
Entah apa yang terjadi di hari itu.
Wajah Lishian yang hanya datar-datar saja saat Liyana mulai menapaki kakinya di anak tangga, dan kemudian turun dengan tas kecil miliknya mulai meninggalkan rumah itu.
Yu Huo dan Zhe Ruan masih belum juga kembali. Itu artinya, tidak akan ada orang yang tahu kemana arah kepergian Liyana.
Meski dia terlihat begitu diam, tapi sejujurnya Lishian amatlah peduli pada gadis kecil miliknya itu. Hanya saja, gadis itu telah menciptakan jarak antara mereka berdua tanpa di sadari.
Kini yang ada di antara keduanya hanyalah, tirai pembatas yang membentang seluas samudera Atlantik. Keduanya saling diam, pun saling bersikap acuh tak acuh.
Tak tak tak tak tak tak..
Meskipun langkah kakinya tidak pernah terhenti, tapi hatinya entah mengapa mendadak saja merasa mati. Ada sesuatu yang dia rasa hilang di sini. Apa mungkin pria itu?
Arkh!!
Arliyana... Bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya? Apa kamu pergi karena memang kamu ingin pergi? Atau kamu pergi hanya karena gengsi?
Dia sesekali melirik sang tuan yang tetap saja terfokus pada sebatang rokok di sela-sela jarinya.
Pria itu bahkan tidak melirik Arliyana sedikitpun. Kejam sekali bukan?
Apa dia sungguh akan membiarkan aku pergi dari sisinya?
Sudah bisa di pastikan bukan, kalau Arliyana pun masih ragu akan pilihannya sendiri. Tentu saja dia tidak bisa menjauh dari pria yang sebenarnya telah lama mengisi hatinya itu.
Hanya saja, apa mungkin dia berani untuk tersungkur di depan Lishian, dan bersujud meminta maaf pada pria itu?
Cihh!!
Murahan sekali..
Jadi wanita harus kuat, masa demi cinta mau di jatuhkan harga dirinya begitu. Lebih baik kalau sementara waktu, menjauh dulu dari pria arogan itu.
Buat pria itu sadar, dan buat dia bertekuk lutut padamu lagi. Bukankah itu solusi yang sangat tepat?
Huhh!!
Akhirnya sudah bisa di putuskan. Kini langkahnya tambah di percepat. Dia dengan yakin dan bertekad bulat akhirnya memilih untuk mencari uang lima ratus juta untuk membayar sisa hutangnya pada Lishian.
Dia akan meninggalkan Lishian dan sejuta kisah kehidupan rumit dari pria kaya itu. Dia sudah tidak peduli lagi apakah dia bisa membuka tabir kematian ayahnya atau tidak. Yang jelas, dia tidak lagi punya keinginan untuk kembali pada Lishian dengan menjatuhkan harga diri.
Seseorang membukakan pintu rumah, lalu beralih ke pintu mobil. Orang itu tentu saja Qian. Siapa lagi kalau bukan pengawal setia Lishian itu.
"Maaf, nona.. Kalau saya boleh tahu, apa yang terjadi antara nona dengan tuan, apa kalian sedang bertengkar?" Ucap pria itu saking geramnya pada tingkah laku Lishian dan Liyana.
"Anda tidak perlu tahu, hanya saja, mungkin setelah ini, saya tidak akan bertemu dengan anda lagi." Liyana mengambil ponselnya dari dalam tas, dan mulai memainkannya.
__ADS_1
Melihat gadis polos di belakang sudah mengacuhkan dirinya, membuat Qian memutuskan untuk diam dan tidak lagi bertanya.
Dia tidak mau mencampuri urusan orang-orang ini lebih dalam. Sejujurnya, dia merasa bersalah karena sudah banyak bertanya pada Arliyana barusan.
"Oh iya.. Taun Qian.." Tapi panggilan Arliyana membuat dia terpaksa harus mengakhiri diamnya.
"Iya, kenapa nona? Apa anda membutuhkan bantuan?" Tanya Qian terus terang.
"Tidak apa-apa, hanya saja, aku mungkin harus mengingatkan anda tentang suatu hal.." Sekarang dia malah mematikan ponsel di tangannya.
