
Di sepanjang perjalanan Mahreen menceritakan tentang dirinya begitupun Hakim
"Itu gerbangnya"Tunjuk mahreen "Abang memang ada-ada saja pantas tadi mbak Mahreen marah."Ucap Mahreen setelah turun.
"Abang kamu yang memiliki ini?"
"Iya,Dia pemilik Vila ini."
"Waw,saya jadi insecure"
"Kenapa?karena Kaya?"Mahreen tersenyum lembut,Hakim mengangguk pelan ada Sisi di gendongannya."Harta,tahta dan Jabatan itu hanyalah sebuah alibi.Semua milik Alloh kita manusia hanya di titipi,besar kecinya akan di pertanyakan.saya gak mau kaya hanya yang saya mau cukup,tapi Alloh berkehendak lain.lalu apa yang harus saya lakukan,hanya menerima dan bersyukur dengan apa yang ada karena yaaa itulah yang harus di lakukan manusia."
"Saya meski belajar banyak dari Ibu."
"Saya tidak sebaik dan sebijak itu,saya hanya mengcopy apa yang pernah saya dengar.Dan lagi Bapak juga tadi lihat seberapa ke kanak-kanakan nya saya."Mahreen tertawa pelan,tawa yang begitu menawan.Hakim pun ikut tertawa mengingat kejailan wanita di depannya.
"Kakak"Seru seseorang.Mahreen menghentikan tawanya lalu menatap siapa yang memanggilnya.Ada Arsa disana bersama Khadijah.Mahreen tersenyum lalu mengajak Hakim melanjutkan berjalan kearah mereka.
"Masya'alloh Kakak ku yang Cantik ini"Ucap Khadijah,Wanita berniqob hitam itu memeluk kakaknya setelah mencium tangan kakaknya tanda hormatnya pada sang kakak.
"Berapa bulan Utun?"
"Udah 5 bulan kak,sekarang lagi pingin me time sama Wawa nya"Serunya seraya tertawa pelan.
"Ok ok bisa di atur."Ucap Mahreen."Sa"
"Kenapa gak naik Bus?tau kan batasan seorang perempuan?"Ucap Arsa to the poin.
"Maafin kakak"Ucap Mahreen lirih.
"Kamu?"Arsa menatap Hakim dingin suara beratnya membuat siapa saja merasa takut.
"Maafkan saya,tadi anak saya tidur jadi Ibu Mahreen memangkunya dan ikut dengan saya."
Arsa menatap Kakaknya"Kak,Dia calon kakak?Kalau iya Kalian harus segera menikah,kalau dia tak serius kakak gak usah dekat-dekat dengan dia."Ucapnya.
Fatiah datang lalu memeluk Mahreen dan melayangkan tatapan tajam pada suaminya.setelah itu tersenyum hangat pada Hakim.
"Pak Hakim bagaimana kabarnya?"Tanya Fatiah pada Hakim setelah meyalami dan memeluk Mahreen sekilas.
"Kamu kenal?"
"Beliau anak pak Rustam tetangga kita."Arsa mengangguk.
"Alhamdulillah baik"
__ADS_1
"Oalah Sisi tidur,Ayo pasti pegal.kita masuk kedalam dan mengobrol disana."Ucap Fatiah.
Mereka pun mengangguk begitupun hakim.
Rumah besar menjadi tujuan mereka semua,Syam yang duduk di ruang kelaurga pun beranjak pergi keluar.
"Mbak buatkan teh untuk kita semua,jangan kopi karena tak baik untuk kesehatan."
Mahreen tertawa seraya mengacungkan jempol pada Adik iparnya."Sudah terlalu banyak kopi pada tubuh mu Bang"Ucapnya lalu berlalu duduk diantara Ganis dan Khadijah.
"Selalu saja seperti itu kalian"Dengus Jansen yang duduk di Singgle sofa bersebelahan dengan Arsa."Zio bawa anak Pak Hakim main,kasih Susu dan jangan buat dia menangis."
Zio mengangguk"Baik Om Papap,Ayo Sisi sini sama kakak main"Ajak Zio Sisi pun mengangguk berjalan dengan wajah bantalnya.
"Kalau sama aku pasti protes dan bicara panjang lebar,katanya kalau gak ada kopi kaya pengen mati"Keluh Ganis.
"Biarin aja dia mati."Jawab Mahreen
"Mbak tuh Cantik Mbak,badan top gak ada kurang nya,kalau dia mati kamu jadi Wanita kaya,dan bisa Dapetin Brondong.ehhhh krenyes-krenyes Mbak"Ucap Fatiah.
"Iya ya,ya kenapa aku gak kepikiran kesana.kan......
Tuk
Jansen melempar topinya pada Istri yang belum menyelesaikan pembicaraannya.
"Sayang ku,Kopi obat ngantuk buat Papap."
"Oh gitu"Ganis melempar senyum devilnya"Nanti Malem tidur di kuar ya Pap bareng anak-anak"
Suara tawa pun menggema setelah Ganis berkata seperti itu.
"Kicep kau Bang,Mana di Vila dinginnya sampe nusuk-nusuk"Ucap Arsa dengan tawa kerasnya.
"Kalau Ada Bang Sigit habis di bully Bang."
"Hadeh Sayang-sayang"Ucap Jansen seraya beranjak,ia bangun lalu berjalan kearah sang istri duduk bersimpuh di hadapannya"Maaf,jangan marah gak baik bukan kesehatan"
"Ngerayu"
"Harus"Jawab Jansen seraya tersenyum
"Oke,Bakarin ikan nanti buat makan malam dan ikannya harus abang yang ambil sendiri."Jansen mengangguk. lalu kembali beranjak ia sudah kemabali tenang tapi ,ketenangannya langsung menghilang
"Nanti aku mau me time sama Khadijah,ada yang mau ikut."
__ADS_1
"Aku ikut,kita tidur di kamar utama"Seru Ganis riang dan di angguki Mahreen.
Mahreen tersenyum mengejek ke arah Jansen,senang sekali ia menjahili Abang nya itu.
"Pokoknya Para Ciwi-ciwi harus kumpul,biar para bapak-bapak ngurusin anak-anak."Ucap Fatiah.
"Sayang kamu ikut?"tanya Arsa.
"Ya ialah,Wajib itu."
"Sesekali lah Bang,Dan lagi kita gak ada temen tidur"Ucap Khadijah.
"Sadis kalian"Seru Vinsen.
"Tania mana?"tanya Mahreen
"Tidur,Mabuk dia."
"EH....acara apa nih ngumpul gini?"tanya Vinsen seraya mengesap teh yang tersaji di hadapannya."Kamu yang tadi kan?"Hakim mengangguk"Kapan kalian nikah?Sekarang aja mumpung ngumpul"
Puk
Aww
Jidak Vinsen tertimpuk saat Mahreen melempar Topi milik Jansen.
"Sakit Princess"
"Rasain"Dengus Mahreen."Maaf Pak,beginilah keluarga saya sedikit mengejutkan."
"Tapi ada benarnya apa yang di ucapkan Vinsen"Seru Arsa.
"Gak usah aneh-aneh deh Dek"Ucap Mahreen meninggikan suaranya"Dengarkan aku sekejapa,Aku dan Pak Hakim tak ada apa-apa.aku kenal beliau belum lama jadi jangan banyak bicara dan bicara sepentingnya saja"
"Kami melakukan ini karena peduli kak"
"Khem"
atensi semua mengarah pada Hakim yang beedehem cukup keras.
"Pertama-tama saya meminta maaf karena tanpa izin kalian semua saya membawa Ibu Mahreen pergi bermain bersama anak saya.dan memang hanya ingin mengenal satu sama lain"
"Berarti kamu tak serius dengan kakak ku?"
"Tidak seperti itu.Saya tak akan memaksakan kehendak."
__ADS_1
"Tapi di ijinkan saya ingin berta'aruf dengan beliau"
"Mau kah kamu menikah dengan saya?"