
"Apa tuan tidak ada keinginan untuk pulang?"
Tanya Liyana setelah menyelesaikan permainannya dengan Lishian.
"Apa kamu begitu ingin aku pergi dari sini? Nikmatilah waktu bersamaku di dalam Asrama, aku jarang sekali melakukannya di sini." ( membelai ).
"Tapi aku takut ada yang melihatmu di sini.. Bagiamana kalau aku di hukum?"
"Tidak akan ada yang berani menghukum kamu selain aku."
"Itu katamu, lain lagi kalau orang lain.."
"Besok Yu Shen dan Fi Chan akan bertunangan, ayah dan ibu mengundang kita berdua untuk hadir di sana."
"Oh, jadi, Fi Chan akhirnya menikahi Yu Shen, adik tiri kamu itu, ya, aneh sekali.."
"Dia hamil.."
Cup!?
"Apa??"
Buru-buru menutup mulut.
"Shutt!! Apa kamu tidak bisa biasa saja.." ( kembali membelai ).
"Bukan, maaf, ya.. aku sangat terkejut mendengarnya.."
"Aku tahu, aku juga agak terkejut saat mendengar hal itu pertama kali."
"Tapi yang jelas bukan kamu yang menghamili dia kan?"
"Cihh! Apa menurut kamu aku suka bermain sampai seperti itu?"
"Tapi kamu sudah punya banyak wanita sebelum ada aku, mana mungkin kamu tidak.."
"Tapi tidak ada yang lebih dekat denganku selain kamu.."
Ah, benarkah..
"Kenapa diam!? Tidak yakin?"
"Tentu saja aku tidak yakin, bahkan di rumah itu kamu menyimpan seorang wanita, mana mungkin kamu tidak pernah menyentuh Fi Chan itu.."
"Tapi aku memang tidak pernah menyentuhnya. Kamu cemburu, ya.."
"Tidak!! Buat apa cemburu!! Aku kan hanya wanita bayaran saja.."
Tapi wajah tidak bisa sinkron. Kenapa terus membuat ekspresi cemburu si....
"Aku akan memperkenalkan kamu pada keluargaku, besok."
Memeluk dari belakang.
"Memperkenalkan sebagai apa? Wanita bayaran?"
"Calon tunangan.."
"Apa?? Dasar gila!!"
"Aku memang gila, karena kamu.."
"Untuk apa memperkenalkan aku sebagai tunangan kamu?"
Sejujurnya Liyana benar-benar ingin tahu apa yang akan di jawab oleh Lishian dari pertanyaan yang baru saja dia lontarkan itu.
"Karena aku ingin mencari tahu kebenaran dari masa lalu kita.."
"Oh, hanya itu?"
Mendadak tidak senang.
"Apa hanya itu jawaban kamu?"
"Lalu apa lagi yang harus aku jawab?"
"Apa kamu tidak mau tahu kenapa aku ingin sekali mencari tahu masa lalu kita berdua?"
__ADS_1
"Buat apa? Lebih baik diam dan tunggu kabar darimu saja, aku sungguh tidak lagi peduli."
Liyana dengan cepat melepas pelukan tangan Lishian dan bangkit untuk segera mengenakan pakaiannya kembali.
"Kenapa bangun?"
"Ingin keluar.."
"Kamu marah?"
"Pikir saja sendiri!!!"
Tentu saja dia marah. Lishian ini, kamu ini bodoh atau memang tidak tahu diri si.. bisa-bisanya tidak memahami sifat asli wanita yang sedang di mabuk cinta olehmu.
Huhh!!
Pening aku..
"Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan.."
Puk!! Puk!!
Menepuk kasur yang empuk.
'A? Mau bicara apa dia?"
"Katakan saja sekarang, tidak perlu menyuruhku untuk tidur lagi."
"Aku tidak bisa bicara dengan keras, kemarilah.."
Liyana menuruti pria itu dengan kesal. Seakan ingin sekali membunuh pria tua yang ada di hadapannya dengan sebilah pisau.
"Katakan sekarang!!"
Ucapnya setelah berhasil menduduki kasurnya.
"Aku tahu apa yang kamu mau.."
"A? Kau tahu??'
'Apa dia sebenarnya sudah tahu kalau aku menyukainya? Apa dia akan berkata...'
"Aku pikir kamu......"
Iya......
Sedikit lagi....
Hampir......
"Memikirkan kontrak kita dulu, kan?"
Jlgerr !!!!
Hatinya patah dan tercabik-cabik menjadi beberapa bagian.
