Kiblat Cinta)
42


__ADS_3

Brukk


Ardi terduduk di hadapan Jenazah Azizah yang tadi ia mandikan dan kafani.Orang-orang yang sudah berdiri untuk melaksanakan shalat jenazah menatap Iba pada Ardi,yang terduduk kembali di hadapan Jenazah bayi itu.


"Harusnya bukan ayah menyalatimu nak.namun sebaliknya" Ucap Ardi lirih.


Rahman yang berada tepat di belakang Ardi pun maju dan menepuk Punggung Ardi pelan.


"Biar Aa saja yang imami" Ucap Rahman.Ardi mengangguk lalu di bandtu bangkit oleh Rahman.


"Istigfar Di, kalau kamu begini siapa yang akan menguatkan Pita.Dia lebih rapuh dari pada Mu." Ucap Rahman, Ardi pun mengangguk lalu berdiri di tempat dimana kakak iparnya tadi berdiri.


Kabar sang anak meninggal membuatnya rapuh, sangat rapuh.dia tak sanggup Untuk mengimami shalat Jenazah anaknya yang bahkan belum pernah menjadi makmumnya.


Setelah menyalatkan sang bayi,para tamu yang hadir pun berkumpul dan mengaji bersama sebelum sang Bayi di antarkan ke pekuburan.


"Mandi, ganti baju lalu makanlah dulu." Ucap Santi pada Ardi yang masih setia duduk di hadapan Jenazah sang bayi.Ardi mengangguk seraya bangkit lalu berjalan menunju kamar dimana Pita, Sinta,Mahreen dan anak-anak berada.


Bau Wangi menyeruak di ruangan itu membuat geger semua orang hingga Ardi yang baru selesai berganti pakaian segera keluar menemui Rahman.


"A"


"Subhanalloh Di,ini wangi dari tubuh putrimu" Ucap Rahman seraya menepuk pundak Ardi pelan.


Ardi tersenyum kecil "Ayah Ikhlas nak"


"Harus, Kamu Harus ikhlas Di, Dia adalah tabungan mu di akhirat nanti." Ardi hanya menenggapi Ucapan Rahman dengan senyum kecil.


___________________________


Ardi berjalan dengan menggendong Jenazah sang anak di ikuti para pelayat yang terus bersolawat.Ardi tak menyangka ia akan mengantarkan Putri kecilnya ke peristirahatan terakhirnya, sungguh ini bukan hal yang di inginkan nya.


Kembali Ardi terkulai lemas saat melihat liang lahat kecil itu, ia mengeratkan gendongannya ia tak rela jika harus berpisah dengan putri kecilnya ini.

__ADS_1


Tepukan di pundaknya membuatnya menoleh."Biar Aa saja"Ucap Rahman seraya menengadahkan tangan.Ardi menggeleng ia tak sanggup melakukan hal ini, ini tak ada di setiap pengharapannya pada Ilahi.ia selalu berdo'a semoga semua akan selalu baik-baik saja namun nyatanya ada pase dimana dia harus kehilangan, kehilangan darah dagingnya yang belum sama sekali memanggilnya dengan sebutan 'Ayah',belum menjadi makmumnya dalam sholat, belum bercanda gurau, bermain dengannya seperti Mahreen.


Rahman mengambil Alih sang bayi dari gendongan Ardi setelah Sang Paman mengumandangkan Adzan berganti iqomah dengan posisi bersimpuh di sisi liang lahat.


Air mata Ardi bercucuran kala ia melihat dengan jelas Rahman memasukan Jenazah pada liang lahat lalu menutupnya dengan papan setelahnya di susul oleh beberapa orang menimbunnya dengan tanah.


"Kuat Di, Kamu pasti Kuat" Ucap Rahman menenangkan.


"Sakit A, Ini sakit" Ucap Ardi seraya menepuk-nepuk dadanya.


Sigit dan yang lain yang turut ikut kepemakaman merasa teriris melihat hal itu, mereka pun turut sedih.bayi yang dinanti oleh mereka ternyata lahir sebelum waktunya dan hanya bertahan beberapa jam.


Setelah menaburkan Bunga dan berdo'a Ardi bersama Rahman beranjak meninggalkan Sigit, Alfi dan para remaja yang mengaji disana.


Sore menjelang Sigit yang kurang tidur beberapa hari sebelumnya kembali di sibukan dengan acara pengajian atau tahlilan meninggalnya Bayi Ardi.


Ia pergi ke pasar di temani Auri yang memakasa ikut untuk membeli keperluan juga makanan untuk di suguhkan kepada orang-orang yang ikut tahlil.


"Baru kemarin aku sama Alfi juga teh Pita di sibukan dengan acara bahagia namun sekarang..


"Apa ini teguran karena kita kemarin terlalu bahagia?"


"Husss jangan Suudzon, BerHusnudzon lah"


"Tapi....


