
" Tapi ayah, apa ini tidak terlalu cepat ??" ( ucap Gerald menyeka ).
" Memangnya kenapa ?? Cepat atau lambat juga ayah harus membagikannya bukan ??"
" Tidak, ayah, jangan sekarang.. aku idak bisa, lebih baik kita bicarakan semua itu nanti setelah kak Ellon menikah.."
" Tidak, jika ayah mau membagi semua itu sekarang, maka lakukan saja.." ( ucap Ellon mendadak setuju ).
' Jika aku berhasil mendapat perusahaan ayah yang bekerja sama dengan perusahaan tuan N, mungkin aku masih bisa mencegah pernikahan ini.. meskipun, setelah itu aku juga harus mencari tahu bagaimana caranya untuk memberitahu semuanya pada ayah..'
" Ah ?? Apa kakak setuju ??" ( bingung sendiri ), " baiklah kalau begitu, terserah ayah dan kakak saja.."
" Iya, baik, aku akan mulai dari bagian Ellon.."
Sekitar satu jam perundingan pembagian harta warisan itu terjadi. Dan hasilnya..
' Huhh... ayah memberikan perusahaan itu pada Gerald, lalu bagaimana caranya aku menggagalkan rencana pernikahan ini ??'
" Tuan ?? Tuan ??"
Bocah kecil itu membangunkan lamunan Ellon yang sedang berdiri di hadapan jendela kamar.
" Ah ?? Tidak, aku tidak apa-apa.. aku hanya.. sedikit bingung.."
" Apa ini tentang rencana pernikahan kita ??"
" Tentu saja, apa lagi yang aku pikirkan selain itu..."
" Apa kamu sama sekali tidak punya jalan lain selain menikahi aku tuan ??"
Pertanyaan yang terlalu banyak.
" Aku hanya tidak bisa membiarkan ayahku mati, itu saja.."
Tes !?
Bahkan seorang pria yang arogan pun bisa menitihkan air matanya.
Mira melihat mata itu dengan sangat iba. Entah apa yang mendorongnya, hingga dia tanpa berpikir panjang mendadak memeluk tubuh Ellon, dan merengkuhnya dengan penuh rasa kasihan.
" Apa tuan menangis ?? Bisakah jangan menangis di depanku..."
Ellon tergerak. Dia menghentikan aliran air matanya, dan beralih membenamkan wajahnya di balik ceruk leher Mira..
" Terima kasih sudah perduli padaku..."
" A ??"
Pria itu mengalihkan pandangannya menuju wajah Mira dengan begitu dekat. Sekarang mereka bahkan bisa mendengar detak jantung masing-masing, dan bisa bertatap muka seintens itu.
Nafas Ellon memburu, dan terengah mendapati wajah Mira yang menggemaskan bagaikan boneka.
__ADS_1
Lalu tanpa berpikir panjang .
Cup !?
Dua orang itu hanya saling merintih dalam diam. Menyalurkan berbagai macam perasaan lewat gerakan yang perlahan dan seolah sedikit menghilangkan beban pikiran dalam otak masing-masing. Meskipun tidak ada cinta, juga tidak ada yang bisa mereka lakukan setiap hari selain bertengkar, namun entah hal apa yang membuat tubuh Mira pun ikut meliuk-liuk mengikuti irama yang di salurkan Ellon padanya.
Dua orang itu kembali bersatu, dan menikmati indahnya sentuhan satu sama lainnya. Bahkan sekarang, dalam keadaan yang rumit seperti inipun, tidak masalah juga kalau saling merasakan kenikmatan bercampur peluh itu.
" Ugh..."
Deru nafas yang semakin memburu, di tambah lagi dengan ocehan-ocehan dan des*han yang keluar dengan sendirinya dari mulut Mira, membuat Ellon sejenak melupakan perasaannya yang rumit..
" Ssshhh..."
Dan akhirnya, setelah sekian lama bertempur dalam hangatnya balutan selimut di kamar Ellon, mereka mencapai akhir yang sangat memuaskan..
Brukk !?
Pria itu tergeletak di sisi Mira..
" Ugh...." ( si gadis masih terpejam ).
Ellon menoleh ke arah Mira, dan perlahan memeluk tubuh itu dari depan..
" Malam ini, puaskan aku lagi.."
Cup !?
Kecupan singkat..
" Kenapa ini ?? Kenapa dia tidak bisa di hubungi ?? Apa dia sedang sibuk ??"
Liyana mengoceh sendiri di depan laptop yang sedang berusaha di perbaiki Lishian.
Jujur saja, Lishian di buat pusing oleh tingkah laku gadis kecil ini.
" Apa yang sedang kamu lakukan ?? Aku tidak bisa fokus memperbaiki laptop ini, beli saja yang baru.."
" Tapi semua data dan penghasilan menulisku ada di laptop ini, dan besok juga aku harus membawanya ke kampus.." ( nada memohon yang memaksa ).
" Sudahlah, diam, jangan merengek, aku akan coba perbaiki, lagi pula ini kan keahlian Goyuan, dan aku tidak ahli dalam hal ini.."
" Aku tahu apa keahlian kamu.."
" Memangnya apa ??"
" Menggodaku.."
Lishian menghentikan aktifitas memperbaikinya. Dia tersentak tatkala mendengar kata itu meluncur dengan lancar dari mulut Liyana.
" Hmm.."
__ADS_1
" Apa ? Memang begitu, kan.. kamu ini suka sekali menggoda orang, terlebih lagi padaku, oh iya.. satu lagi hobi kamu yang sangat aneh bagiku.."
" Apa lagi ??"
" Kenapa kamu sangat suka memukul orang ??"
" Kamu sedang menyindir aku ??"
" Iya.. kenapa memangnya ??"
" Tidak !!"
" Ya sudah, aku mau pergi, aku harus menyiapkan makan malam untuk tuan bukan.."
" Aku pikir kamu jadi angkuh setelah merasa kedudukan kamu lebih tinggi dari pada Lalisa.."
" Apa aku seharusnya sombong ?? Untuk apa ?? Ini bukan rumahku, dan jika suatu hari nanti aku jadi istrimu pun aku tidak berhak sombong di atas lantai ini, hanya saja, yang aku tahu, seorang tamu itu juga sama seperti raja. Jadi mungkin itu artinya kamu harus memperlakukan aku sebaik mungkin.."
" Apa permainan semalam tidak begitu baik ??"
Liyana terdiam lama, dan sedang asik memikirkan jawaban apa yang akan dia keluarkan nanti.
" Memang tidak, tuan bermain terlalu keras, dan selalu saja seperti itu, apa tuan tidak kasihan pada tubuhku yang kecil ini ??"
Lishian membangkitkan tubuhnya dengan segera saat mendapati rengekan gadis itu padanya..
Memeluk..
Mencium bibir..
" Mau bermain dengan halus ?? Kalau begitu, mari kita lakukan.."
Dengan cekatan, tangan Lishian mengangkat tubuh Liyana yang mungil itu, dan mendekapnya menggunakan kedua tangan. