
Pria itu masih terlelap di ranjang milik Liyana. Hingga tepat pada pukul dua dini hari, dia mendadak terbangun dari tidurnya, dan mendapati gadis polos itu tengah tertidur dengan lelap di dalam dekapannya. Manis sekali. Gadis imut yang sangat kecil untuk dia pacari. Cihh!! Apa kamu masih peduli usia muda atau tua?
Lishian tersenyum dengan manisnya saat mendengar dengkuran kecil Liyana. Gadis cantik yang sangat mungil yang mampu menyihir hatinya sampai bisa setakluk ini.
Cup!?
Sekilas dia mengecup kening Liyana, dan menyibakkan rambut gadis itu dengan penuh perhatian. Iya, memang harus di akui, kalau Liyana memiliki wajah yang sangat manis dan anggun. Terlebih lagi saat sedang diam tertidur seperti ini. Ingin sekali memakan tubuh mungil itu sampai habis, huhhh. Rasanya memang tidak bisa di tahan lagi.
"Ugh.." ( terbangun ).
Lishian diam mematung, tatkala tangan nakal itu mencoba meraba seluruh tubuhnya, dan kemudian berhenti pada satu titik pusat miliknya.
Dan di sana, terasa kembali menegang, seolah memberi pertanda kalau dia ingin kembali di puaskan.
Tapi Lishian melirik lagi. Gadis itu masih diam tertidur. Mana tega membangunkan dia saat dalam kondisi seperti ini?? Kasihan juga..
Lishian memutuskan untuk menyingkirkan tangan Liyana dari pusakanya, dan melingkarkannya di pinggang. Dia pun berbalik memeluk. Sekarang posisi mereka saling mendekap. Hangat sekali..
Tring!?
Tapi mendadak ponsel Lishian berbunyi. Mungkin ada pesan masuk di sana. Dengan perlahan Lishian mencoba meraihnya dan membaca sebuah pesan.
"Dari Qian, apa dia sudah dapat informasinya?"
Klik!!
Membuka..
'Tuan, saya menemukan sebuah berkas di laci perusahaan tuan Yu Huo..'
Dan beberapa detik setelah itu, Qian kembali mengirimkan pesan kedua.
'Isinya memang mengejutkan, di mana beberapa perusahaan memang bukan milik tuan Yu Huo, tapi masih atas nama tuan Li Shanshan dan nama tuan..'
"Apa??" ( tanyanya dengan lirih ).
'Katakan padaku apa lagi yang bisa kamu dapat di tempat itu..'
Lama sekali Qian membalas pesan dari Lishian, mendadak dia mengirim sebuah potret lawas di sertai dengan sebuah surat..
'Tuan lihat saja sendiri, aku bingung mengetiknya..'
Lishian menatapi foto lawas yang begitu mengejutkan. Keluarga Lishian yang terdiri dari ayah kandungnya, mendiang Li Shanshan, dan seorang wanita yang mungkin ibu kandung Lishian, dan juga seorang bayi dalam pangkuan.
Tapi bukan itu yang membuat Lishian terkejut. Melainkan pada sebuah rumah yang ada di belakang mereka. Rumah ini, sangat mirip dengan rumah yang sekarang di tinggali oleh Yu Huo dan Zhe Ruan.
Lalu sebuah kalimat yang membuatnya semakin terkejut.
Dalam foto itu, tertulis sebuah kalimat yang menandakan kalau itu rumah pertama yang berhasil di beli oleh Li Shanshan. dan rumah itu, otomatis adalah milik Lishian. Tapi mengapa, yang ada di dalam surat wasiat, bukanlah namanya, melainkan nama Yu Shen sebagai ahli warisnya. Apa ini?? Kenapa sama sekali tidak masuk akal?
Dan lagi, surat itu.. surat yang entah kapan di tulis dan di tanda tangani oleh Yu Huo, sebagai surat peralihan nama dari Lishian menjadi namanya, dan nama istrinya, Zhe Ruan. Apa maksud semua ini? Apa mungkin mereka memang menyembunyikan sebuah hal yang sangat besar di belakang Lishian?
'Qian, selidiki bagaimana tewasnya tuan Li Shanshan dan juga istrinya tiga puluh tahun lalu..'
__ADS_1
Setelah menulis pesan tersebut, Lishian beralih memandangi lagu wajah Liyana.
