
Hari itu cuaca cukup buruk. Lishian dan Liyana yang sudah selesai mengemas barang pun, akhirnya mengalah dan memilih untuk tetap tinggal di rumah Yu Huo.
Hujan turun dengan lebat, bercampur angin dan petir, membuat suasana di kota S nampak menyeramkan.
Liyana tengah berkeluh kesah di sisi jendela. Meski dia begitu takut akan adanya petir, tapi dia lebih takut lagi pada para manusia yang sedang bersandiwara di sisinya sekarang. Dan yang lebih dia takutkan adalah, Zhe Ruan.
Wanita itu bukan hanya buaya, tapi dia juga pemangsa yang bisa berubah wujud kapan pun dia membutuhkannya. Dia adalah predator sesungguhnya dalam cerita ini.
Tapi sayang sekali, mungkin hanya Liyana yang baru mengetahui semuanya sekarang. Selain dia, entahlah.. Mungkin Lishian dan Goyuan, atau ada orang lain lagi?
Meskipun semua orang tahu wanita ini mungkin otak dari segala permasalahan mereka, tapi tetap saja semuanya terlihat diam.
Iya.. Walaupun Liyana sendiri tidak tahu apa alasan mereka untuk diam itu, yang jelas, seperti kata Lishian, tidak ada yang bisa di percaya di tempat ini, termasuk Lishian sendiri.
Di saat dia sedang bertatap muka di depan jendela, sembari melihat sambaran petir yang berada di luar ruangan, mendadak seseorang terpaksa membuat dirinya bergeming.
"Hahhh... Cuaca yang sangat dingin.." Memeluk dengan eratnya.
"Tuan, apa kita akan pulang esok?" Tanya Liyana dengan wajah yang tidak senang.
"Kenapa memangnya? Apa kamu tidak betah di sini?" Pria tua itu malah berbalik tanya.
"Kamu sendiri yang bilang padaku, kalau tempat ini hanya sebuah kamuflase saja, semua orang di sini bagaikan bunglon, yang bisa berubah wujud semaunya.. Aku jadi takut." Dia agak bergidik meskipun hanya membayangkannya saja.
"Kalau begitu, diamlah di kamar, dan jangan keluar kemanapun, di sini sangat aman, tapi sekalinya kamu melangkah keluar, maka kamu sudah masuk ke dalam zona yang berbahaya." Jelas Lishian secara rinci.
"Apa aku salah, merasa takut pada ibu angkat kamu? Maaf, ya.. Bukan maksud aku untuk.." Tidak dilanjutkan..
"Syutt!! Sudahlah, jangan di bicarakan, dua hari lagi, aku akan mengirim kamu ke sebuah pulau, yang dulu sempat aku ceritakan padamu. Bukankah ini waktunya libur akhir tahun di kampus kamu?" Pria itu semakin erat memeluk Liyana dari arah belakang.
"Bagaimana kamu tahu? Apa kamu mencari tahu soal berita di kampusku?" Kini gadis itu yang bingung.
"Iya, dan ini adalah waktu yang tepat untuk kamu mulai, berlatih..."
__ADS_1
"Apa? Berlatih apa? Apa maksud kamu tuan?" Gadis itu selalu berpikir buruk tentang Lishian. Dia pikir, mungkin olahraga malamnya masih di bawah minus, hingga dirinya harus menempuh perjalanan ke pulau hanya untuk berlatih menguasai permainan tersebut.
Pak!!
"Aduh!!"
Sebuah pukulan kecil mengenai jidat Liyana, yang kemudian, setelah beberapa saat menunjukkan bekas merah dan agak sedikit lebam.
"Anda melakukannya lagi tuan Lishian, bagaimana anda bisa semudah itu memukul kepala saya?" Ucap Liyana dengan berkeluh kesah.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam otak kamu? Menurut kamu apa yang aku maksud latihan di pulau itu?" Tatapan aneh.
"Memangnya apa lagi? Tentu saja hal yang biasa kamu lakukan padaku bukan? Kamu kan memang punya ingatan yang sangat baik untuk soal seperti itu." Jelas Liyana tidak ragu sedikitpun.
"Hahhh.. Aku pusing memikirkan kamu.." Menyandarkan kepalanya di jendela.
