
" Itu salah kamu sendiri, kenapa bisa mengganggu tuan Lishian, kamu kan tahu sendiri kalau dia bukan tipe orang yang bisa kamu ajak bercanda, sudah tahu orang seperti itu, masih saja mengganggu.."
" Apa kamu cemas ??"
Perawat dengan mata yang agak sipit, dan tubuh yang putih berpostur ramping itu mendongak menatapi wajah Goyuan yang menatapnya dengan begitu intens.
Dia merubah pandangannya menjadi tak tentu arah, tatkala menyadari kalau dia sudah bergerak terlalu jauh.
" Kenapa mengalihkan pandangan kamu?? Apa kamu tidak mau menatap aku lebih lama lagi ??"
" Tuan, jangan macam-macam, aku tidak suka.."
" Kamu tidak suka apa hanya pura-pura tidak suka ??" ( lebih dekat lagi ), " aku merindukan kamu Nana..."
Pria itu hendak mencium bibir Nana, tapi dengan rasa takut yang sangat berkecamuk dalam hati Nana, wanita itu akhirnya memilih untuk mundur.
" Jangan, jangan lakukan itu.. tuan, aku tidak mau.."
" Kamu tidak memberi aku penjelasan apapun saat pergi dari sisiku, hingga membuat kepalaku dan seluruh isinya berubah menjadi wajahmu yang membuat aku gila. Sudahkah kamu tahu mengenai hal itu, Nana ? Pernahkah kamu mencoba mengetahui bagaimana rasanya di tinggal oleh wanita yang aku cintai ?? Pernahkah kamu peduli akan perasaanku ??"
" Lalu sudahkah kamu menyadari kalau hubungan kita ini salah ?? Pernahkah kamu mencoba memikirkannya ??" ( mendadak punya tenaga untuk melawan ), " aku bukan hanya tidak bisa untukmu, tapi aku juga tidak di takdirkan untuk hidup bersama denganmu.."
" Berikan aku alasan.."
" Alasan ?? Karena aku tidak mau hidup dengan seseorang yang berbahaya.."
Nana melanjutkan aktifitasnya menghadapi luka di tubuh Goyuan dengan penuh hati-hati. Dia sesekali tidak bisa menahan kegundahan hatinya dengan pria ini. Iya, pria yang berhasil memikat hatinya dan hampir saja menikahinya. Keperawanan yang sudah di renggut oleh sang kekasih, dan membuatnya hidup dalam kekangan sang ayah, karena dia tahu anaknya telah bermain api dengan pria putra dari seorang pengusaha, yaitu ayah Goyuan, musuh keluarga besar Nana sejak beberapa tahun yang lalu.
Itulah awal dari sebuah kehancuran.
" Ini sudah selesai, aku harus menyusul dokter Alex untuk mengetahui keadaan nona Liyana, tidak di sangka dia juga mendapat pukulan dari tuan Lishian.."
Dia hendak bangkit dari duduknya, namun..
Grep !!
" Mau membiarkan aku lagi ?? Apa kamu tidak pernah merasa bersalah padaku ??"
Srett !!
Tangan Goyuan dengan cekatan menarik tubuh perawat itu, dan jatuhlah dia dalam pelukan Goyuan.
__ADS_1
Cup !?
Menikmati..
Bahkan di saat-saat seperti ini, seharusnya dia bisa mengendalikan diri, tapi pria ini.. selalu sukses membuat dia terbuai..
' Aku memang tidak bisa melepaskan kamu.. Goyuan..'
Melanjutkan lagi..
...****************...
" Bagaimana ?? Apa dia baik-baik saja ??"
" Wajahnya memar sampai seperti itu, apa kamu masih bisa bilang dia baik-baik saja ?? Lain kali cobalah untuk kendalikan dirimu, kendalikan emosi kamu, pukulan ini hampir membuat nyawanya melayang. Untung saja cepat di tangani. Dia hanya mengalami cedera ringan, tapi tentu saja ke depannya dia harus istirahat dulu, jangan buat dia depresi juga, hal itu juga penting untuk kesehatannya."
" Baik, aku mengerti, jika kamu ingin menasehati aku lagi, maka aku akan dengarkan, tapi jika dokter Alex ingin memarahi aku, segeralah pergi dari sini, aku tidak mau di marahi saat hatiku sedang kacau.."
