
Mereka berjalan menuju arah kabin pesawat yang akan segera mereka tumpangi untuk pergi menuju kota S, kota tempat tinggal mereka dulu.
Dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan mungil Liyana, dan tentu saja setelan Jaz hitam pekat kebanggaannya, jangan lupa pula kacamata andalan pria keren, Lishian terlihat begitu gagah dan berwibawa kala memasuki area bandara.
Semua orang hanya melongo saja melihat betapa indahnya panorama di depan mereka semua. Pasangan serasi yang mendadak muncul di hadapan mereka, mana mungkin tidak membuat mereka terkejut.
"Pria itu sangat tampan.."
"Iya, cobalah lihat gadis di sebelahnya, meskipun dia masih sangat muda, kenapa bisa secocok itu berjalan dengan pria tampan itu, ya.."
"Gadis yang sangat beruntung."
Beberapa orang membantu Liyana dan Lishian membawakan koper di belakang. Mereka semua sudah bersiap pergi ke kota S.
"Semua orang memuji kamu, apa kamu tidak nyaman?" ( tanya gadis polos ).
"Tidak nyaman? Aku sering di puji seperti itu saat pergi keluar rumah."
"Hehh. Dasar congkak!!"
"Aku suka saat kamu menghinaku seperti itu.."
"Terserah apa katamu, yang jelas, aku tidak nyaman dengan pandangan mereka pada kita."
"Kenapa harus tidak nyaman? Kamu harus lebih percaya diri, ke depannya, kamu akan melalui banyak hal semacam ini."
"Aku tidak yakin apa aku bisa melakukannya atau tidak."
Mereka akhirnya tiba di dalam pesawat, dan langsung saja duduk di kursinya.
"Aku bawakan syal untuk kamu, aku lihat kamu agak sedikit pilek, mungkin karena kita pergi belanja semalaman sampai kamu harus sakit begitu."
Liyana menyodorkan syal coklat susunya kepada Lishian, dan memakaikannya di leher Lishian.
Dan pria itu hanya bisa tersenyum tidak karuan.
"Kamu kenapa?"
"Apa kamu sadar, kalau kamu melakukan itu di sini, bisa memancing hasrat adik kecilku ini?"
"Hahh. Kamu memang selalu terpancing meski aku tidak melakukan apapun."
"Kemari, peluk aku, aku kedinginan."
"Cihh!! Perasaan tadi kamu baik-baik saja, kenapa sekarang mendadak kedinginan?"
"Diamlah, dan jangan banyak bicara!! Aku sedang butuh pelukan darimu, berikanlah.."
Liyana mendekatkan tubuhnya ke arah Lishian dan menikmati sandaran empuk itu hingga tertidur.
...****************...
Bandara Kota S
Pukul 16.00.
Akhirnya sampai juga..
Kota S ini, baru beberapa bulan di tinggal, kenapa bisa berubah drastis seperti ini. Pembangunan dan perluasan taman hiburan, beberapa bangunan yang sudah berkamuflase menjadi lebih mewah, dan ternyata, sekarang kota ini bahkan jauh lebih maju.
__ADS_1
Itulah yang di pikirkan Liyana saat pertama kali menginjakkan kakinya di kota lamanya, setelah beberapa bulan tidak pernah kembali ke sini.
"Jangan terlalu banyak pandangan, simpan saja untuk melihat rumah calon mertua kamu nanti.."
"Calon mertua?"
"Aku akan memperkenalkan kamu sebagai calon menantu mereka, tentu saja berarti mereka adalah calon mertua kamu.."
Aku pikir..
"Jalan!!"
Vrooommmmm..
Mobil melesat dan berlari kencang menuju rumah Yu Huo sesaat setelah mereka membeli hadiah pertunangan untuk adik Lishian, Yu Shen.
Dan beberapa saat kemudian, mereka akhirnya bisa menginjakkan kaki mereka di pelataran rumah Tuan Yu Huo.
Saat pertama kali turun dari mobil, yang terlintas dalam otak Liyana adalah, rumah yang agaknya, dia pernah lihat. Rumah ini, entah kenapa tidak begitu asing di matanya.
Dia terpaku di depan pelataran rumah itu, sembari terus menatapi rumah yang berdiri tepat di hadapannya.
Dia pasti ingat sesuatu mengenai rumah ini..
"Kita masuk?"
"A? Iya.. Baiklah.."
Lishian menggandeng tangan Liyana untuk memasuki rumah tersebut, dan menemui kedua orang tua angkatnya.
