
"Iya, aku tahu.. akan aku pikirkan lagi, menurut aku membuat naskah dialog untuk waktu sesingkat itu tidak akan mudah bukan.."
Berguling di atas kasur..
"Bukan karena gajinya terlalu sedikit, hanya saja.. aku sedang sibuk mengejar buku keenam untuk tahun ini, jadi sepertinya tidak ada pilihan lain selain menolak.."
Liyana terlihat sedang asik berbincang dengan seseorang melalui ponselnya. Dia memang sudah berubah jadi gadis yang mandiri dan punya banyak uang setelah menyalurkan bakatnya melalui tulisan.
Dan akhir-akhir ini banyak sekali tawaran membuat naskah dialog untuk drama atau teater. Ceritanya memang mendadak digemari oleh banyak orang, setelah dia mengikuti perlombaan dan berhasil meraih peringkat kedua, ya, meskipun lomba itu lewat online..
"Nanti aku pikirkan lagi, ya.. aku masih sibuk mengetik atau mungkin sebentar lagi aku harus tidur.. hehe..."
Dia terlihat bercanda ria dengan orang di balik ponsel itu. Apakah menurut kalian orang misterius itu adalah seorang pria?
Entahlah..
"Baiklah, selamat malam..."
Dia akhirnya menutup panggilan, dan..
Brug!!
Berbaring di atas ranjang..
"Hahhh.. nikmatnya.. benar-benar tidak bisa menahan kantuk.." hendak memejamkan mata.
Drrrttt Drrrttt
Ponselnya berbunyi lagi. Menyebalkan!!
"Hahh.. siapa lagi ini? Apa dia lagi? Apa dia tidak bosan terus bicara denganku sampai larut malam begini?"
Dia memaksa tangannya untuk meraih ponselnya lagi. Dalam keadaan yang sudah ngantuk berat, dia akhirnya menggesek tombol hijau dalam ponselnya tanpa melihat nomor siapa yang berusaha menghubungi.
Bip!
"Hallo.."
' Halo..'
Liyana membuka matanya lebar-lebar, bahkan sampai membulat sempurna mendengar suara orang itu. Dia membangunkan tubuhnya dan merasa sangat terkejut.
"Kamu!! Kenapa bisa mendapat nomorku??"
' Keluar dari rumah sekarang, atau aku akan mengetuk pintu rumahmu..'
"Apa? Kamu juga mendapat alamat rumahku? Bagaimana bisa?"
' Waktumu hanya lima menit, dan sekarang tinggal empat menit tiga puluh dua detik..'
"Aku tidak peduli!! Tunggu saja sampai pagi, aku tidak akan keluar dari rumah!!"
Bip!!
Liyana mematikan ponselnya dan beralih tidur.
"Apa orang ini ter*ris?"
Tapi tak lama setelah itu..
Tok tok tok
Dia membelalakkan kedua matanya untuk yang kedua kali. Dia mengira pria itu hanya mengancam saja, tapi ternyata..
"Sebentar..."
Ayahnya terdengar menimbali..
"Gawat!! Kalau sampai mereka berdua bertemu...." meringis.
Brak!!!
Dia bergegas membuka pintu kamar dan berlari mendahului ayahnya..
"Biar aku saja yang membukanya ayah, ayah istirahat saja di dalam kamar.."
Ayahnya hanya kebingungan..
__ADS_1
"Cepat! Ayah masuk saja ke dalam.. Biar Liyana yang membuka pintu.."
"Ba-baiklah.." hanya menurut.
Kreb!!
"Fiuhh.."
Akhirnya ayahnya masuk ke dalam kamar juga..
' Laki-laki ini harus segera aku selesaikan..'
Geram !!
"Fiuh.." mengatur nafas untuk kesekian kalinya.
Cklek!!
"Ah?" bingung.
"Permisi nona, ada paket untuk anda.."
"Ah? Apa?" bingung.
Tersadar..
"Ahaha.. jadi paket, ya? Aku kira apa.." lega.
Keringat bercucuran..
"Silahkan diterima.."
Liyana menerima paket tersebut dan menandatangani sebuah surat kecil. Dan setelah itu dia menutup pintu usai pria pengantar paket tersebut pulang.
" Paket? Dari siapa ya?" wajah penasaran.
Dia membukanya tanpa menunggu apapun.
Dan setelah dibuka..
' Apa kamu kira aku yang datang ??'
"Heii.. pria gila mana yang kamu maksud !!!!!"
Ayahnya berteriak dari dalam kamar.
"Tidak ayah! Ayah salah dengar!!!"
Setelah itu tidak ada suara apapun lagi. Liyana memutuskan untuk membuang surat itu dan masuk kembali ke dalam kamar.
