
'*Berita terbaru hari ini! Tuan Dong Fi resmi di tangkap oleh pihak kepolisian setelah melakukan upacara pemakaman putrinya a*tas tuduhan pembunuhan terhadap istrinya sendiri, mendiang Nyonya Fi Shuang yang telah tewas beberapa hari lalu!'
"Apa?" sekarang mata Zhe Ruan terbelalak tatkala mendapat berita menggemparkan selanjutnya yang dia dapat.
"Dia sudah tertangkap! Arkh!! mengapa hidupku begitu sial? Pria itu, dia bahkan tidak bisa lagi membantu aku menjatuhkan Lishian! semua rencana yang sudah aku susun selama puluhan tahun, semuanya harus gagal! semuanya harus hancur!!" sekarang wanita itu terduduk di atas lantai yang dingin.
Seluruh tubuhnya mendadak berubah menjadi kering dan tidak terawat. Seolah dia telah kehilangan berpuluh-puluh nyawa dalam pertarungan kali ini, tapi nyatanya nasib baik tidak memihak padanya.
Hiks hiks hiks!!
Tangisnya lirih, namun menyiratkan beragam perasaan yang tidak dapat di mengerti.
Antara sedih, namun juga puas akan semua yang terjadi padanya.
Lihat saja!!
Wanita itu bahkan sekarang hanya bisa merangkak, tidak mampu untuk bangkit, apa lagi berjalan dengan tegak!
Ambisi, dan seluruh nafsunya telah membuat Zhe Ruan harus kehilangan segala-galanya. Entahlah!
Mungkin ini yang di maksud, Tuhan selalu adil dalam memberikan ganjaran yang sesuai untuk manusia.
Tak terkecuali Zhe Ruan!
"Hahahaha....."
Sekarang wanita itu telah berubah!
Selalu tertawa dan tertawa, bermimpi seolah semua harta mendiang Li Shanshan memang akan segera menjadi miliknya.
Hanya saja...
Apa dia benar tertawa bahagia karena hal itu?
Sedangkan dia sudah tidak punya tangan lagi sebagai pengait kala dia tengah membutuhkan sebuah dukungan.
Yu Huo telah tewas!
Dong Fi di penjara!
Dan mungkin juga, putranya juga sudah tiada!
Itu hanya kemungkinan kecil, tes kecocokan antara jasad pelaku bom bunuh diri nyatanya belum terbuka!
Siapa pelakunya, sesungguhnya masih tidak di ketahui dengan jelas!
Yang pasti, siapapun pelakunya, dia telah berlaku bodoh, hingga harus menggunakan nyawanya untuk balas dendam!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Akhirnya, kamu telah sembuh.."
__ADS_1
Arliyana menopang tubuh Lishian dan mendudukkan sang calon suami di sebuah kursi roda.
Brukk!
"Ugh! maaf, ya, telah merepotkan kamu, aku ingin segera keluar dari sini, supaya aku bisa kembali menjaga kamu seperti dulu.." Ucap Lishian, yang kemudian di lanjutkan dengan senyuman manis khas miliknya.
Tak tak tak tak tak tak!
"Arliyana!!" datang dari arah belakang.
Hap!!
Memeluk tanpa aba-aba.
"Mira? kau menyusul kami kesini?" masih dalam pelukan sang sahabat.
Namun secara perlahan, Mira malah melepas pelukan rindu mereka. Kali ini Arliyana harus tahu apa yang sedang di cemaskan oleh sang sahabat.
"Apa yang kamu lakukan? kamu pikir kamu bisa apa tanpa aku dan suamiku!? hah??" ucap Mira dengan kesal.
"A? ada apa memangnya?" hanya terdiam bingung.
"Apa kamu tidak ingat kalau aku juga harus mendapat peran di sisi kamu saat kamu sedang berada dalam masalah seperti ini, kamu pikir aku akan tega melihat kamu sendirian di sini mengurus calon suami kamu yang kelewat jahat ini??" menyindir pedas.
Yang di sindir, hanya memanyunkan bibi setengah centi.
"Tentu saja! memangnya tidak boleh? dia kan juga akan menikah dan menjadi istriku di masa depan!" menggerutu.
"Apa kamu?? mau merepotkan sahabatku terus? hahh!!??" mendadak bak macan kumbang.
"Aku tidak tahu kalau kamu juga bisa semarah ini!" ucap Arliyana sambil tersenyum memperlihatkan gigi-gigi miliknya yang tersusun dengan rapi.
"Kau ini! punya calon suami bisanya cuma merepotkan saja! Arliyana, kalau dia tidak bisa bangun siang ini, aku akan menjodohkan kamu dengan Tuan Goyuan!!" sekarang wajah Mira semakin terlihat ketus.
"Apa? kenapa harus Goyuan?" tanya Lishian dengan nada penuh rasa cemburu.
"Kenapa harus Goyuan katamu? tentu saja dia! mana mungkin suamiku Ellon, atau Shuimo yang gendut itu? aku tidak akan pernah membiarkan Arliyana milikku jatuh ke tangan pria gendut seperti Shuimo!" jelas Mira mulai memancing keributan.
"Lalu kenapa kau tidak merestui aku saja?" sekarang sang pria terlihat semakin kesal.
"Hehe.." Yang di tengah-tengah keduanya nampak tidak bisa melerai, dan hanya diam seribu bahasa.
"Kamu pikir kamu yang manja akan membuat Arliyana tenang dalam menjalani kehidupan di masa depan begitu?!" berkacak pinggang.
"Aku pikir iya!" sorot mata yang sangat tajam.
"Tidak! dia akan kerepotan mengurus dirimu yang tua ini!!" berbalas menatap dengan tajam.
"Eh! kalian..." mencoba melerai, meski hasilnya zonk!
"Dasar pria tua!!" semakin jelas mengejek.
__ADS_1
"Dasar gadis poni!!" Lishian berbalas ejekan dengan Mira yang juga tidak mau mengalah.
"Ah?" menyadari sesuatu, "Tuan Ellon, apa anda sudah tiba sejak tadi?" tanya Arliyana mencoba mendekati Ellon, suami Mira.
"Ada apa ini?" si Ellon hanya terlihat bingung saja.
"A?" dua orang di sana menoleh.
"Ellon? katanya kamu mau ke kamar mandi?" tanya Mira mencoba mengalihkan perhatian.
"Huhh! apa aku harus menggunakan waktuku berjam-jam untuk sekedar buang air kecil saja?" tanya Ellon sambil menggapai tangan Mira ke dalam dekapannya.
Untunglah orang ini datang!
Arliyana tersenyum manis, dan mulai beralih pada pria tua di kursi roda.
"Baiklah! Tuan Ellon, karena kamu sudah tiba, maka aku pasrahkan Mira padamu, ya.. aku akan mengajak calon suami aku untuk jalan-jalan di luar rumah sakit sebentar." Ucap Arliyana sambil terus menebarkan senyuman manis miliknya.
"Baiklah!" jawab Ellon singkat saja.
Dengan bergegas Arliyana mendorong kursi roda yang di duduki oleh Lishian, menuju arah luar rumah sakit.
"Aku curiga kamu melakukan sesuatu pada anak itu!" ucap Ellon dengan wajah datar.
"A? tidak juga! aku hanya mengingatkan dia kalau Arliyana yang sedang hamil tidak boleh mengurus dirinya yang duduk di kursi roda seperti itu, bukankah Lishian sungguh sangat manja?" jelas Mira tanpa ekspresi.
"Aku tahu! jadi apa kamu juga bisa memperhatikan aku saja?" menoleh ke arah wajah sang istri, dan membersitkan senyuman tipisnya.
"Dasar tukang cemburuan!!" sekarang mereka juga terlihat bercanda dan saling menggoda satu sama lain.
Kriett!!
Kursi roda di berhentikan di taman rumah sakit, dan sekarang Arliyana terduduk di depan Lishian.
"Jangan jongkok begitu, aku tidak mau kamu membahayakan bayi kecilku!" namun tangan Lishian terlebih dulu meraih Arliyana dengan cepat.
"A?" bingung, "lalu aku harus bagaimana? tidak ada tempat duduk di sekitar sini!" ( melihat situasi sekeliling ).
"Apa kamu lupa, kalau suami kamu ini punya paha yang empuk dan kokoh!"
"Suami? aku bahkan belum di nikahi oleh seorang pria seperti kamu!"
"Hanya saja, kamu sudah hamil anakku, jadi apa bedanya sekarang?"
"Hamilku di luar nikah! apa kamu sungguh tidak sadar apa bedanya?"
"Dasar anak tidak tahu diri!!"
Menarik!
Brukk!
__ADS_1
"Ah?"
💕💕💕💕💕💕💕💕💕