
"Aku sudah punya caraku sendiri, dan kamu, kamu tidak bisa membuat aku mundur Yu Huo. Semua harta warisan Li Shanshan, harus jatuh ke tanganku."
"Tapi menurut aku, kamu tidak akan mendapatkan apapun dari anak itu. Dia punya watak yang licik dan keras. Aku tidak yakin mampu menaklukkan anak itu, kecuali dia sendiri yang menyerahkan semuanya pada kita."
"Tapi itu jelas tidak mungkin! Mana mungkin dia mau menandatangani semuanya? Kamu juga sangat bodoh!"
"Aku tidak sebodoh kamu Zhe Ruan, yang hanya bisa berpikir dangkal dengan menikahkan mereka berdua, lalu dengan syarat Lishian harus menandatangani semua suratnya, hhh.. pikiran macam apa itu, bodoh sekali. Kamu hanya akan membuat Lishian tahu kalau kamu tidak pernah menyayanginya, melainkan menyayangi harta warisannya."
Zhe Ruan terdiam. Jika di pikir-pikir, benar juga perkataan Yu Huo barusan. Begitu bodohnya Zhe Ruan yang hanya berpikir sampai di situ saja. Menyangka kalau Lishian akan tunduk pada seorang wanita. Cihh!! Mana mungkin dia akan tunduk pada wanita. Apa lagi wanita itu selemah Liyana. Begitulah yang melintas di otak Zhe Ruan setelah mendengar pernyataan dari Yu Huo barusan.
"Baiklah, lalu apa rencana kamu selanjutnya?"
"Saat acara pertunangan Yu Shen, kamu juga akan tahu.."
Bip!?
Seseorang selesai merekam seluruh pembicaraan Zhe Ruan dan Yu Huo di kamar pribadi mereka. Untunglah saat mereka berdua masuk, pria itu sudah memposisikan diri supaya tidak terlihat oleh mereka berdua. Dengan begini, dia akhirnya bisa mendapatkan jawaban atas semua teka-tekinya.
...****************...
Cklek.
Liyana terdengar membuka pintu kamarnya.
Krebb!!
Lalu dengan cepat menutup kembali. Sudah pasti dia sangat takut. Ada seorang pria di dalam kamarnya, dan dia bisa saja berulah saat Liyana pergi. Huhh!! Sungguh menyebalkan.
"Kamu sudah kembali?"
"Iya, kenapa? Kamu masih belum pergi juga dari kamarku?"
"Aku ingin sekali pergi, tapi aku tahu kalau kamu pasti akan mencariku dan mencemaskan aku, iya kan."
"Cihh! Mencemaskan pria baj*ngan seperti kamu? Apa tidak salah?"
Mendengar perkataan kasar Liyana padanya membuat dirinya agak panas. Mendadak suasana hatinya yang marah mulai tidak bisa terkontrol. Dia bangkit dari tidur santainya, dan beranjak mendekati gadis di sisi pintu itu dengan wajah sangar.
Liyana tentu saja sangat ketakutan. Pria bertubuh atletis seperti itu, jika memukul dengan tenaga kecil saja pasti sudah membuat dirinya terlempar sampai ke benua Antartika, seperti saat itu, saat dia hampir di lempar ke alam lain.
"Tuan, mau apa.." ( tanyanya ketakutan ).
Sementara pria itu malah semakin mendekat, dan mungkin ingin sekali menghabisi Liyana dengan kedua tangannya.
Liyana mundur, dan berhenti saat kakinya menabrak pintu. Dan ini adalah saatnya Lishian membalas dendam.
"Tuan, jangan macam-macam.."
Lishian mencoba mengurung Liyana dalam tekanan tubuhnya, dan mendorong gadis itu hingga terhimpit.
"Bicara apa kamu barusan?"
__ADS_1
"A? Yang mana?" ( Pura-pura tidak mengerti ).
"Jangan pura-pura lupa, aku bukan orang yang mudah di bodohi."
"Ba-baiklah, tuan, aku minta maaf, tolong jangan pukul aku ya.."
"Coba katakan lagi, apa yang kamu lontarkan beberapa menit yang lalu dengan percaya drinya.."
"Pria.. Ba-baj... aku tidak mau!! Aku tidak bisa!"
"Tadi kamu sangat berinisiatif mengatakannya, mengapa sekarang mendadak tidak bisa?"
"Maaf tuan, aku salah, tolong jangan hukum aku, ya.." ( Memohon bak anak kecil yang merengek ).