"Katakan saja padaku." Ucap Qian meyakinkan Arliyana.
"Bisakah membantu aku untuk menjaga Lishian selagi aku pergi? Aku tidak bisa membiarkan dia dalam bahaya, kapanpun dia butuh liburan, maka pergilah ajak dia berlibur, aku tahu dia tidak pernah menghabiskan hari libur dengan bersenang-senang seperti orang lain." Ucap Liyana dengan wajah yang tidak bisa di mengerti.
"Apa nona memilih untuk meninggalkan tuan Lishian sendirian?"
"Iya.. Mungkin dia perlu waktu untuk sendiri."
Supaya dia bisa sadar... Seberapa besar aku mencintai dia..
Mata Arliyana menatap rintik hujan bercampur badai yang terus saja menghiasi udara di luar mobilnya. Tak terasa air matanya jatuh menetes di pipinya.
Kenapa begitu cepat dia berubah pikiran usai pagi tadi dia begitu percaya atas pilihannya untuk tinggal di sisi Lishian.
Namun sore ini, dia akhirnya memilih untuk pergi dari pria itu. Hanya karena satu pertanyaan yang tidak berhasil di jawab oleh Lishian, lalu kemudian, Arliyana berhasil menghancurkan kebahagiaan hatinya sendiri.
Hidup yang begitu menakutkan!!
Namun secara tiba-tiba...
Ciittttt!!!!??
"A?" Matanya terbelalak dengan sempurna, dan kemudian mencoba menatapi keadaan di sekitarnya.
"Sial!!" Umpat Qian terdengar dengan jelas di telinga Arliyana.
"Tuan Qian, ada apa?" Dia masih belum sadar sepenuhnya.
"Ada seseorang yang mencegat mobil kita. Mungkin orang itu sudah tahu kalau nona memilih pergi dari rumah."
Ada orang yang tahu aku akan pergi dari rumah? Apa mungkin sedari kami semua sampai, sebenarnya kami sudah di awasi?
Benak Liyana bertarung dengan asik.
Sementara, beberapa orang bergaya mafia terlihat mulai mendekat ke arah mobil mereka berdua.
Hanya dengan beberapa langkah saja, mereka sudah berhasil mengepung mereka berdua dari segala arah. Mobil mereka mulai terhimpit oleh kepungan para pria yang jumlahnya sekitar dua puluh orang lebih itu.
__ADS_1
"Tuan Qian, bagaimana ini? Apa kita bisa segera keluar dari mereka?" Tanya Liyana dengan cemas.
"Entahlah, nona. Saya juga tidak bisa memastikan." Sekarang pria itu hanya bisa memilih satu pilihan saja.
Mungkin menghubungi tuannya adalah satu-satunya pilihan yang sangat tepat.
Dia mulai mengutak-atik ponselnya, dan mencari di mana nomor favorit yang dia simpan tersebut.
Nah!!
Akhirnya ketemu juga.
Memencet..
Menunggu respon.
Seberang mengangkat..
"Ada apa menghubungi?"
"Tuan, ada beberapa orang mengepung mobil kami, kami tidak bisa lari dari mereka."
Kata-kata dari mulut Qian berhasil membuat Lishian yang tengah terduduk sembari menikmati masa kehilangannya harus bangun dan mulai beranjak.
"Tunggu aku, segera kirimkan lokasinya.."
"Baik!!"
Qian segera menutup sambungan mereka, dan mulai mengirim lokasi di mana mereka berada, sesuai dengan permintaan sang tuan.
Bam!!!
Mereka mulai bertindak anarkis. Mulai memukul mobil mahal milik tuan Lishian hingga mengalami kerusakan parah.
Mungkin saja mobil mahal itu akan segera ringsek kalau sampai Lishian terlambat sedikit saja.
Bam!!
"Arkh!!" Pekik Arliyana..
"Keluar kamu!!!!" Gertak seseorang berusaha membuat mereka berdua keluar.
Sekarang mobil mereka sudah hampir hancur. Kini yang bisa di jadikan tameng oleh Arliyana dan Qian hanya kaca sebagai pelindung mereka.
Tapi beberapa saat kemudian..
Prang!!!
__ADS_1
"Arkh!!!"
♥️♥️♥️♥️♥️♥️