
“Hoammm!!” Arcell merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.
“Abis ulangan, liburkan ya? Mau ajak oma ke makkah si rencananya insyallah” gumam nya sendirian di kamar.
Arcell sebenarnya banyak pikiran entah tentang kesehatannya dan orang-orang yang dirinya sayangi. Penyakit Arcell memang tak bisa sembuh sepenuhnya namun Arcell terus berusaha agar dirinya bisa sembuh.
Tak bisa tidur insomnianya kembali lagi membuat dirinya susah untuk tidur bahkan sekarang sudah menunjukkan pukul 01.35 dini hari.
Arcell bangun dari tidurnya berjalan menuju balkon kamarnya, duduk di pinggir pagar balkon seraya mengayun-ayunkan kakinya.
“Kadang cape si pura-pura baik-baik aja di depan orang padahal lagi nahan sakit dan beban yang berat banget”
“Mau nyerah juga gak mungkin bisa, tiang yang roboh gak cuman satu dan itu buat gue gak bisa nyerah gitu aja” Arcell terus bergumam sendiri sesekali dirinya menghela nafas sambil menatap ke langit gelap.
“Mereka egois maksa gue bertahan buat gak ninggalin mereka, tapi mereka gak tau sakit dan beban yang gue tanggung itu berat. Tapi ya gimana konsekuensi gue idup ya itu” Arcell terkekeh habis berucap.
Percayalah Alde yang berada di kamar samping Arcell mendengarkan percakapan adiknya sendiri karna memang Alde belum tidur mengerjakan tugas kuliahnya saat sedang membereskan barang-barang dan ingin kembali tidur tiba-tuba dirinya mendengar suara.
Suara itu sangat dirinya kenali, ya suara sang adik yang terdengar sangat rapuh sekali. Sedari awal Alde mendengarkan pembicaraan sendiri Arcell itu dadanya sakit sesak mendengar setiap tutur kata Arcell.
“Its okay Cell, lo cuman harus berusaha baik dan percaya umur lo bakal panjang. Jangan bikin orang-orang yang sayang sama lo kecewa itu aja” Arcell mengelap air matanya yang sedari tadi mengalir.
“Uhukk-uhukkk” Arcell menutup mulutnya.
“Uhukkk-uhukkk-uhukkk” Arcell merasakan basah di telapk tangannya.
Ya itu darah, selama ini memang Arcell sudah minum obat tentu itu berpengaruh tapi tidak selamanya bukan? Penyakit itu tetap ada cuman orang lain mengira kalau Arcell mulai sembuh karna tak pernah kambuh lagi. Tapi nyatanya Arcell menyembunyikan penyakitnya itu di depan orang lain.
“Lebih banyak dari kemarin” gumamnya setelah itu masuk ke dalam untuk membersihkan telapak tangannya.
...Click...
Pintu balkon Arcell kembali tertutup..
Di kamar Alde? Alde menangis dalam diam dirinya benar-benar merasa tidak becus menjadi abang, memukul dinding kamarnya melampiaskan sesak di dadanya.
“Maafin abang Cell hiks”
...🌑🌑🌑...
“MORNING SEMUANYA HOW KABAR ALL” Teriak Arcell.
“Jangan teriak-teriak ka” tegur Nico.
“Hehehe maaf dad”
__ADS_1
“Arcell gak sarapan ya, soalnya mau ke Shouse bentaran buat cek Naya”
“makan roti sama abisin susu nya dulu” ujar Fara.
“Okey Mommy” Arcell duduk memakan roti dan susu untuk sarapan paginya.
“Oh iya, Arcell nanti pulangnya ke rumah oma ya? Tidur di sana”
“Tian ikut ya?” Ujar Tian.
“Tian di rumah aja nemenin Azell okey?” Tian mengangguk.
Lima menit kemudian setelah menyelesaikan acara sarapan nya Arcell langsung berpamitan pergi, dirinya akan ke Shouse sesuai ucapannya.
Setiba di Shouse,
Naya sudah bangun dirinya duduk menonton tv, perut Naya sudah semakin besar apalagi Naya sering nyemil.
“Nyemil tros kasian ponakan gue” ujar Arcell.
“Ngagetin aja lo!”
“Gue bolehin lo ke German, tapi nunggu anak lo udah lahir”
“To the point banget si Cell, gak ada basa-basinya” Arcell terkekeh.
“Apa tuh?”
“Gak sekarang ntaran aja” Naya hanya mengangguk.
“Gimana ulangan lo?”
“Cukup mudah”
“Sombong amat”
“Lo yakin gak mau pertimbangin buat nerima Raga?” Naya menghela nafas panjang.
“Cell, lo tau kan hubungan gue sama dia gak bisa mulus semulus muka lo! Gue sama Raga cukup jadi sahabat aja udah cukup”
“Yaudah iya deh bumil selalu benar” keduanya terkekeh,
Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 7 Arcell pun berpamitan berangkat sekolah, Naya mengantarkan sampai depan pintu.
Shouse ini sangat ketat walau di lihat seperti tak ada yang menjaga tapi percayalah banyak pengawal bayangan di sekitar shouse yang di tugaskan oleh Rafael sesuai permintaan Arcell.
__ADS_1
Arcell mengendarai mobil dengan kecepatan sedang karna memang jalanan sedikit ramai untung tidak macet.
“Uhukkk! Uhukk!”
“Pake pusing segala lagi” ujarnya namun tetap mencoba fokus mengendarai mobil.
Sudah tak jauh lagi dirinya tiba di sekolah, nafas Arcell sedikit sesak pengap dirinya mencoba sebisa mungkin bertahan agar tidak oleng.
Setiba di parkiran sekolah, bell masuk sudah berbunyi namun Arcell masih menenangkan diri di dalam mobil.
...Ting...
...Raga👿(chat)...
“Lo dimana?”
“Jangan bilang lo bolos?”
“Cell”
^^^“Di parkiran”^^^
“Ngapain? Buruan ntar pengawas masuk!”
^^^“Gak bisa nafas!”^^^
“Hah?”
“Jangan bercanda!”
“Arcella!!”
“P”
“Cella!!”
“Laa!!”
“P”
...**🖤 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN 🖤...
GAIS BISA GAK AKU MINTA KALIAN BUAT KOMENTAR TENTANG PENDAPAT KALIAN?
BUAT CERITA-CERITA AKU? ATAU SARAN KEDEPANNYA CERITA INI GITU?
__ADS_1
SOALNYA KADANG AKU GAK DAPAT ATAU GAK PUNYA BAYANGAN BAYANGAN BUAT LANJUTIN CERITA NYA**.