
"Kalau begitu, kupas dulu lebih dalam, kalau perlu, buat semua bukti jatuh di tangan kita. Selain itu, aku juga ingin kamu menyelidiki bagaimana kehidupan lama tentang Arliyana, dan juga kasus kematian kedua orang tuaku."
"Baik, tuan, saya mengerti.." Jawab Qian, lalu dengan cepatnya pergi meninggalkan Lishian untuk memberi kabar tentang pergerakan selanjutnya, pada anak buahnya.
Pria yang bisa di andalkan!!
Lishian memilih untuk berdiri menatapi langit yang semakin kelam, menandakan kalau malam sudah semakin larut.
Meski begitu, pikirannya sangat kacau. Bukan hanya satu masalah yang dia hadapi sekarang, tapi tiga masalah sekaligus. Ini adalah jalan baginya untuk mengungkap kebenaran tentang masa lalunya. Apa mungkin Tuhan sengaja menakdirkannya untuk menjadi seperti ini?
"Mempunyai aset mahal di luar negeri? Rupanya inilah yang di takutkan Yu Huo dan Zhe Ruan selama ini. Nama di kertas ahli waris itu, sudah atas namaku, hanya saja, belum aku tanda tangani, karena usiaku yang saat itu masih sangat kecil. Aku tahu perjalanan ini begitu sulit. Dan yang membuat kesulitan itu adalah.. Zhe Ruan."
...****************...
"Ugh...." Mulai membuka mata.
Mira mengerjapkan matanya berulang-ulang hanya untuk melihat sosok bayangan di depannya terlihat lebih jelas.
Dan setelah beberapa saat, dia akhirnya bisa melihat pria di depannya lebih jelas. Pria itu sedang duduk termenung dengan sebotol bir di atas meja.
Dia langsung terbangun dari tidurnya.
"Tuan, kenapa kamu belum juga tidur?" Tanyanya dengan kekhawatiran.
"Aku belum ngantuk." Jawab Ellon dengan sangat singkat.
Mendengar jawaban Ellon yang kurang memuaskan, membuat Mira terpaksa mengambil ponsel di dalam tasnya dan melihat jam di sana.
Pukul 02.07.
Sudah dini hari.
Mana mungkin dia tidak ngantuk. Atau mungkin saja.. dia sedang memikirkan sesuatu sampai tidak bisa tidur. Itu mungkin.
Mira memilih untuk berjalan mendekat ke arah pria itu. Meski dia tahu kalau Ellon masih mengacuhkan dirinya, dan bahkan tidak mau menatap wajahnya, tapi dia tetap masih peduli pada kewarasan Ellon.
Duduk!!
"Tuan, apa lagi yang kamu pikirkan? Kenapa sampai tidak tidur semalaman?" Tanya Mira agak cerewet.
Namun pria itu masih saja diam, dan tetap pada posisi yang sama. Mira mulai berpikir kalau pria ini sejujurnya punya masalah khusus di otaknya.
__ADS_1
"Bukankah seharunya kamu senang, karena akhirnya tidak ada lagi yang namanya pernikahan, apa lagi dengan gadis dari seorang pengkhianat seperti aku." Mira mendadak merasa sangat sedih, pun malu pada diri sendiri.
Ellon menyambar bir di botol, dan meminum langsung dari sana, membuat suara tegukan itu terdengar begitu indah.
Gluk!!
Gluk!!
Gluk!!
"Arkh!!"
Begitulah kiranya suara yang di keluarkan Ellon saat menenggak bir miliknya. Sementara Mira hanya bisa terdiam dan menatapi kebodohan apa yang sedang di lakukan oleh tuan ini.
"Apa kamu kira melepaskan kamu artinya masalahku sudah selesai?" Dia bahkan tidak lagi menoleh, "tidak akan pernah selesai!! Semua ini masih permulaan, ayah kamu baru saja di tuduh atas penggelapan uang perusahaan Shi, dan sekarang, aku juga terlibat, dalam penangkapan ayah kamu, meskipun begitu, tuan Dong Fi pasti akan membebaskan ayah kamu, dan kembali melanjutkan rencana mereka selanjutnya, yaitu balas dendam lewat nyawa ayahku.."
Mira hanya menunduk agak terkejut. Dia bahkan tidak pernah menduga kalau ayahnya ternyata komplotan tim kotor milik Dong Fi. Lalu selanjutnya, apa yang harus dia lakukan?
