
Cup !?
Mengecup sekilas kening Liyana. Meskipun matanya tidak bisa berbohong, kalau sebenarnya dia amat merasa bersalah pada gadis itu. Tapi entahlah, mengapa juga masih ada sedikit kecurigaan yang ada di hatinya untuk Liyana dan ayahnya. Apa ini sebuah perasaan yang salah ??
" Jangan sembarangan menciumku, tuan.." ( mendorong Lishian jauh-jauh ), " kau tidak mengerti aku masih marah ?? Apa kamu ini sungguh pria yang luar biasa acuhnya ?? Hhh..."
' Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada sosok pria semacam ini.. begitu bodoh !!'
" Marahi aku, pukul aku jika kamu mau, tapi aku tetap akan mendekati kamu, dan tidak mau mendengar penolakan apapun darimu.." ( mendekat lagi ).
" Kamu ini orang dewasa yang tidak bersikap dewasa sama sekali. Lihatlah!! Tubuh kamu bahkan lebih pantas aku panggil ayah, tapi kamu masih bersikap seenaknya pada gadis muda ini ??"
" Kau yakin aku terlalu tua ?? Bukankah, kamu sendiri selalu kewalahan tiap kali aku sentuh, apa itu yang di sebut tua.." ( lirikan mata menggoda ).
" Jangan menatap aku seperti itu.." ( memalingkan muka ), " aduh.. pipiku sakit.." ( meraba luka ).
Yang di sebelah nampak khawatir. Raut wajahnya bahkan bisa berubah sepersekian detik, menjadi lebih dewasa.
" Sakit ?? Mana yang sakit ?? Sini, aku lihat..." ( meraba pipi Liyana ).
Liyana terpaku. Tangan dan kakinya, bahkan seluruh tubuhnya tidak mampu bergerak, tatkala tangan kekar itu menyentuh area pipinya yang memar. Dengan jarak sedekat itu, tentu saja membuat darahnya berdesir. Huhh.. dia sangat gugup.
" Kenapa ?? Terpesona oleh pria tua ini ??"
Mendengar ucapan Lishian, membuat Liyana sadar akan lamunannya. Dengan secepat mungkin dia mencoba memalingkan muka, bahkan sekaligus badannya. Dia tidak mau terlalu intens dengan pria ini. Hh. Omong kosong !!
" Tidak !! Terpesona padamu ?? Cihh.. aku tidak semurahan itu, lagipula kamu ini terlalu tua untuk gadis seumuranku.."
Lishian nampak tertantang mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Liyana. Dia memutuskan untuk semakin mendekat, dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
Jujur saja, posisi ini adalah yang paling nyaman bagi Liyana..
" Humm.. terlalu tua katamu ??"
Cup !?
Mengecup leher dengan mesra, membuat sentuhan yang begitu menggoda.
__ADS_1
Liyana memejamkan mata. Jujur saja, sentuhan pria ini bahkan jauh lebih menarik dari pada ciuman mesra dari Goyuan petang tadi. Iya, dia terpesona..
" Ugh.. aku tidak mau, ini.. sshh..."
" Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Liyana.."
" Asal jangan menggodaku.."
" Baiklah.." ( hanya memeluk erat ).
Tapi Liyana tahu kalau pria itu sedang menahan gejolak nafsunya yang amat besar. Dia tahu pria ini tidak bisa mengendalikan getaran yang menjalar di seluruh tubuhnya yang panas. Tentu saja karena posisi yang seperti ini.
" Apa kamu tidak akan marah kalau aku mencurigai ayah kamu ??"
" Apa ??"
Tapi saat dia mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Lishian, entah kenapa rasanya seluruh hasrat yang tadinya hampir memakan seluruh tubuhnya, mendadak hilang seketika. Tubuhnya berubah sedingin es. Dia menjauh dari pria itu, dan memilih untuk duduk.
" Apa maksud kamu ??" ( Tanya Liyana menelisik ).
" Apa yang kamu katakan barusan ?? Mencurigai aku dan mendiang ayahku ?? Apa alasan kamu mencurigai kami ??"
" Hhh.. aku juga tidak tahu apa yang aku pikirkan.. mereka yang mengatakan hal itu padaku, sesaat sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi.."
" Mereka siapa ?? Katakan lebih jelas, apa maksud kamu ??"
