
Sepulang sekolah Raga memaksa untuk mengantarkan Arcell dan ingin berbicara dengan Arcell perihal mereka yang mulai jarang bertemu dan berinteraksi bahkan seperti asing.
“Gue bilang El dulu” baru saja Arcell ingin menghubungi Rafael ternyata di depan gerang sudah terlihat cowo dengan kacamata hitam style kantor senada di tambah dasi yang sengaja di longgarkan.
“Lo pulang sama gue Cell” Arcell mengangguk.
“Iya tapi gue bilang dulu Ga”
“Masuk ke mobil dulu! Kita ke depan sama-sama!”Arcell menghela nafas panjang.
Untungnya Rafael ini tipikal cowo yang tak masalah jika Arcell dekat dengan cowo atau berteman dengan cowo asal tidak melebihi batas dan juga kalian ingat kan? Rafael hacker yang dengan mudah meretas apapun.
“El” Arcell turun dari mobil Raga dan menghampiri Rafael.
“Raga ngajak aku pulang bareng sama ada yang mau di omongin gapapa kan?”
“Gue pinjem Arcell bentaran! Gue sahabatnya ada yang penting mau gue bahas” jujur Raga yang juga menekankan kata Sahabat.
“Boleh ya?” Tanya Arcell.
“Iya boleh tapi jangan terlalu malam ya pulangnya?”
“Kamu besok kan berangkat?” Rafael mengangguk.
“Aku ikut sampe bandara”
“Kan sekolah gimana?”
“Sekolah punya daddy jadi gapapa” Rafael mengacak-acak rambut Arcell gemas.
“Titip calon bini gue! Lecet dikit kepala lo pindah ke kaki” ancam Rafael
“Calon bini calon bini. Ngomong noh sama batu” ujar Raga.
Raga hanya tau Arcell dan Rafael dekat maka itu Raga berkata seperti itu, tidak tau saja kalau keduanya sudah saling tukar cincin walau belum sah.
Mereka berpisah di depan gerbang. Raga entah kemana mengajak Arcell yang pasti arah bukit biasa mereka datangi.
“Beli ice cream dulu dong” pinta Arcell.
“Jangan ice cream! Lo udah makan ice cream tadi di sekolah”
“Ngeselin iih!!”
__ADS_1
“Nurut Cell!”
“Nirit cill”
“Heh! Gue lelepin juga lu!”
Mereka singgah di minimarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa cemilan. Arcell membeli banyak cemilan juga ice cream Raga hanya bisa menghela nafas.
“Minta di banting ni bocah” ujar Raga.
“Stt mumpu gratis jadi sekalian”
“Mumpung-mumpung!” Arcell hanya terkekeh.
Toh Raga tak melarangnya juga hanya lemes saja mulutnya ke ibu-ibu cerewet depan gang. Setelah membeli cemilan mereka langsung menuju puncak bukit tempat dimana mereka biasa menenangkan pikiran atau berdamai jika sedang bertengkar.
“Cell”
“Hmm?”
“Lo ngerasa gak kita renggang” Arcell yang makan kripik langsung berhenti makan.
“Hmm ya gue ngarasa ko”
“Ga”
“Kenapa?”
“Jangan melow-melow dong gue kan mau nangis jadinya” Raga yang sedari tadi menatap hamparan kota yang berada di bawah sana langsung melirik Arcell.
Air mata Arcell menetes begitu saja belum lagi bibirnya yang di manyun-manyunkan semakin membuat Raga gemas.
“Kenapa hmm? Ko nangis” Arcell semakin menangis.
“Gue juga hikss gue juga ngerasa kita makin jauh hikss hikss tapi gue tau hikss gue diam karna hikss lo lagi jaga Naya hiks” Raga langsung memeluk Arcell.
“Cell lo tau kan? Gue sama Naya gak bisa di paksakan cinta gue dan dia terlarang” Arcell mengangguk.
“Gue minta maaf hikss gak bisa jaga Naya hikss buat lo gak bisa hikss”
“Kenapa minta maaf hmm??”
“Udah hukum alam nya gitu Cell, walau perasaan gue sama Naya sama kita gak bisa di paksakan untuk bersatu selain sahabat gak lebih” tangis Arcell semakin menjadi.
__ADS_1
“Berhenti nangisnya” titah Raga.
“Gak bisa tau hikss ni mata hikss mau nangis sendiri gak hiks gak di suruh!!” Raga terkekeh.
“Jangan sering-sering sama Rafael ya? Biarpun gue cuman sahabat lo gue juga bisa cemburu Cell, bahkan Alde Aldo juga kemarin curhat dia karna lo sama Rafael mulu!”
Arcell tak mendnegarkan dengan jelas namun dirinya menghitung berapa kata yang di ucapkan Raga saat bicara.
“Apa Ga gue gak denger ulangin” Raga menghela Nafasnya panjang.
“Gue lempar juga lo dari sini” ancam Raga saking gemasnya.
Posisi mereka masih sama, Raga yang memeluk Arcell dan Arcell yang bersender tak peduli dengan tatapan orang toh sekarang puncak serasa milik mereka sendiri.
“Hehe iya enggak lagi deh”
“Rafael orang Korea?” Arcell mengangguk.
“Makan yuk gue laper” ajak Raga.
Mereka pun kembali ke parkiran jam sudah malam karna di puncak itu seperti taman maka masih terang karna cahaya lampu.
Keduanya menuju restoran dekat situ, dulu saat smp mereka sering ke tempat ini bersama hanya untuk makan di angkringan kaki puncak.
“Eh neng aden lama gak ke sini kemana aja?”
“Sibuk sekolah bu makanya baru bisa ke sini” ucap Arcell.
“Kaya biasa kan makannya?” Keduanya mengangguk.
“Masih sering ada yang ganggu jualan nya bu?” Tanya Raga.
“Gak ada den, oh iya para pedagang lain juga nitip ucapan makasih berkat aden dan neng gak ada tukang palak sama di bubarin satpol pp lagi”
“Sama-sama bu”
...**🖤 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN 🖤...
...Y...
...Y...
PAJAK JANGAN LUPA**!
__ADS_1