
Tap tap tap tap tap..
Mereka berdua sedang berjalan menuju bandara, dan akan segera meninggalkan kota X.
" Aku akan bicara pada nyonya Fi untuk membatalkan rencana pernikahan Fi Chan dengan Lishian.."
' Apa dia sudah setuju ??'
" Wanita itu telah membuat dia lupa siapa dirinya, aku tidak mempermasalahkan wanita itu, selama dia tidak tahu kalau dia putri seorang pria yang kita incar selama berpuluh-puluh tahun, maka tidak ada yang perlu di permasalahkan kalau dia hendak menikahi Lishian.."
Zhe Ruan masih terus berjalan di bandara..
' Baguslah.. aku jadi tidak perlu khawatir..'
" Aku akan segera naik, jadi ditutup dulu, ya.."
Bip !?
Fiuhh...
" Masalah di kota X sudah selesai. Untunglah Lishian menemukan posisi gadis itu, setidaknya bisa sedikit membantuku menemukan jejak Yuanda.. Sekarang, aku sudah bisa hidup dengan tenang.. Hhh..." ( lega ).
Flashback on !!!
' Liyana, bagaimana ini ?? Kamu dan dia, yang ayah lihat benar-benar jatuh cinta, sedangkan ayah dari awal berusaha menjauhkan kamu dari dunia para mereka, tapi ayah tidak bisa berkutik lagi, melihat kamu yang terlihat begitu senang saat bertemu lagi dengan pria anak mendiang Li itu, membuat aku juga harus berpikir lagi..'
Pria itu tengah menangis meratapi kesedihan dalam hatinya. Dia tahu, saat hadirnya keluarga besar Yu Huo ke hadapannya, berarti itulah waktu yang selama ini dia takutkan. Mereka tidak akan pernah segan untuk menghabisinya.
Arliyana memang sempat mengajak Yuanda untuk pindah dari rumahnya yang kemarin, biaya per bulan yang agak tinggi, dan kemunculan Lishian yang akhirnya tahu dimana letak rumahnya membuat dia harus pindah ke sebuah rusun yang agak sedikit lebih sempit. Tapi baru saja dia pindah dan belum menikmati hidup di dalam rusun itu, Lishian malah masuk rumah sakit, dan membuat Liyana akhirnya menunggu tuan muda itu disana. Ayahnya beberapa hari semenjak pindah ke rusun, dia hanya tinggal sendiri di sana. Tidak menyangka kalau ajal ayahnya malah begitu dekat.
Tok tok tok..
" Siapa mereka ???"
Was-was..
Yuanda memberanikan diri untuk membuka pintu, dan melihat seorang pria pengirim paket.
" Aaa, ternyata hanya tuan paket saja.." ( lega ).
__ADS_1
Entahlah.
Sejak kehadiran keluarga besar Yu Huo, mendadak hidupnya tidak pernah tenang. Selalu saja was-was dan mencurigai orang. Iya, dia takut harus kehilangan nyawa saat seharusnya dia ada di sisi Liyana untuk menjaganya..
" Paket untuk anda.."
" Iya, baiklah, terima kasih.." ( menerima ).
Klak !!?
Tapi sesuatu yang mengejutkan malah mendadak terjadi. Hari itu, masih pukul sembilan pagi, dan orang-orang di jam itu sudah sepenuhnya berangkat bekerja. Suasana rusun benar-benar sangat sepi, dan tidak ada yang berlalu lalang sama sekali.
Pria itu menodongkan sebuah pis*ol yang kemudian membuat Yuanda takut, dan juga sadar. Sebisa apapun dia berusaha menjauh dari keluarga Yu Huo, tetap saja, mereka punya kepribadian yang tidak bisa diremehkan, mana mungkin bisa sebegitu mudahnya melepas musuh lama.
" Jangan bun*h saya, aku mohon.." ( mengangkat tangan ).
Sang pria yang kemudian memutari Yuanda, akhirnya berhasil membuat posisi Yuanda menjadi sebaris dengan pegangan tangga. Dia tidak bisa berkutik lagi saat pria di depannya terlihat semakin mendekat, dan mencoba menakuti Yuanda. Padahal bukan itu rencana awal sang pria berjaket hitam tersebut.
Yuanda semakin gelisah. Di belakang, adalah sebuah ruangan lebar yang memperlihatkan dasar lantai bawah rusun, dan ujung atap rusun. Dia tidak bisa mengambil pilihan, lari, sudah pasti akan di habisi dengan mudah, dan melompat ke bawah, tentu saja dia akan langsung tewas di tempat.