"Lalu, apa rencana kamu?" Tanya Mira dengan polos.
"Aku ingin menjadikan kamu tawanan."
"Awalnya aku memang ingin membebaskan kamu, tapi aku rasa, kamu masih sedikit berguna juga untukku, aku akan menikahi kamu, dan menjadikan kamu tawanan ku.." Jelasnya dengan santai.
Gluk!!
Menenggak bir lagi.
"Dengan begitu, aku masih bisa menjaga ayah aku, dan juga menahan kalau-kalau suatu hari nanti, akan ada serangan balik dari tuan N, maka kamu akan aku jadikan tameng." Ucapnya agak sedikit menyakitkan.
Mira hanya terdiam tidak percaya. Selama berbulan-bulan hidup dengan pria ini, apa Ellon sama sekali tidak tahu, kalau Mira sungguh mencintai dia?
Haruskah Mira mengatakan semuanya dan menyatakan cintanya pada Ellon?
Apa mungkin Ellon juga akan menerima pernyataan cinta darinya itu?
Ellon, sejujurnya, andaikata kamu bilang kalau kamu akan memperistri Mira tanpa adanya alasan yang baru saja kamu sebutkan, Mira pun tidak akan menolak.
Tapi alasan yang kamu katakan itu membuat hati Mira tersayat. Dia butuh waktu untuk menerima setiap kata yang kamu lontarkan padanya malam ini.
...****************...
__ADS_1
Gerald pulang sekitar jam setengah tiga. Meskipun sudah terlalu larut dia kembali, tapi Zhana masih saja tidak bisa tidur. Air matanya bahkan tidak bisa berhenti untuk menetes, menangisi pria baj*ngan yang sangat dia cintai itu.
Brukk!!
Tanpa peduli dengan apapun, Gerald langsung menjatuhkan dirinya di sofa sisi kasur. Sementara Zhana yang sebenarnya menyadari suaminya sudah pulang, hanya diam terisak di atas kasur saja.
Tubuh Zhana di baringkan, tapi otaknya berlari kesana-kemari tidak mau berhenti atau sekedar menuruti perkataannya untuk lupa pada hal yang baru saja terjadi malam ini.
"Hahhh!!!" Entah kenapa Gerald terdengar mengeluh.
Apa pria ini mulai merasa kesal pada diri sendiri? Ataukah pria ini hanya merasa istrinya tidak lagi membuat dirinya senang saat dalam keadaan sehancur ini?
"Zhana.." Panggilnya begitu yakin..
Zhana masih diam tidak menoleh.
Merasa tidak ada reaksi apapun dari Zhana, Gerald nampak geram. Dia membangunkan tubuhnya dan mendekati Zhana. Dia memeluk tubuh Zhana dari belakang, dan mencoba untuk membujuk Zhana dengan caranya..
"Jangan sentuh aku Gerald!!" Menepis tangan Gerald.
Gerald mulai merasa di rendahkan oleh sang istri. Dengan cepat, dia membalikkan tubuh Zhana, dan sekarang, posisi mereka berdua sudah berhadapan.
"Zhana, tatap kedua mataku.." Gerald mengunci Zhana dalam dekapan tangannya.
Sementara gadis itu hanya bisa diam tatkala dua mata suaminya menatap wajahnya begitu dekat. Kali ini, bukan lagi kesan romantis, atau pun menggairahkan.
Tapi yang ada di hatinya hanyalah.. kecewa..
"Apa lagi yang ingin kamu jelaskan? Masih belum cukup memberi aku bukti yang sangat akurat lewat perkataan wanita itu?" Ucapnya dengan marah.
"Aku akan menikahi wanita itu, Fi Chan." Ucapnya tanpa ragu.
JLGERRRRR!!!!!!
Bagai di sambar petir di siang bolong, begitu dahsyatnya ungkapan Gerald di hati Zhana. Sadis!! Ibarat kata, sakit di sayat pisau tidak ada bandingannya di banding sakit akibat di khianati suami sendiri.
Zhana melepas pelukan suaminya, dan beralih menatap wajah itu dengan tajam.
"Aku akan pulang ke rumah ibuku, dengan Shi Lui juga.." Kali ini kata-kata dari mulutnya terdengar begitu mantap.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1