
Cklek!!
"A?" mendengar suara pintu terbuka, Arliyana buru-buru mendongakkan kepalanya, dan melihat siapa yang datang ke rumah itu.
Hosh Hosh Hosh!!
Nafas pria itu terdengar memburu.
"Tuan Lishian?" ucapnya sembari bangkit dari sofa tempat duduknya sejak Goyuan pergi.
Dengan cepat gadis itu meraih tubuh Lishian yang basah kuyup, dan langsung saja memeluknya penuh rasa takut.
Hap!
"A?" Lishian terlihat terkejut.
"Hiks hiks hiks... Tuan, maafkan aku, maaf aku tidak bisa membantu kamu saat kamu sedang dalam kesulitan. Aku minta maaf telah meninggalkan kamu dalam bahaya, maafkan aku... Hiks hiks..." Ucapnya tanpa peduli bagaimana keadaan pria itu.
Apa dia mencemaskan aku?
Batin Lishian penuh rasa penasaran.
Sekarang pria dalam pelukan Arliyana itu hanya tertegun saja mendapati perlakuan gadis kecil miliknya itu.
Seolah ada sebuah tarikan magnet yang membuat dia terpaku pada tubuh mungil sang gadis bayaran dalam dekapannya itu.
"Aku begitu mencemaskan kamu.. Hiks hiks.. Tuan, andai kau tahu, apa bila masih ada pilihan lain, aku lebih memilih untuk mati di tangan pria itu, dari pada harus melihat kamu dalam bahaya seperti itu. Aku begitu takut... Hiks hiks.."
Lishian semakin tertegun tatkala mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Arliyana.
Apa dia sungguh rela mengorbankan segalanya untuk Lishian?
Itu sudah pasti. Cinta di hati Arliyana terlampau besar, hingga membuat dirinya seolah buta akan semua keadaan.
Tidak peduli hidup atau mati, apapun akan dia korbankan untuk pria yang berhasil mengikat hatinya itu.
"Apa yang kamu katakan?" melepas pelukan Arliyana, lalu menatap dengan lekat wajah Arliyana yang begitu ketakutan. "Tidak ada yang boleh menyakiti kamu karena aku, tidak ada yang bisa.. Aku berjanji akan selalu menjaga kamu, meskipun nyawa adalah taruhannya.." Kini dia mulai jujur pada perasaannya.
"Tidak!! Tuan, jangan pernah mengorbankan nyawa kamu hanya untuk gadis seperti aku, aku akan merasa begitu sedih, lebih baik kiranya aku saja yang mati, dari pada harus melihat kamu tersiksa karena aku..." Air mata masih mengalir dengan deras di kedua pipi Arliyana.
Buru-buru Lishian mengusap setiap air mata yang jatuh berderai di wajah gadis polos itu. Dia merasa sakit tatkala melihat gadis ini menangis karenanya.
"Maaf telah membuat gadis kecilku menangis..."
Cup!?
Mencium bibir dengan penuh kelembutan..
__ADS_1
Lalu melepas ciumannya kembali.
"Kamu demam, aku akan segera memanggil dokter." Sekarang wajah Lishian beralih pada raut kecemasan.
"Tidak perlu!! Melihat kamu di sisiku saja, aku sudah sangat bahagia.." Dia pun mulai perlahan memberi kode akan perasaanya.
Lishian tersenyum dan mengecup punggung tangan Arliyana dua kali. Entah mengapa dia merasa kalau gadis ini sungguh berharga dalam hidupnya.
"Tidak, meskipun aku membuat kamu bahagia, tapi aku tidak bisa menyembuhkan demam kamu yang begitu tinggi, entah kenapa kamu juga terlihat pucat begini, berbaringlah di kamar, aku akan mengantar kamu ke atas." Ucap Lishian dengan penuh perhatian.
Pria itu lalu menggendong tubuh Arliyana, dan membawa gadis itu ke kamar bagian atas.
Skip!!
Beberapa jam kemudian..
Blam!!
"Huhh!!" Goyuan terlihat begitu gundah akan semua yang mengisi otaknya sejak tadi.
Semua perkataan dari Shuimo, benar-benar membuat dia merasa seolah dunia Lishian akan segera runtuh.