"Tuan, bisakah kita melakukannya di rumah baru anda saja, dan tidak perlu menuju ke pulau yang anda maksud itu? Rasanya setiap hari aku selalu mencoba untuk tetap aktif dan bergerak menuruti anda, kenapa sekarang harus berlatih di pulau hanya untuk olahraga malam?" Gadis itu mengungkapkan isi hatinya panjang kali lebar.
Cklek!!
"Apanya yang di rumah Lishian saja?" Zhe Ruan terlihat masuk ke dalam kamar mereka berdua.
"Nyonya.." Panggil Liyana dengan nada yang sangat lirih.
"Apa yang membuat anda berani masuk ke dalam kamarku?" Tanya Lishian tanpa basa-basi.
"Lishian, jangan pura-pura bodoh kamu!! Kamu kan yang sudah mengendalikan semuanya tadi malam?" Baru datang sudah buat onar. Yang benar saja, apa wanita ini di lahirkan saat ada keributan..
"Anda yang bodoh, bukan saya.." Jawab Lishian singkat.
"Aku tahu semua ini ulah kamu, karena kamu memang tidak mau harta warisan itu di bagi jadi dua, iya kan?" Sekarang Zhe Ruan tanpa malu lagi membuka semua aibnya sendiri.
Sementara, gadis yang sebelum Zhe Ruan datang terlihat mengoceh tidak henti, kini pun akhirnya memilih untuk mematung dan terdiam di belakang Lishian.
__ADS_1
"Anda tahu kalau semua harta di tangan anda, sebenarnya masih milik mendiang ayah saya, jadi tolong tunjukan padaku di mana Anda menyimpan semua suratnya."
Zhe Ruan memilih untuk diam, dan berpikir sejenak. Pria di depannya ini telah berhasil membuat dirinya pusing tujuh keliling. Gara-gara masalah harta warisan, sekarang kepalanya bahkan hampir saja botak.
"Apa yang sedang kamu katakan? Asal kamu tahu saja, ayah kamu hanya meninggalkan sedikit warisan di sini, itu pun karena aku yang berbaik hati membela dirinya untuk mendapatkan hak yang sepadan." Jelas Zhe Ruan yang tentu saja hanya sekedar bualan.
Dia pikir Lishian akan sebegitu mudahnya untuk percaya? Cihh!!
"Dan sekarang, ibu meminta kamu untuk memberikan ibu sesuai dengan apa yang ibu berikan padamu selama tiga puluh tahun terakhir." Sekarang Zhe Ruan bahkan tidak merasa malu sedikitpun.
Lishian yang terkekeh melihat kelakuan Zhe Ruan yang sangat bodoh itu hanya mencoba untuk menyembunyikan ekspresi mukanya.
"Yang anda maksud ini adalah hutang budi begitu?" Lishian mengambil sebuah jam tangan di atas tempat tidur, dan kembali mengarahkan fokusnya pada si wanita tua itu lagi.
"Kalau begitu, tunjukkan perusahaan milik keluargaku yang lain, aku mungkin akan mempertimbangkan keinginan kamu yang yang satu ini.." Bicara lirih di kuping Zhe Ruan.
Seakan terhempas badai, lalu di imbangi ambingkan oleh topan, dan setelah itu, di jatuhkan tubuhnya di atas batu karang. Perasaan Zhe Ruan begitu kacau tatkala Lishian mengatakan hal tersebut padanya.
Apa pria muda ini sudah tahu tentang aset yang ada di luar negeri itu?
Begitulah benaknya berbicara.
"Jika anda sudah tidak punya urusan lagi, maka anda sudah boleh keluar, aku dan gadis kecilku begitu terganggu dengan kehadiran anda.." Usir Lishian dengan lembut.
Dan wanita itu memilih untuk pergi dari kamar dua orang itu. Sekarang masalah bertambah lagi satu orang, yang akhirnya harus menambah beban di dalam otaknya.
Bam!!!
Pintu di banting dengan keras, lalu wanita itu memilih untuk berjalan ke arah yang lebih sepi.
Menghubungi seseorang..
"Hallo, Dong Fi, Lishian mulai curiga dengan aset yang ada di luar negeri itu.."
__ADS_1
β₯οΈβ₯οΈπππβ₯οΈβ₯οΈ