" Semua ada alurnya A.Semua ada baik dan Buruknya, Bukan?dan semua itu atas kuasa sang pemilik mahluk yaitu Alloh Subhanahu wata'ala, Aku tau sedihnya di tinggalkan.Ibu dan Ayah ku juga pergi lebih dulu dan Aku menyaksikan kepergian mereka,sakit banget."Ucapnya seraya memegangi dadanya"tapi semua manusia akan berakhir tak bernyawa, bukan?kita semua akan berpulang menghadap sang khalik dan berpulangnya kita kita gak tau sedang apa, posisi bagaimana, dan dimana.Semua sudah tertulis dihari apa kita lahir dan hari apa pula kita kembali.Kita manusia gak perlu banyak teori dan ini itu, cukup ibadah dan lakukan dengan sebaik mungkin."


Sigit menghentikan mobinya di lapang dekat Rumah."Aku masih gak ikhlas."


"Jangan memberatkan Azizah A, Azizah sudah ada di tempat yang sebaik baiknya.Aa boleh menangis, sedih namun Aa gak boleh meratap kasihan Azizah ia juga butuh ketenangan dan kelapangan Agar supaya jalannya tak di beratkan.Aku yakin Aa kuat, bukan hanya Aa yang terluka Teh Pita dan A Ardi pun sama.bahkan mereka lebih terluka namun Aa lihatkan betapa tegarnya Teh Pita, Aa juga harus sama seperti itu.jangan buat Teh Pita dan A Ardi terus bersedih masih ada Mahreen yang membutuhkan kasih sayang." Ucapnya seraya membuka pintu mobil "Aku panggil orang dulu.


Sigit memejamkan matanya,ia membenarkan semua apa yang di Ucap Auri.Wanita yang jauh lebih muda darinya namun memiliki sifat Tegas, Ceria dan memilki pemikiran Dewasa.kagum satu kata yang menggambarkan sosok Auri.

__ADS_1


Sigit pun beranjak dan berjalan mengikuti Auri yang baru ia tau ternyata Auri seorang yang memiliki sifat Tomboy terlihat dengan jelas dari pakaiannya akhir-akhir ini meski memang ia tak lepas hijab.seperti hari ini meski tengah datang ke tempat berkabung tapi ia berpakaian layaknya model.berbaju kaos Hitam di padukan dengan Auter kotak-kotak abu tua, celana jeans hitam, Kerudung Hitam yang di ikat kebelakang dan yang paling mencolok adalah sepatu boots nya.tadi saat sampai pun ia menggegerkan pemuda kampung karena ia datang menggunakan motor sport edisi terbaru berwarna merah bersama kakaknya Jesi yang berpakaian 180ยฐ berbeda jauh dari Auri.


" Istirahatlah, Biar A Arif dan A Dian yabg mengangkut makanan"Ucap Dewi pada Sigit.


"Gak papa"


"Iya gak papa.makanlah dek, ajak Auri."


Sigitpun tersenyum lalu berjalan masuk kedalam rumah.Pemandangan yang masih sama, Ruli sahabat Kakak iparnya masih histeris, bahkan sampai beberapa kali pingsan.


"Ruli, Jangan seperti ini kasihan anak ku" Ucap Pita seraya memeluk Ruli."Aku juga sedih tapi ini sudah takdir dari Alloh Rul, Ikhlasin Anak ku Rul."


"Sayang, Semua mahluk hidup di dunia ia akan meninggal kamu harus ingat itu.jangan seperti ini,istigfar sayang" Ucap Widi dengan posisi memeluk Pita dan Ruli bersamaan.


Pemandangan itu jelas membuat orang salah paham namun itu sudah sering terjadi dan Sigit tau jelas kenapa itu terjadi.Sigit pernah dengar jika kakak iparnya hidup terlunta-lunta dan hanya bersama mereka ia bisa sampai sesukses saat ini.Dan hanya mereka lah yang selalu rutin berkunjung dan memberi perhatian bukan orang tua kandung kakaknya.


Bahkan saat Duka datang pada keluarga kakaknya itupun tak ada satupun keluarga Pita yang datang hanya Ruli dan Widi lah yang selalu ada dan selalu hadir tak pernah absen baik itu keadaan suka ataulun duka seperti saat ini.


Sigit kadang merasa Aneh Kakak iparnya itu memiki kehidupan seperti apa dulunya hingga ia merasa kakak iparnya itu telah di buang oleh keluarganya mengingat semenjak menikah dengan kakaknya, Kakak iparnya itu hanya satu kali di tengok oleh keluarganya dan itu bukan Ayah maupun Ibu dari kakak iparnya itu melainkan Paman, Bibi dan juga Utinya yang satu tahun lalu meninggal.


๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™


...Awalnya mau besok Up,tapi gak jadi deng hehe jadinya di majuin๐Ÿ˜gak papa kan?...


...hohoho Author mau nanya nihhhh baiknya tetap kisah .....


...Cinta Ardi dan Pita...


...Atau...


...Sigit dan Auri...


...Siapa yang setuju Sigit sama Auri hayooohhhhhh...

__ADS_1


...pokoknya di tunggu like dan komennya๐Ÿ˜...


Papay semua๐Ÿค— jaga selalu kesehatan ya๐Ÿ˜„


__ADS_2