"Hhh.. aku pikir dia memang singa yang berani, ternyata bisanya hanya mengancam saja, pria seperti itu enaknya aku gulung jadi adonan donat. Aku ingin sekali menghabisi pria itu!" Sambil berjalan menuju kamar.
Dia masuk ke dalam kamar dan kemudian menutup pintunya.
Kreb!
"Huhh.. aku pikir dia yang datang.." memejamkan mata.
' Sebenarnya senang juga kalau dia yang datang..'
Apa sih?? Apa yang kamu pikirkan Liyana? Pria seperti apa yang sedang kamu pikirkan ini! Apa kamu sudah gila?
"Huaaa... kenapa jadi pusing memikirkan dia? Sepertinya dia sudah meracuni aku.." menoleh.
"Um?"
Liyana merasa ada yang tidak beres di kamar itu, dan benar saja..
"Aaaaaaa!!!!!!!" berteriak keras.
Buru-buru menutup mulut!
"Liyana!!! Ada apa lagi!!"
"Ti-tidak ayah.. hanya kecoa menyebalkan yang tiba-tiba masuk tanpa permisi.." menyindir.
" Hhhhh.. jangan buat masalah lagi malam ini !! Atau ayah tidak akan bisa tidur sepanjang malam !!!"
__ADS_1
"I-iya ayah.. maaf!!"
Keadaan kembali tenang..
"Hemm.. kecoa yang mendadak masuk tanpa permisi?" bersandar di tembok.
"Kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamarku?" marah.
"Aku sudah bilang, akan datang kalau dalam lima menit kamu tidak keluar, dan aku sudah menepati janjiku.."
"Dasar gila!!!" menggerutu, "keluar sekarang?!!"
"Sssttt!! Jangan terlalu keras.." berjalan mendekat, "nanti ayah kamu bisa bangun.. aku tidak bisa menjamin apa yang akan dia lakukan kepadamu nanti.."
"Sudah tahu konsekuensinya antara hidup dan mati, masih saja kamu datang.." duduk di atas kasur.
Lishian mengambil sebuah buku di atas rak meja Liyana. Sementara gadis itu hanya melirik dengan sinis saja..
"Aku suka membaca novelnya.. Ini tentang seorang gadis biasa yang kemudian jatuh cinta pada pria kaya yang memberinya uang satu milyar.." membuka buku.
Deg!
' Darimana dia tahu ?? Apa dia sudah pernah membacanya ??'
"Aku yang memberinya nilai saat novel ini dilombakan.."
"Apa?" tidak percaya, "hhh, kamu pikir aku percaya? Pembohong seperti kamu memang selalu punya banyak bualan.."
"Kenapa tidak percaya? Apa kamu tidak melihat siapa saja yang memberi penilaian saat perlombaan itu?"
Liyana buru-buru membuka laptopnya dan mencari tahu apakah yang dikatakan pria itu benar..
Ketemu!!
Dan....
Benar!! Pria itu menjadi salah satu penilainya.. bahkan memberikan rating yang cukup tinggi untuk karya seperti itu!!
"Sudah percaya?" meletakkan buku.
Lishian berbaring di atas kasur, dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Liyana..
"Masih mau menyebut aku pembohong?"
"Menyingkir dari kakiku!!!"
"Aku heran, di dalam cerita itu, gadis bernama Lili mencintai seorang pria kaya bahkan sampai cinta mati, tapi kenapa dalam dunia nyata tidak sama? Apa mungkin, akting dari sang penulis lebih hebat dari yang menjadi tokohnya?"
"Apa yang kamu bicarakan? Cepat keluar dari sini, sebelum ayah mencurigai kita.." kesal.
"Tidak akan.." meraih tangan Liyana.
"Jangan sentuh aku!"
"Lalu mau bagaimana? Apa aku perlu menyentuh bagian yang lain?" menggoda, " apa kamu masih ingat rasanya disentuh di dalam toilet pesawat?" mulai meraba.
"Arkh!! Jangan! Jangan lakukan lagi.." terpejam.
"Kamu bahkan.. tidak bisa menahan diri lagi.."
Cup!!???
"Tuan.."
"Diamlah.. buat aku menjadi pria hebat malam ini.."
"Kamu masih belum memberitahu aku darimana kamu datang.. apa kamu naik ke lantai dua melalui jendela?"
"Jangan mengalihkan perhatianku.."
"Tapi aku tidak mau!!!" mendorong.
"Aku tidak ingin ada penolakan dari kamu.."
Menarik!
ππππππππππππ
__ADS_1
Mau ngapain ya mereka π€π€π€π€
ππππππππππππ