
"Zio,Titip adek dulu ya.Papa harus kedepan dulu katanya ada tamu"Pinta Gifari.Zio mengangguk lalu berjalan kearah Gifari yang menunggunya di balik pintu.
ceklek
"Kenapa gak masuk aja?"Tanya Zio.
"Gak bisa buka pintunya Susah"Ucap Gifari seraya menyerahkan Baby kecil yang tengah menggeliat mencari kenyamanan.
Zio terkekeh melihat eksfresi adiknya yang baru 4bulan itu,lucu sangat lucu.
"Pa,emang ada siapa di depan?"tanya Zio
"Ada Om Alex sama Om Vinsen."
"Oh duda duda keren toh yang dateng."
Gifari tersenyum miring lalu mengelus pundak Zio"Jangan gitu,jaga bicaranya ya.meski pun itu kebenarannya tapi tetap tak baik dan tak enak di dengar."
Zio cengir seraya mengangguk.Ia sangat suka cara Papa nya menegurnya,selalu dengan kata-kata lembut,tidak pernah ada bentakan bahkan ia tak pernah sekalipun mendengar Papa tirinya berkata kasar atau meninggikan suara padanya atau pun bundanya.ia bersyukur bisa memiliki Papa lagi yang lebih baik dari sebelumnya.ia ingat dulu ketika Ayah kandungnya masih ada ia selalu dapat bentakan karena melakukan kesalahan bahkan untuk dekat pun ia takut dengan Ayahnya namun sekarang ia bebas bereksfresi dan bebas berpendapat karena ayahnya sekarang tak banyak menuntutnya hanya selalu mengingatkan atas kewajibannya.
Shalat,hal yang menurut orang sepele bisa di lakukan di mana saja,tapi bagi Papanya sekarang adalah hal yang sangat wajib di kerjakan jama'ah.Satu setengah tahun ia bersama dengan Papa tirinya ia selalu di giring kemesjid untuk shalat berjama'ah meninggalkan Bunda nya shalat di rumah.
"Papa temui dulu ya,kamu ke taman belakang atau ke kamar Zia."
"Oke Pa"Jawab Zio lalu beranjak pergi ke kamar Zia.kamar Princess yang di buat oleh Papap Jansen.
Jansen sama Eksaited nya dengan Zio saat tau Mahreen hamil anak perempuan,dengan ke adaan Jansen di luar Negri Jansen mengirimkan begitu banyak hadiah dan jadilah Zio sebagai tukang mendesign kamar adiknya meski ia harus berburu dengan waktu.sebab hanya dalam waktu beberapa minggu ia harus selesai mengerjakannya karena Ia akan mengadakan Camping,sedangkan Bunda nya sudah hamil tua dan benar saja dua hari ia berangkat Bundanya mengabari jika Baby Zia sudah lahir.
__ADS_1
"Cepat besar ya kesayangan Aa"Ucap Zio.
"Gemosh baget sih kamu dek,Masya'alloh."
Zio meletakan adiknya dengan hati-hati di kasur tempat ibunya mengASIhi adiknya,adiknya sekarang tengah tidur.menggeliat-geliat lucu mencari kenyamanan dengan mata sedikit terbuka.
Zio tidur di sebelah adiknya dengan tangan mengepuk-ngepuk pelan di bagian kaki yang tertutup selimbut.
Ia tak menyangka akan memiliki adik kecil secantik ini,dan Ia juga tak menyangka jika perlakuan Papa tirinya tidak berubah sama sekali.masih tetap menyayanginya dan memperhatikannya,ia bersyukur karena Papa nya sekarang bisa menjadi Papa,Sahabat dan Juga teman.bahkan Papa nya sekarang bisa merangkap menjadi seorang guru.
Ia tak menyangka Papanya begitu bisa membuat nya nyaman,senyaman saat dulu ia kenal dengan Satu dosen yang menginginkan Bundanya.
Ia tak tau sebab apa hingga ia di suruh mengemasi barang dan tinggal di Rumah Pamannya bahkan bundanya pun turut ikut.
