
Kini keempatnya berada di taman bermain untungnya cuaca sedikit mendung, Azell berlarian ke sana sini tentu nya dalam oengawasan ketat.
“Udah cocok ya Cell” ujar Rafael,
“Cocok apa El?”
“Gapapa, kamu haus gak?” Tanya Rafael senyam-senyum.
“Haus”
“Kamu sama anak-anak tunggu sini aku beliin minum dulu” Arcell mengangguk lalu sedetik kemudian dirinya baru sadar dengan ucapan Rafael,
Anak-anak katanya? Ah El bisa saja membuat Arcell baper, Septian dan Azell sedang main pancing-pancingan.
“Mau ke zoo aja gak bang?” Tanya Arcell ke Septian,
Arcell membiasakan diri untuk memanggil dek atau bang agar Azell juga terbiasa.
“Boleh ka Tian mau liat gajah” Arcell mengangguk.
“Uwaaaaaa pat kann wuaaaahh” Azell berteriak-teriak senang.
“Minum dulu” Rafael membelikan boba karna di mall tadi mereka tak sempat minum boba.
“Abang mau?” Tanya El yang langsung di angguki Tian,
“Zell au ga bang”
“Dikit aja ya? Nanti batuk di marahin mommy” Azell mengangguk.
Keduanya kembali menjadi perhatian karna ya tadi wajah mereka yang tampan dan cantik belum lagi adik-adik mereka Tian dan Azell yang wajahnya juga sangat tampan dan cantik bak dewa dewi.
“Mba nikah muda ya?” Arcell loading dulu karna tak mendengar jelas sedangkan Rafael langsung menyahut.
“Iya mba”
“Wahh selamat ya langgeng sampe mau memisahkn mas”
“Amin makasih mba”
Pipi Arcell langsung memerah kala sadar kalau sedang membahas ke arah mana, dan dengan santainya Rafael berkata iya? Memang keturunan darah biru satu ini tak hanya cuek juga terlalu santai dan pede.
__ADS_1
Setelah lelah mereka menuju Zoo atau kebun binatang, tentunya mereka tak jalan kaki melainkan naik mobil dan mobilnya di setir oleh supir karna Rafael malas.
Untungnya mobil Rafael ini bisa di jadikan untuk penumpang dua orang dan tiga orang jadi Septian juga duduk di kursi penumpang.
Azell di pangku Rafael padahal Arcell ingin memangku adiknya namun Rafael tak membiarkan dengan alasan nanti kecapean.
“Beli makanan binatangnya” titah Rafael ke anak buahnya.
Setelah hampir dua kresek besar makanan itu di masukkan ke dalam mobil. Septian berganti duduk di depan karna ingin memberi makan juga katanya.
“Nanti ada singa gak ka?”
“Ada bang, makanya nanti hati-hati ya” Septian mengangguk.
“Azell mam dulu ya?” Tanya Rafael
“Mam Zell mam” Arcell membuatkan bubur untuk Azell .
Sambil menikmati perjalanan di kebun binatang Arcell sambil memberi makan Azell yang berada di pangkuan Rafael.
“Kunci pintunya takut di buka binatangnya” titah Arcell ke supir.
Septian dan Azell sangat senang terlihat dari wajah mereka yang sedari tadi tersenyum Rafael juga ikut tersenyum senang.
Azell sudah tidur lagi di dekapan Rafael terlihat nyaman dan damai tidur Azell membuat mereka semua tak berani membangunkan adik kecil itu.
“Makasih” ujar El
“Untuk?”
“Semuanya”
“Makasih juga”
“Pulangnya ke rumah oma dulu, jemput oma ya?” Rafael mengangguk.
Orang tuanya ternyata keluar kota untuk beberapa hari selain acara rekan bisnis juga ada pekerjaan dan Arcell tak mungkin membawa Azell ke sekolah dan tak mungkin meninggalkan Azell dengan septian saja di rumah.
Walau ada twins tapi mereka juga kuliah dan kerja akan sangat pusing maka itu Arcell meminta tolong dengan oma untuk membantu menjaga Azell.
...🌑🌑🌑...
__ADS_1
“Gio” Gio tetap melanjutkan jalannya.
Nabila semakin menggila mendekati Gio sampai ada yang bertatapan atau berbicara dengan Gio sebentar langsung jadi bahan bully Nabila.
“Cell” panggil Gio,
Arcell yang bersama dengan Gina teman sekelasnya juga langsung menoleh kala Gio memanggilnya.
“Kenapa?” Gio mengodekan lewat matanya namun Arcell tak paham biasa dalam mode lemot si Arcell.
“Gosah dekat-dekat dia!!” Nabila menarik Gio yang mana langsung membuat Arcell paham.
“Santai dong mata lo! Kek mo lepas aja apa perlu gue bantu lepasin?” Tanya Arcell kala mata Nabila menatap tajam dirinya.
“Jangan kegatelan sama Gio deh!”
“Bukannya lo yang gatel sama temen gue? Lo gratisan apa murahan?” Nabila mengepalkan tangannya.
“Cell bentar lagi perpus di tutup ayo” ajak Gina.
“Ayo Gi kalo lo sama si gatel ini ntar nilai lo anjlok!!” Arcell menarik Gio.
...PLAKKKKK...
“Apa-apaan si pegang-pegang Gio!!” Untung hanya lengan Arcell yang di pukul jika wajah sudah habis tu orang.
Tangan Arcell yang putih jadilah tercetak merah di lengan yang di pukul Nabila tadi. Sial menurut Arcell belum lagi dirinya nanti di jemput Rafael bisa-bisa Rafael berceramah ayat panjang.
“Liat aja lo!” Ucap Arcell lalu menarik Gio meninggalkan tempat Nabila berdiri.
Di dalam perpus,
Raga menatap Arcell sedari tadi tak lepas entah kenapa Raga merasa mereka berdu seperti renggang dan mulai menjauh.
“Cell”
“Hmm?”
“Gue mau ngomong serius”
...🖤 **JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN 🖤...
__ADS_1
MAAF Y**