Mengusap pipi Liyana dengan lembut..
'Aku harap kamu tidak bersalah..'
Cup!?
...****************...
Pagi hari..
"Huaaaaa......"
Liyana merentangkan kedua tangannya..
"Bagaimana tidur kamu?? Aku lihat nyenyak sekali.."
"A? Kamu?? Jadi kamu masih di sini?"
Liyana terkejut saat mendapati pria itu masih setia berbaring di sisinya. Dengan senyuman manis yang tersirat dari pria tua itu.
Meskipun tua, tapi pesona Lishian masih belum kalah dengan yang muda. Hihihi..
Mungkin..
Kan hanya Liyana yang tahu..
"Memangnya kenapa? Tidak suka?"
"Kamu pasti merasa tidak nyaman.."
"Tentu saja, tumben kamu tahu.."
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Lishian, Liyana merasa sangat bersalah. Buru-buru dia membangunkan tubuhnya dan mencoba bergerak menjauhi dia.
"Aku minta maaf, lagi pula, kenapa kamu tidak membangunkan aku? Kamu tidak akan kesakitan seperti ini.."
"Apa aku bilang padamu kalau aku kesakitan?"
"Tanpa kamu tanya, aku pun sudah bisa menebak. Aku menindih tangan kamu semalaman, menurut kamu, aku tidak tahu kalau kamu sangat kesakitan?"
"Walaupun tubuh kamu juga berusaha menindihku semalaman, aku tidak akan merasa sakit. Asal kamu tahu saja, aku ini bukan pria lemah."
"Baguslah, kalau kamu baik-baik saja, aku jadi lega."
"Apa kamu cemas?"
"Yang lebih aku cemaskan adalah, bagaimana kamu akan keluar dari tempat ini?"
"Aku akan keluar malam ini, jadi tidak akan ada yang melihatku di sini."
"Apa kamu gila?! Kamu sudah semalaman di tempatku, dan sekarang akan menambah satu hari lagi untuk berada di sini? Hhh.. Bagaimana kalau ada yang melihat kamu? Apa lagi kalau bibi Chu, dia pasti akan langsung memarahi aku."
__ADS_1
"Karena itulah aku akan diam di sini seharian, supaya tidak ada yang melihatku keluar."
"Kalau begitu, terserah saja. Aku akan pergi ke kampus, jadi jangan buat ulah di sini, atau aku yang akan di usir dari sini."
"Tenang, aku sudah menemukan rumah yang cocok untuk kita berdua."
"Hehh, kamu pikir aku ini siapa? Kamu bahkan mengikat aku entah untuk apa, dan sekarang kamu bilang kamu sudah menemukan tempat yang cocok untuk kita berdua."
Bangun dari tempat tidur.
"Jujur saja tuan Lishian, aku merasa bingung pada dirimu, aku bingung bagaimana menghadapi kamu.."
"Intinya adalah, kamu berhutang padaku satu milyar, dan aku sudah menganggap kalau uang itu, untuk membayar tubuh kamu."
Liyana terlihat tersenyum penuh kekecewaan. Iya, mana mungkin pria br*ngs*ek seperti Lishian akan jatuh cinta padanya?
Dasar bodoh!!
"Begitu, ya.."
Liyana mengenakan pakaian di dalam lemari tanpa mandi terlebih dulu. Rasanya ingin sekali keluar dari tempat ibu dan pergi meninggalkan Lishian sejauh mungkin. Huh! Pria menyebalkan!!
Krebb!?
"Huhh.."
"Liyana?" ( seorang gadis menepuk pundaknya ).
"A?" ( terkejut ).
"Kamu kenapa? Terkejut, ya?"
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Tidak, hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja.."
"Aku baik, mengapa mendadak mencemaskan aku?"
"Tadi malam aku mendengar kamu berteriak, aku pikir kamu sedang dalam bahaya."
"Iya, aku mendapati tikus besar masuk ke dalam kamarku saat aku sedang menulis. Jadi aku berteriak."
"Tikus? Jadi saat kamu merintih itu, apa itu karena tikus besar itu juga?"
"Merintih?" ( wajah membeku ).
'Ya ampun, padahal aku sudah berusaha selirih mungkin, bagaimana dia bisa dengar?'
"Li?"
"Ah? Iya.."
"Kamu melamun? Ada apa denganmu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku sangat baik, soal rintihan itu, aku memang sedang.."