Dia mulai terkecoh, mengikuti alur yang sengaja di sediakan sang pria yang entah siapa itu, dia pun tidak tahu. Dengan tubuh yang terus-menerus gemetar karena takut, dan perkataan permohonan yang terus dia lontarkan, nyatanya membuat dia terkecoh. Dia akhirnya jatuh ke lantai paling bawah, yang kalau dihitung, rumahnya berada di lantai lima, dan pasti, akan langsung tewas.
Brakk !!!
Puffff
Darah seketika menyembur dari mulut dan beberapa bagian tubuhnya, menandakan kalau tubuhnya hancur karena jatuh dari lantai lima.
Yang di atas hanya melihat dengan tersenyum puas. Usahanya tidak sia-sia dan berhasil memainkan pertandingan tanpa harus menyentuh.
...****************...
Hari ini Liyana memutuskan untuk pergi dari rusun itu, dan kembali ke Asrama. Dia tidak bisa mengelak lagi, terlalu mengejutkan baginya saat mendengar kematian ayahnya yang begitu mendadak. Sedih sekali.
" Aku akan membantu kamu untuk berkemas."
" Maaf merepotkan kamu tuan.."
Sang tuan menggenggam erat tubuhnya yang kecil dan ramping. Dia memperhatikan wajah yang begitu sayu dan sedih. Sudah dari dua hari yang lalu dia bahkan tidak nafsu makan. Meski Lishian begitu memperhatikan Liyana sejak dua hari itu, tapi tak bisa dipungkiri juga kalau dia hanyalah seorang pria biasa, yang tidak tahu bagaimana cara merawat gadis yang sedang terkena masalah.
__ADS_1
" Jangan sedih lagi, kalau kamu terus bersedih, maka jangan pernah berharap untuk bisa keluar dari rumahku.."
" Ah ?? Jangan tuan, aku juga harus kuliah, kalau terus berada di sisi tuan, lalu bagaimana aku bisa kuliah ??"
" Karena itulah, cepat hapus kesedihan kamu, aku tidak mau melihat matamu yang sayu begitu.."
" Baik.." ( menuruti ).
Liyana mulai bekerja membereskan barang, sedangkan Lishian juga turut membantunya, mulai dari mengemas pakaian, dan kemudian memeriksa surat yang ada di luar. Dia menatapi tempat yang di gadang-gadang menjadi tempat jatuhnya tuan Yuanda..
Tempat yang begitu tinggi.. Dan seharusnya tuan Yuanda sadar kalau berdiri di tempat itu akan sangat berbahaya, kecuali kalau dia memang sedang melamun, atau mungkin penyakit jantungnya kambuh, yang tidak bisa ditahan, lalu tidak sengaja jatuh dari lantai lima ini. Mungkinkah begitu ??
Tunggu dulu !!
Seingat dia, saat itu ada yang bicara kalau sebelum Yuanda mati, dia sempat menerima sebuah paket yang bahkan belum sempat dibuka. Apa mungkin, kematian Yuanda memang bukanlah hal yang wajar ??
Mengambil ponsel..
Mengirim pesan..
' Qian, aku dengar tuan Yuanda sempat menerima paket sebelum dia tewas, bisakah tolong Carikan paket yang di maksud untuk melihat apa isinya ??'
' Baik, tuan.. akan saya cari tahu.'
Fiuhh...
Semoga saja ini memang benar hanya dugaan. Tapi dia juga tidak tahu, mungkinkah dugaan itu benar, atau salah. Yang pasti, sekarang pria yang dia duga mengetahui sesuatu tentang keluarganya sudah tewas. Dan akhirnya, dia mungkin harus terpaksa memberhentikan pemikirannya ini.
Dia kembali masuk usai mengambil beberapa surat untuk Liyana, dan mencari keberadaan gadis itu. Dia mencari kesana-kemari dan akhirnya menemukan gadis itu yang sedang terduduk di kamar sang ayah..
Duduk menghampiri, dan melihat sebuah foto yang di pegang oleh Liyana..
Hiks hiks hiks..
" Sudah aku bilang jangan menangis.." ( memeluk ).
" Aku hanya sebatang kara sekarang.. aku tidak punya siapapun lagi..." ( tangis pecah dan tumpah dalam pelukan Lishian ).
Lishian yang juga terlihat sedih, hanya menatapi tiap sudut ruangan yang kemudian, akhirnya terpaku pada sebuah benda..
__ADS_1