
Rafael menggeram marah kala melihat cctv sekolah dimana Arcell sedang di cegat oleh Marcell, rahangnya mengeras ingin sekali membunuh Marcell saat ini juga, anak buah yang di tugaskannya juga tak terlihat di sekitar parkiran itu.
...Bodyguard 1 (calling)...
^^^“DIMANA LO ANJ!”^^^
“Kita sedang di mobil tuan”
^^^“Dimana! Tidak ada mobil kalian!”^^^
“Di depan gerbang tuan”
^^^“Bego! Istri ku sedang di cegat!!”^^^
^^^“Segera susul istri ku!!!”^^^
^^^“untuk kedua kalinya kalian lalai”^^^
...Panggilan berakhir...
Panggilan pertama dari Rafael saat di parkiran tadi,
...Bodyguard 1 (calling)...
^^^“BODOH!!! ^^^
^^^“Dimana Queen!”^^^
^^^“GUE PENGGAL KEPALA LO LIAT AJA!!”^^^
“Marcell membawa nyonya
ke daerah hutan rimbun”
^^^“Ikuti terus! Jangan sampai^^^
^^^Kehilangan jejak!”^^^
“Baik tuan”
...Panggilan berakhir...
Rafael sedang dalam perjalanan pulang dari Sulawesi percayalah emosi dan aura membunuhnya sedari tadi bergejolak ingin sekali mengeksekusi orang.
“Cell jangan sampe kamu kenapa-kenapa!!” Rafael masuk ke dalam mobil dirinya harus segera menemui Arcell.
Semua keluarga Arcell panik mendengar cerita dari Alde, bahkan Fara sempat pingsan mendengar ucapan Alde.
“Cari keberadaan cucu ku! Segera!!!” Titah Grandpa ke anak buahnya
__ADS_1
“Ya Allah hikss kenapa!! Kenapa selalu putri ku hikss” tangis Fara dalam pelukan Nico
Alde menuju kamarnya, didalam kamar Alde mengamuk menghancurkan barang-barang yang ada. Dirinya merasa bersalah karna terlalu lama di jalan.
Di waktu yang sama....
Gio dan anggota Zervanos berpencar mencari keberadaan Arcell juga mobil milik Marcell yang sempat terekam cctv,
“Lo sama gue Gi” pinta Haikal yang langsung di angguki Gio
“Pencar!! Kabar apapun yang di dapat langsung beritahu yang lain di grub chat!” Teriak Gio
Mereka semua gabungan dari Zervanos dan Elang, bahkan sekarang sudah malam hampir tengah malam.
...🌑🌑🌑...
“Sudah papa bilang nurut jangan jadi anak durhaka!”
“Kamu ini bandel banget jadi anak!”
“Gara-gara kamu saya bangkrut!!!”
...BRAKKKKKKK...
Marcell menghancurkan semua barang-barang yang ada di gudang tersebut, ternyata gudang ini milik Marcell yang berada di pedalaman hutan entah untuk apa gudang tersebut tapi di lihat dari manapun banyak benda tajam bergantung di dinding ruangan tak terlalu banyak tapi mengerikan juga kalau Marcell menggila.
Arcell masih tak sadarkan badannya terikat di kursi seragam sekolahnya banyak darah akibat mimisannya, Mata bodyguard Rafael membulat kala mengintip dan melihat keadaan Arcell.
“Kita gak bisa langsung dobrak takut ada orang lain yang membantunya”
“Trobos aja! Dari pada kita yang mati mengenaskan di tangan Tuan! Kita punya pistol!”
“Apa tidak apa-apa kita membunuh Marcell?”
“Pikirkan nanti yang penting nyonya dulu!” Mereka mengangguk
Keduanya mengendap-endap masuk ke dalam hanya ada satu pencahayaan dimana itu mengarah ke arah Arcell yang di ikat di kursi. Tanpa pikir panjang mereka langsung menembak Marcell.
...DOOORRRR...
...DOOORRRR...
...DOOORRRR...
tiga tembakan langsung ke dada Marcell mereka menunggu beberapa detik kalau saja ada orang lain di dekat situ, setelah memastikan tak ada siapapun mereka langsung masuk dan melepaskan ikatan di tubuh Arcell.
“Nyonya!”
“Nyonya sadarlah nyonya!”
__ADS_1
“Nyonya bangun” mata Arcell perlahan terbuka wajahnya sangat pucat dan badannya sangat panas.
“Nyonya bertahanlah kita akan ke rumah sakit segera!”
“Sa kit” rintih Arcell suaranya sangat kecil
“Nyonya bertahanlah sebentar”
Keduanya segera membawa Arcell ke rumah sakit milik keluarga Smith butuh waktu dua jam untuk menuju RS tersebut. Rafael tak dapat di hubungi karna sedang dalam pesawat.
Setiba di Rumah sakit,
Arcell langsung di bawa ke UGD mereka berdua tampak khawatir mau itu dengan nyonya mereka atau nyawa mereka sendiri.Kelaurga Arcell belum ada yang tau tentang keadaan Arcell saat ini bahkan Rafael pun belum.
Jam 03.00 dini hari,
Rafael langsung menuju rumah sakit sesaat pesawat mendarat dirinya langsung di kabari dan sekarang dirinya sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Dimana Queen!” Tanya Rafael seraya berteriak
Para perawat dan staff lain di rumah sakit tau siapa Rafael bahkan sifat arogan dan sadisnya sangat mereka tau. Rafael tipikal orang tak bisa di sentuh oleh siapapun.
“Nyonya di ruang VVIP tuan” Rafael berlari menuju ruangan tersebut, Ada sekitar lima belas pengawal yang ikut berlari mengikuti Rafael tentu itu bodyguard khusus.
...CLIKKK...
pelan sangat pelan Rafael membuka pintu agar tidak mengganggu gadisnya. Di lihatnya Arcell yang terbaring dengan infus bahkan selang oksigen agar membantunya bernafas.
“I'm sorry bbygirl” ucapnya seraya mengecup kening Arcell
“Eum, El” mata Arcell perlahan terbuka
“Sttt jangan ngomong dulu ya cantik, istirahat aku di sini” Arcell mengangguk kecil
Saat Arcell sudah kembali tertidur, Rafael mencari kedua pengawal yang bertugas menjaga Arcell.
“Dimana tua bangka itu!”
“Kami membunuhnya tuan, maaf” ucap keduanya
“Bagus! Kalian ku ampuni tak ada lagi kesempatan jika lalai lagi” Mereka bernafas lega saat Rafael kembali ke dalam.
Baru di tinggal berapa menit Arcell sudah kembali bangun dan duduk juga melepas selang oksigennya. Rafael yang melihat itu panik tentunya.
...🖤 **JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN 🖤...
APAKAH INI PENGHUJUNG NYA?
END?
__ADS_1
APA SAD END**?