Sedikit kesal karena tak jadi menjodohkan Bundanya pada Om Dosen,Namun sekali lagi Zio bersyukur dan ia sadar Jika Alloh membuat seorang jauh mungkin ada hal yang tak baik dan Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik,ya lebih baik seperti Papa nya saat ini.
Zio tertidur bersisian dengan Adik kecilnya.
"Aa mau teh?"
"Biar Aa saja,Teteh duduk di kursi ini."Ucapnya lalu menyeret kursi sedikit agar bisa membuat Mahreen nyaman duduk.
Mahreen tersenyum"Terima kasih"
"Sama-sama sayang"Jawab Gifari dengan tangan mengelus Pipi Putih Mahreen.
Perlakuan manis itu tak pernah tidak Mahreen dapat kan setiap Harinya dari sosok suami yang lembut dan penyayang itu.jikapun ada masalah Sosok Gifari tak pernah meninggikan suara ia hanya akan duduk atau langsung membaringkan diri dan berkata "Pikirkan dulu baru kita bicara"
__ADS_1
Mahreen sadar jika suaminya tak mau menyakiti hati istrinya,ia benar-benar ingin menjaga keharmonisan dalam keluarga.Mahreen pernah mendengar jika suaminya tempramen dan tegas namun nyatanya sekarang sangat jauh berbeda dari apa yang ia dengar.
Sosok Suami seperti Gifari yang selalu lembut,bijak dan sabar,tak pernah sekalipun ia mendengar nada tingginya ia bahkan membiarkan nya berlaku sesuka hati,hingga kelakuannya dulu hampir melenyapkan nyawa anak bungsunya.
Ia ingat saat ia marah pada Gifari yang bilang"Jika pun Aa gak di beri keturunan,Aa gak masalah karena Aa memiliki kamu dan Zio." setelah di pikir-pikir oleh Mahreen suami nya tak salah sedikit pun ia hanya berpendapat,tapi saat itu Mahreen menganggap jika suaminya tak mau keturunan dari nya.Sungguh pemikiran macam apa itu hingga ia marah,murka pada suami nya dan meninggalkan suami berserta Zio pergi ke kota Jakarta dan tinggal di sana.
Satu hari ia jauh dari Zio dan suaminya ia merasa ada yang hilang di dirinya,saat akan menghubungi suaminya ia malah lebih dulu kecelakaan dan di larikan kerumah sakit.
Pendarahan hebat ia rasakan,Ia adalah seorang dokter tapi ia tak merasakan kehadiran bayi kecil di rahimnya
Ya saat kejadian itu Mahreen tengah hamil 9minggu.saat itu tak ada yang aneh dari diri Mahreen,Mahreen tak merasakan mual atau ngidam sama sekali hanya emosinya saja yang kadang Naik turun.
Sesal itulah yang di rasakan Mahreen ketika ia marah pada suaminya.Suaminya datang menguatkan dan meminta maaf padanya,sedangkan yang salah disini adalah dirinya.
Dirinya yang sudah merasa benar sedangkan kebenarannya adalah salah,kebenarannya hanya emosi semata dan keegoisan.
"Banyakin istigfar sayang jangan melamun"Ucapan lembut serta usapan pada Pipinya membuat Mahreen tersadar dari lamunannya.
Ia tersenyum pada Gifari yang menatapnya khawatir.
"Aku ngelamun ya?"Tanya Mahreen,Gifari mengangguk"Aku gak kenapa-kenapa"
"Beneran?"
"Enggak sayang,Aku hanya berpikir.Amal baik apa sih yang membuat aku bisa memiliki suami sebaik dan sesabar kamu?"
Gifari menghela nafas menatap istrinya yang melempar senyum manis padanya ia juga menyadari hal itu tapi memang entah kenapa ia tak ingin sedikitpun melukai Istri nya juga Zio.
__ADS_1
Mereka berdua seperti memberi kehidupan baru untuk dirinya yang hidup sebatang kara,apa lagi saat Alloh kabulkan do'anya.Do'a yang menurutnya mustahil tapi ternyata Alloh ijabah.
"Jangan di pikirkan,Itu Rahasia Alloh"Kata itu adalah penutup percakapannya sebelum Zio berteriak karena adiknya buang air.