Arliyana, Gadis Satu Milyar

Arliyana, Gadis Satu Milyar
#Tuan Aku Mau Jadi Wanitamu


__ADS_3

" Lishian, sudahlah, baru saja bertemu adik kamu, kenapa langsung berdebat begini ??"


" Entah dia adikku atau bukan aku bahkan tidak tahu.." ( curiga ).


" Apa maksud kamu ?? Hahh.. sudahlah, ibu hanya ingin bicara denganmu mengenai pernikahan kamu dengan Fi Chan.."


" Untuk apa dibicarakan ?? Suruh saja Yu Shen menikahi dia, lagipula mereka sepertinya pasangan yang cocok.."


" Hemm.. aku tidak mau mendapat wanita bekas pacarmu.."


" Aku tidak pernah menyentuh wanita itu, bahkan sedikitpun, dia saja yang selalu berharap padaku.."


" Kalau begitu, jika aku ambil..."


" Ambil saja, aku tahu kamu juga menyukai dia, dan juga pernah.." ( melirik ).


Mengetahui sebuah kode .


" Hahh.. kakak ini, kapan kamu akan segera pulang ?? Apa tidak penat terus menerus di rumah sakit ??" ( duduk dan mencoba mengalihkan topik ).


" Apa si yang kalian berdua bicarakan ?? Kenapa mendadak jadi main lemparan wanita ?? Ibu juga berharap Lishian bisa menikahi Fi Chan, tapi karena melihat gadis di sampingnya ini terlihat begitu Lishian cintai, maka kamu boleh saja mengambil keputusan.."


" Benarkah begitu ?? Apa ibu bisa semudah itu memberiku peluang untuk hidup dengan Liyana ??"


' Ah ?? Enak saja, dia bahkan tidak meminta pendapatku dulu..'


" Ibu sangat menyayangi kamu, nak.. dan ibu tidak mau kamu kecewa dengan pilihan ayah kamu, jadi.. Tidak ada salahnya kalau menentang ayah kamu bukan ??"


" Aku tahu perkataan ibu mengandung syarat, katakan padaku apa syaratnya.."


" Syaratnya, kamu harus membagi warisan kamu dari ayah menjadi dua, secara adil dengan adik kamu, Yu Shen.. hitung-hitung dia juga harus mendapat keuntungan karena telah membantu kamu jauh dari Fi Chan.."


' Apa ?? Aku tidak menyangka kalau ibu akan berpikir begitu, mungkinkah..'


" Bagaimana ??"


' Semoga tuan tidak setuju, dari awal tujuan dia hanya ingin mendapat harta warisan seutuhnya dari ayahnya.. lagipula, membuat keputusan ini, apa nyonya Zhe hanya mempertimbangkan putra keduanya saja ??'


" Baik, aku setuju.. Tapi aku tidak bisa memberikannya sekarang, tunggu setelah dia berhasil menikahi Fi Chan, barulah aku akan membaginya bagian yang sudah di pertimbangkan.."


' Olehku..'


" Wah, bagus kalau begitu, kamu akan mendapat gadis yang baik, dan Yu Shen juga akan mendapat haknya.."


' Yang aku bingung adalah.. kenapa kalau Yu Shen harus mendapat bagian, tidak dipikirkan sejak kami kecil, kenapa hanya namaku yang terdapat dalam surat ahli waris itu ?? Rasanya.. ada yang aneh..'


" Kalau begitu, aku harus segera pergi. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini, dan sepertinya, sekarang bertambah tugas baru untuk menjaga tunangan kakak, jadi maaf ya, tidak bisa duduk terlalu lama.." ( Berdiri dan keluar ), " oh iya, kalau kakak sudah bosan, bisakah melempar si cantik ini padaku ?? Sepertinya permainannya begitu lentur.."


" Baj*ngan !!!"


Prak ??!!

__ADS_1


Melempar sebuah buku !!?


" Aku hanya bercanda saja, jangan anggap serius perkataanku.."


Krebb !!


" Baiklah, kalau begitu.."


Drrrttt Drrrttt..


Mendadak ponsel Liyana berdering.


" Halo ??"


"........."


" Apa ?? Tidak mungkin... ayah.... ditemukan tewas ????"


" Ah ??" ( terkejut ).


...****************...


Hujan deras mulai mengguyur area pemakaman di daerah X yang begitu ramai. Meski begitu, di langit awan masih saja menggumpal, tidak peduli derasnya hujan yang memang akhir-akhir ini sering mengguyur kota.