" Terserah !! Suruh dia minum obat dengan teratur, dan kompres juga lukanya, itu akan lebih mempercepat penyembuhan.."
" Aku mengerti, sekarang keluarlah, biarkan pasien istirahat.."
" Ck. Mau pergi tidak.. kalau tidak, mungkin aku juga bisa mendaratkan pukulan di pipi kamu sekarang juga.."
" Iya, iya, aku pergi.. lagipula di mana Nana ?? Hhh.. mungkin dia belum selesai, aku tunggu saja di luar, tidak baik di dalam rumah ini terlalu lama.." ( mengalihkan pembicaraan ).
Krebb !??
Fiuhh.
Sekarang pandangan Lishian kembali mengarah pada wajah Liyana yang memar akibat ulahnya barusan. Gadis ini hampir kehilangan nyawa gara-gara tangannya yang berulah dengan nakal. Maaf Liyana, lain kali dia akan lebih berhati-hati padamu..
Dia membenarkan selimut hitam yang menutupi sebagian tubuh Liyana. Dengan selang infus yang terpasang di tangannya, dan beberapa bekas jarum suntik yang terpampang di beberapa bagian tubuh Liyana,. Arkh.. mengapa rasanya seperti ini ?? Lishian belum pernah merasakan yang namanya merasa bersalah, apa mungkin karena gadis ini telah merubah seluruh hidupnya ??
Lishian terduduk di sisi ranjang, tapi baru saja terduduk, dia mulai merasa tidak nyaman. Dia memutuskan untuk beralih ke sisi Liyana, dan memeluk gadis itu dengan erat.
Maafkan aku, Liyana sayang..
Terlelap.
Beberapa jam kemudian..
__ADS_1
" Ugh.. " ( mulai membuka mata dengan perlahan ).
Dia menatapi seseorang yang tengah tertidur di sisinya, yang kemudian, entah kenapa rasanya begitu, ingin mencium bibir itu dengan mesra.
Bukankah kamu sedang marah ?? Seharusnya di saat seperti ini yang kamu pikirkan adalah, bagaimana kamu bisa satu kamar lagi dengan dia ?? Kenapa yang ada malah memikirkan bibir itu ?? Apa kamu benar-benar sudah ketergantungan pada pria tua itu ??
Huhh !!
" Bagaimana caranya aku bisa lepas.."
Dia mulai mencoba untuk berkutik. Tapi entah kenapa saat dia bicara pun rasanya pipi kirinya mati rasa. Di sana terasa begitu tebal dan lebihnya lagi, kenapa mendadak rasanya sakit ??
Ssshhh..
" Pipiku, sakit sekali.." ( meraba pipinya yang sakit ), " ini bahkan lebih sakit dari pada sakit gigi.."
Dia mencoba bergerak lebih lagi, untuk sekedar menjauh dari pria yang tengah dia ajak ribut ini. Tapi..
Grep !!
" Kamu mau kemana ?? Mau mengacuhkan aku lagi ?? Dan tidur dengan adik sepupuku itu ??" ( matanya melek dengan lebar ).
Yang di sebelah terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
" Kenapa ?? Jangan pergi, kemarilah, maafkan tanganku, ya, sayang.. dia memang sudah bersalah..."
" Tangan dan hati sama-sama keras !!! Kamu pikir tangan bisa bergerak sendiri tanpa di kendalikan otak ??" ( nada kesal ).
" Jangan banyak bicara.. aku akan memeluk kamu, jadi jangan banyak bertingkah.."
" Setidaknya jelaskan dulu padaku apa maksud tuan mengacuhkan aku siang ini.. juga kenapa kamu malah melempar aku pada pria lain.. apa kamu memang hanya menganggap aku sebagai wanita pemuas saja ??" ( dengan sangat kesal ).
Lishian terdiam. Bukan karena tidak bisa menjawab, melainkan dia tidak mampu melihat wajah Liyana nantinya jika mengetahui kalau dia sedang mencurigai dirinya dan mendiang ayah Liyana, tuan Yuanda..
" Kenapa diam ??"
" Apa kamu tidak merindukan aku ??"
" Jangan mengalihkan pembicaraan, aku masih marah karena kamu begitu saja mengacuhkan aku, dan dengan teganya memberikan aku pada tuan Goyuan, lalu setelah itu.. kamu memukul kamu berdua.. aku tidak suka..."
" Maafkan aku.."
__ADS_1