Lucu sekali!!
Lishian ingin sekali tertawa saat melihat ekspresi gadis itu merengek. Huhh.. ingin sekali menggerayangi seluruh tubuhnya tanpa ada yang tersisa.
"Hum.. bagaimana kalau.." ( mendekat ).
Dan..
Cup!?
"Ugh..." ( terangsang ).
Sekali lagi dia melakukannya pada Liyana sebagai hukuman. Hukuman karena telah menekan suasana hatinya dengan kata baj*ngan. iya, padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Liyana saat harus menggigit jari karena cinta yang hanya bertepuk sebelah.
Apa masih kurang jelas??
Kalau Liyana.. Jatuh cinta padamu..
"Berikan aku kepuasan di kamarmu ini, semalam aku sudah menahannya karena tidak tega melihatmu tertidur, tapi sekarang, aku memaksamu.."
Dia berucap seperti itu, tapi tangannya entah bergerilya ke arah mana, dia hanya merasakan. Ugh.. Bisakah kalian membayangkan apa yang author sedang bayangkan?
Iya, author halu memang senantiasa seperti itu..
Berlanjut ke dalam cerita asmara mereka.
Lishian menggerakkan salah satu tangannya menyibakkan mini dress yang di kenakan oleh Liyana. Sementara, bibirnya masih setia mem*gut mesra sepasang bibir manis nan indah tersebut. Hingga akhirnya, permainan segera di mulai.
Sebisa mungkin Liyana menahan suaranya yang bisa saja terdengar oleh orang lain seperti yang tadi pagi di katakan oleh salah seorang penghuni asrama. Iya, permainan yang menyenangkan bukan?
...****************...
"Kak Zixin, ada yang ingin aku tanyakan padamu, bisakah kita bertemu malam ini?"
'Oh, maaf, aku sedang tidak ada di rumah, jadi tidak bisa menemui kamu, Gerald, maaf ya.."
"Tapi, ini hanya sebentar saja.."
__ADS_1
"Tapi aku sama sekali tidak punya waktu, maaf sekali, aku benar-benar minta maaf, sudah, ya, aku masih punya banyak urusan."
Bip!?
"Kak Zixin? Kak?"
Gerald menyadari kalau Zixin sudah memutuskan sambungannya, dan mencoba menjauh darinya.
"Sial!! Sepertinya dia sudah tahu semua rahasiaku.."
"Gerald? Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Apa kamu sudah pulang sejak tadi?"
"Zhana? Iya, aku sudah kembali sekitar lima belas menit yang lalu."
"Ada apa denganmu? Apa kamu sakit?"
"Tidak, aku tidak apa-apa, hanya sedikit penat saja."
"Benarkah?"
Pertanyaan itu, entah memang benar atau tidak rasanya membuat hati Gerald merasa kalau Zhana sedang mencurigai dirinya.
"Apa maksud kamu? Aku ini sedang baik, hanya sedikit lelah saja, apa kamu sedang berpikir buruk tentang aku?"
"Apa? Apa yang kamu katakan? Aku saja tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu."
"Arkh!! Sudahlah, aku tidak bisa di ganggu, aku akan tidur!!"
Gerald yang kesal tanpa alasan hanya melarikan diri dari pandangan Zhana dan akhirnya tertidur pulas.
"Ada apa dengan pria itu? Apa dia sedang marah padaku?"
"Zhana, hai.." ( seseorang menyapanya ).
"Oh, Mira? Hai.." ( menoleh dan tersenyum ).
"Apa yang terjadi? Dia kenapa?" ( sadar ), " oh, maaf, aku tidak sengaja mendengar keributan kalian berdua."
"Tidak masalah, dia hanya sedang kelelahan, mungkin ada masalah di kantornya, jangan cemaskan aku.."
"Baiklah, boleh aku bermain dengan Shi Lui yang imut ini.." ( tersenyum pada bayi dalam gendongan Zhana ).
"Tentu saja boleh, tolong jaga dia, ya, aku akan membuatkan makanan untuk Gerald sebentar."
"Baik, kemari sayangku, main, ya, sama bibi.."
Zhana menggendong kan anaknya di pangkuan Mira dengan hati-hati. Bayi berusia sekitar delapan bulan itu hanya tertawa saja saat melihat wajah Mira yang begitu lucu.
Sementara, Zhana mencoba untuk bergerak menuju dapur dengan perasaan yang kacau, dan tidak nyaman.
'Apa yang terjadi pada Gerald?'
__ADS_1