Lishian tertunduk lesu. Dengan raut muka yang terlihat jelas tidak bisa menyembunyikan kebimbangannya.
" Mereka mengatakan padaku kalau ayah kamu yang sudah curang pada ayahku dan dia juga yang sudah memalsukan bukti-bukti itu, menjadi berbalik menyerang ayah Yu Huo.."
" Apa ?? Lalu semudah itu kamu percaya ?? Dan sekarang kamu malah mencurigai aku ?? Apa itu alasan kamu mengacuhkan aku sejak siang ini ?? Apa kamu sungguh berpikir ayahku yang melakukannya ??"
" Entahlah, aku juga bingung..."
Liyana tidak habis pikir, sudah tahu ayahnya tewas dengan tidak wajar, masih juga ada orang yang menuduh pria mulia itu dengan sebutan penipu. Dan lebih sakitnya lagi, orang itu adalah Lishian..
" Maaf, aku juga tidak tahu mana yang benar.."
__ADS_1
" Jangan tidur di sini..." ( Tidak bergeming ).
" Apa ??"
" Atau aku saja yang keluar, aku memang tidak bisa bersanding dengan kamu, bahkan aku yang terlalu bodoh bisa menantimu selama dua hari hanya untuk mendapat jawaban kalau kamu akan segera memperjelas hubungan kita berdua, hhh.. Liyana, bodohnya kamu yang tidak bisa berkaca diri, bahkan andaikata ayah kamu bukanlah seorang pendosa, lalu apa kedudukanmu di rumah ini ?? Selain hanya pemuas nafsu tuan arogan. Untuk apa bersedih dengan suara kecurigaan yang terlontar dari mulut harimau, aku bahkan lebih percaya pada ayah dan diriku sendiri dari pada dengan tuan.." ( bangkit dari tidurnya ).
" Kamu mau kemana ?"
" Apa pedulimu ?? Bahkan jika aku berkata aku ingin hidup denganmu, kamu pasti akan mempertimbangkannya kembali bukan..."
Liyana mengambil infus di tangannya, dan mencabut paksa. Lishian terbelalak. Rupanya benar dugaannya, kalau ucapan dia memang sudah pasti akan menyakiti hatinya..
" Jangan macam-macam, aku mohon.. kamu belum sepenuhnya pulih. Jangan ceroboh !!"
" Ceroboh !! Bahkan menurut aku, tuan jauh lebih ceroboh dari yang aku lakukan.."
Entah kenapa, suasana malah menjadi semakin panas dan semakin menyulut api kemarahan.
" Apa tuan pernah merasakan apa yang aku rasakan ?? Rasanya harus mengendalikan diri saat berhadapan dengan orang yang paling ayah jauhi dalam hidupnya, rasanya saat kesetiaan dan kepercayaan yang kamu nodai dengan kecurigaan yang aku sendiri tidak tahu kenapa ... Itu cukup membuat aku lebih baik menghilang dari muka bumi."
Liyana menahan darah yang keluar dari lubang bekas suntikan infus di tangannya.
Sementara Lishian nampak tertunduk menyesal. Dengan kesedihan yang tidak bisa dia tutupi, wajah itu bahkan tampak sayu.
Liyana menjadi iba melihat kesedihan yang terlukis dengan jelas itu. Dia mencoba memalingkan muka untuk sekedar menahan rasa iba dan ketidak tegaannya pada pria itu.
" Aku tidak tahu, aku hanya merasa, kalau hidupku dan masa laluku penuh dengan tanda tanya besar, dan menurutku, ayah kamu tahu sesuatu mengenai masa laluku.."
" Apa yang di katakan dua orang itu padamu ??"
" Mereka hanya mengatakan padaku, kalau aku memang bukan anak kandung mereka, aku adalah anak sahabatnya, Li Shanshan, dan ayah kamu.."
" Ayah aku kenapa ??" ( tatapan tajam ).
" Ayah kamu, yang sudah memanipulasi berita.. termasuk data kecurangan yang kita lihat waktu itu, maaf, aku bukan bermaksud mencurigai ayah kamu."
" Huh.. tentu saja akan jadi seperti itu, mana mungkin maling mau ngaku, yang ada ayah dan ibu kamu yang sudah memutar balikkan fakta..."
__ADS_1