Liyana gemetaran. Dua matanya sudah begitu sembab karena terus menangis sejak semalam. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kelak jika harus melangkah tanpa adanya sosok sang ayah. Bertahun-tahun hidup menjadi seorang anak tanpa ibu, iya.. ibunya memang meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan, dan harus tewas mengenaskan di tempat itu pula.


Entahlah..


Hiks hiks hiks..


Tangisan yang terus menerus memecah keheningan, membuat hati Lishian mendadak merasa iba, untuk pertama kali dalam hidupnya. Wanita ini, dan tangisannya berhasil membuat hatinya merasa ikut hancur. Mengapa terasa begitu menyedihkan ?? Bukankah sejak awal dia terus mencari Liyana hanya karena sebuah pertanyaan ?! Dan sekarang, orang yang perlu dia temui sudah tewas. Mengapa masih juga peduli pada pada putrinya ??


" Sudah, mari kita pulang.."


Dengan perlahan Lishian menitah langkah Liyana yang sangat lemah. Dia berusaha menjadi penopang sebisa mungkin untuk wanita yang berada di sisinya. Dan lagi, hanya untuk wanita ini, dia bahkan rela bermandikan air hujan demi menemani acara pemakaman sang ayah. Inikah yang disebut mendapat bonus saat melalui ujian ??


...****************...


Brukk !!


Liyana terduduk di ranjang rumah Lishian. Entah kenapa dia bahkan tidak menolak saat Lishian mengajak dia untuk datang. Rumah ini, bahkan terasa begitu menenangkan..


" Mandi dulu, aku sudah menyiapkan air panas untuk kamu.."


Liyana hanya terdiam membisu.


' Mengapa ayah dan ibuku meninggal dengan ganjil ??'


Hanya pertanyaan itu yang setiap kali harus muncul dalam otaknya, mengingat betapa anehnya dia melihat keganjilan atas tragedi tewasnya sang ayah. Mungkinkah semua dugaan di hati Liyana memang benar ?? Atau semua yang ada di otaknya hanyalah semata karena ketidak terimaan dia dalam menghadapi takdir tuhan ?? Entahlah.. siapa yang tahu..


" Jangan melamun.."

__ADS_1


Suara yang begitu dalam dari pria itu mendadak membangunkan lamunannya.. Tidak disadari ternyata Lishian sudah berjongkok di depannya..


" Ah ?? Tuan ?? Kenapa ??"


" Aku mengajak kamu mandi, lihatlah tubuh kamu, meskipun kita menggunakan payung saat menghadiri pemakaman ayah kamu, tapi karena terlalu lama berdiri di sana, baju kamu juga harus basah.."


Liyana memerhatikan sekujur tubuhnya, dan memang benar, tubuhnya basah kuyup.


" Aku baru sadar.."


" Jangan sedih begitu, sekarang, mandilah.. aku tidak mau merawat orang sakit.."


" Baik.."


Liyana menuruti Lishian, dan hanya bisa pasrah saat pria itu mengajaknya mandi air panas dalam satu bak yang sama. Kenapa rasanya sungguh menyenangkan ??


" Aku bantu basuh ya.."


Liyana terdiam saja. Di belakang, Lishian tengah sibuk membasuh punggung Liyana, sambil sesekali merapikan rambut Liyana yang terurai. Dia memang gadis yang punya rambut lurus dan panjang, meskipun warnanya tidak sepenuhnya hitam, karena memang jarang melakukan perawatan, tapi jujur saja, dia terlihat sangat manis.


" Tuan.."


" Um ??" ( sambil membasuh punggung Liyana ).


" Apa tawaran untuk menjadi wanitamu masih berlaku untukku ??"


" Ah ??" ( mendadak berhenti ), " menurut kamu ??"


" Aku serius.. aku ingin..." ( berpikir sejenak ), " menjadi wanitamu.." ( tertegun ).


Lishian secara diam-diam menarik bibirnya melukis senyuman manis, dia sangat suka saat gadis ini mengatakan hal itu padanya..


" Tahu konsekuensinya jika ingin menjadi wanitaku ??"


" Ah ?? Apa itu ??"


" Bersedia tidak ??"


" Katakan, jika aku bisa membayar seluruh hutangku dengan menjadi wanitamu, maka aku akan berusaha.."


" Baik kalau begitu.." ( mengangkat tubuh Liyana ).


" Tuan ada apa ?? Apa badanku sungguh sangat berat ??"


Lishian hanya menarik senyuman tipis, sambil membalikan tubuh Liyana menjadi berhadapan dengannya..


" Ah ?? Tuan ?? Apa yang ingin kamu lakukan ??"


" Hanya ingin tahu seberapa besar kemampuan kamu setelah menjadi wanitaku.."


Cup !?

__ADS_1


__ADS_2