Masa iya Lishian jatuh cinta padamu Liyana, yang benar saja..
Bodoh!!
"Oh, tidak.. Aku tidak memikirkan kontrak itu, aku pikir, aku memang sudah di takdirkan menjadi tawanan kamu.." ( jawab Liyana dengan malas ).
"Aku tahu itu, jadi jangan berpura-pura lagi, aku akan menghapus semua kontrak itu, dan memulai semuanya dari awal."
Memulai semuanya dari awal?? Apa maksudnya...
Arkh!! Jangan mengkhayal lagi Liyana, sudah di bilang berkali-kali, kalau dia tidak akan mungkin jatuh cinta padamu.. Masih saja ngeyel!!
"Aku akan membongkar semua rahasia di masa lalu orang tua kita, dan akan membebaskan kamu dari kontrak itu."
"Hanya itu saja kan??" ( hendak bangun ).
Grep!!
"Tunggu!!"
Menoleh dengan malas.
__ADS_1
"Apa lagi?"
"Kamu bebas mau menikahi aku atau tidak, tapi yang jelas, kamu tetap jadi wanitaku, kamu masih punya hutang satu milyar itu, dan harus melunasinya dengan cara menjadi wanitaku selama yang aku mau."
"Aku tahu.. Dan aku juga tidak bisa menolak. Untuk apa memberitahu aku?"
'Lebih baik bagiku untuk menikah denganmu, dari pada jadi wanita yang tidak jelas statusnya seperti ini..'
"Kalau sudah tidak ada lagi yang mau kamu katakan, aku akan pergi."
"Baiklah, belikan aku makanan, ya, seharian di sini, aku hanya melihat camilan anak kecil saj, belikan aku makanan yang agak berat."
"Belilah sendiri.."
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan keluar sekarang..."
"Eits!! Aku hanya bercanda, duduklah diam-diam, dan jangan berpikir untuk keluar saat siang hari, oke?"
"Baik.." ( tersenyum licik ).
Cklek.
Bam!!
"Ssshhhh.. baru satu hari di tempat ini, kupingku rasanya sudah sangat sakit mendengar dia beberapa kali membanting pintu.."
Lishian terdiam, dan kembali mengingat ekspresi Liyana saat mendengar perkataan darinya tadi.
"Aku hanya ingin kamu lebih siap saat menjadi wanitaku kelak.."
Lishian mengambil ponselnya, dan melihat apa ada kabar yang menyebutkan tentang Yu Huo di sana atau tidak.
Ternyata benar ada..
'Tuan, dengarkan rekaman yang sangat panjang ini..'
Lishian menuruti permintaan Qian, dan mendengarkan rekaman dengan durasi hampir sepuluh menit lamanya itu di ponselnya.
Dia terkejut dan sorot matanya sangat tajam, saat mendengar pernyataan yang keluar langsung dari mulut dua orang itu.
"Jadi mereka berdua yang audah memanipulasi berita? Apa yang sebenarnya terjadi padaku dan keluargaku dulu? Aku harus bertanya pada Qian.."
Dia menghubungi Qian kembali dan menanyakan suatu hal.
"Lalu tentang kematian ayah kandungku??"
"Apa kamu sudah mengetahui penyebabnya.."
"Tuan, kami sudah mengumpulkan berita kecelakaan mobil tuan Li Shanshan dan istrinya malam itu, yang kasusnya terpaksa harus di tutup karena tidak jelas apa penyebab pastinya kecelakaan itu.."
"Tidak jelas katamu?"
"Iya, tuan.."
"Cari orang dalam!! Aku ingin segera tahu sebelum acara pertunangan besok."
"Baik, Tuan.."
Bip!!
Lishian menutup sambungan di ponselnya, dan beralih melihat baterai ponsel yang sudah sangat kritis.
Dia memutuskan untuk bangun dan mencari kabel charger milik ponsel Liyana..
"Di mana dia menyimpannya??"
Membuka laci, dan seluruh tempat yang mungkin saja sebagai letak penyimpanan oleh Liyana. Dan.. ketemu!!
"Ini dia, gadis ini menyimpannya dengan sangat baik.."
Tapi saat dia hendak mengambil charger di dalam laci, dia menemukan sebuah hal yang membuatnya terpaksa beralih.
Mengambil sebuah foto..
"Apa ini gadis kecil itu?" ( tersenyum tipis ).
"Dia bahkan sangat manis.."
__ADS_1
Dia pandangi lagi latar belakang foto itu, yang kemudian, menemukan sebuah latar yang sama dengan foto miliknya di ponsel.
"Kenapa dia...."