"Wah, wah, wah, putraku sudah tiba.."
Memeluk.
Yang di peluk hanya memasang wajah biasa saja.
Di saat aku memberikan separuh harga diriku demi membuat Yu Shen bisa menikahi Fi Chan, barulah kamu mau memeluk aku..
"Bagaimana perjalanan kamu di pesawat? Apa semuanya aman-aman saja?"
"Iya, semuanya berjalan baik.."
"Kalau begitu, duduk dulu, kita akan menuju ke rumah Fi Chan sekitar jam delapan."
Lishian menggandeng tangan Liyana untuk duduk berdampingan dengan dirinya. Suasananya sangat canggung di sini, meskipun Yu Huo terlihat begitu ramah pada mereka berdua.
"Zhe Ruan!! Calon menantu kita sudah datang, ambilkan dia minuman.."
"Ayah bisa menyuruh pelayan.."
"Tidak!! Harus ibu kamu yang memberikan minuman untuknya.."
Aneh!!
Zhe Ruan terlihat datang menuruni lantai dua menuju ke arah Lishian, dan Menyambut kedatangan mereka berdua tanpa curiga sedikitpun.
"Calon menantu keduaku sudah datang, ya, kemari, ibu mertua kamu ingin memelukmu.."
Liyana bangun dari duduknya dan menerima pelukan dari Zhe Ruan, tentunya dengan ekspresi yang sangat canggung.
__ADS_1
"Duduklah, akan ibu buatkan teh untuk kamu.."
"Baik.."
"Pertunangan Yu Shen dan Fi Chan sangat cepat terjadi, apa yang ayah katakan pada keluarga Dong Fi saat itu?? Sepertinya mereka cepat sekali menyetujui pilihan ayah."
"Iya, saat itu, nona Fi Chan sendiri yang mengatakan kalau dia begitu mencintai Yu Shen, kau kan tahu sendiri, bertahun-tahun dia menunggu kamu, tapi pada akhirnya kamu harus pergi dengan Liyana, karena itulah dia seperti menemukan sandaran yang tepat di pundak Yu Shen."
Hhhh.. Pria tua ini bodoh atau hanya sedang membual? Menemukan sandaran yang tepat? Aku pikir wanita itu bukan menemukan sandaran yang tepat, melainkan menemukan kedok yang tepat untuk menutupi aibnya.
"Lalu di mana calon mempelai pria? Apa dia sedang asik berdandan?"
"Kenapa kau mencariku, kak? Apa kamu merindukan adik kecilmu ini?"
Adik kecil? Sejak kapan kita begitu akrab?
"Aku tengah bersiap di atas, dan tiba-tiba mendengar suara kamu di sini, aku berinisiatif untuk turun menemui kamu.."
"Aku tidak terkesan dengan kata-kata itu.."
...****************...
Ting!!
Suara gelas yang saling menyentuh terdengar agak keras di telinga Zhe Ruan.
Wanita itu jelas-jelas sedang membuat teh hangat untuk Liyana dan juga Lishian, tapi kenapa, dia memberi sesuatu pada salah satu cangkirnya?
"Hehe.. Kamu akan segera tewas Liyana!!"
Mengaduk!!
Obat tercampur dan larut dengan cepat!!
"Cara kamu cukup bijak Yu Huo, tidak menyangka kalau kamu akan sampai berpikir sejauh itu."
Dia menata dua cangkir teh di atas nampan dan membawanya ke luar.
"Hallo semuanya.. teh hangat sudah ibu buatkan, oh iya, Yu Shen, ambilkan beberapa camilan di dalam lemari ya, ibu lupa membawanya tadi."
"Baiklah, ibu.."
Yu Shen segera melangkah menjauhi tempat itu dan menuju ke arah lemari di dapur.
Zhe Ruan terduduk dengan wibawa, membuat Liyana sedikit risih.
"Gimana kabar kamu? Apa kamu baik-baik saja?"
"Iya, nyonya, aku baik sekali, terima kasih sudah menyambutku dengan ramah.."
"Haha, tidak perlu sungkan, aku akan segera menjadi ibu mertua kamu, jadi jangan sungkan padaku, ya.."
Liyana hanya tersenyum saja dengan perlakuan Zhe Ruan padanya.
"Kalau begitu, Lishian, ajak dia minum teh dulu, untuk menenangkan pikiran.."
Sementara Lishian tengah asik memperhatikan cangkir berisi teh tersebut.
Ada yang tidak beres!!
__ADS_1