Apa aku perlu mengatakan semua ini pada Lishian?
"Lebih baik tunggu waktu yang tepat saja untuk bicara."
Pria itu sedang bercakap dengan serius pada pria di sampingnya, yang tidak lain adalah Lishian.
"Dokter? Kenapa pria itu memanggil dokter? Apa ada masalah dengan kesehatannya?"
Goyuan memilih untuk mendekat, dan bertanya apa yang terjadi.
Tapi belum juga dia melayangkan pertanyaan pada Lishian, Goyuan langsung di suguhkan dengan sebuah berita yang sangat mengejutkan.
"Jadi bagaimana dokter? dia akan baik-baik saja bukan?" tanya Lishian pada sang dokter.
"Dia hanya perlu istirahat yang cukup, bayi dalam kandungan nona masih berusia enam Minggu, tidak baik kalau terus membuat dia kelelahan.."
"Apa???? Bayi??!!!!?" dua pemuda itu terkejut mendengar sebuah berita yang sangat berhasil membuat jantung mereka seolah lepas dari tempatnya.
"Kenapa? apa ada masalah? nona memang sedang hamil enam Minggu, aku pikir tuan sudah tahu tentang hal itu.." Jelas sang dokter.
"Bu-bukan begitu, dokter, hanya saja.. apa aku bisa membuat gadis itu hamil?" sekarang Lishian nampak tidak waras.
"Apa maksud anda? tuan juga pria yang normal, sangat mungkin membuat seorang gadis hamil dengan mudah." Dia bicara dengan penuh keheranan.
"Tapi Lalisa..." Bingung sendiri.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan, kalian ini sepasang kekasih selingkuh. Hhh! Tuan, anda benar-benar tidak bisa terus begini, kalau ada istri tua anda di sini, pasti dia akan marah saat melihat Anda berselingkuh." Jelas sang dokter.
"Omong kosong apa yang sedang anda bicarakan tuan dokter? Sekarang pulanglah dengan segera, sebelum pukulan tanganku melayang tepat di wajah anda." Lishian nampak geram.
"Ba-baiklah.. Aku akan segera pulang.."
Dengan wajah penuh ketakutan, dokter itu akhirnya memilih untuk menaruh dari rumah itu dengan segera.
Blam!!
Pintu utama di tutup dengan rapat.
"Kau gila!!" Mendadak Goyuan langsung menekan Lishian.
"Gila kenapa?"
"Selama dengan Lalisa, gadis itu tidak pernah hamil, tapi sekarang, kamu bahkan membuat anak kecil itu akan segera punya anak. Apa kamu tidak pernah menggunakan pengaman?" Sekarang wajah Goyuan nampak kesal.
"Sejujurnya, iya.. Aku sangat menikmati saat-saat bersama gadis itu, melebihi malam pertama aku dan Lalisa."
"Bajingan!!"
"Apa yang jadi masalah? Kalau dia hamil, tentu saja bagus, aku jadi punya penerus dalam kehidupan ini, benar kan.." Entah kenapa wajah Lishian memang sangat bahagia.
Dia bahkan terus saja berbinar-binar.
"Oh iya, carikan susu yang bagus untuk ibu hamil, ya, sekalian carikan juga dokter kandungan yang paling bagus untuk kita bawa ke pulau. Aku tidak mau Arliyana mengandung anakku di kota berbahaya seperti kota ini. Yang jelas aku ingin gadis kecilku dan anak dalam kandunganku aman.." (Over protective).
Huhh!!
"Kau yang akan punya anak, aku yang harus repot." Kesal Goyuan.
Tapi sejujurnya, aku senang melihat Lishian begitu gembira menyambut berita kehamilan Arliyana, semoga ini adalah awal yang baik..
"Terima kasih, ya, atas perhatian adik sepupu, kau adalah yang terbaik..." Mendadak aneh.
"Katakan dulu padaku, apa kamu mencintai Arliyana atau tidak.."
"A?" Lishian terdiam bingung.
Namun kata-kata itu berhasil membuat Lishian terdiam, dan mulai merasa terdesak di sana.
"Jika kamu tidak benar-benar mencintai Arliyana, maka lepaskan dia, jangan buat dia menderita dengan kekangan darimu..."
"Cukup!!"
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1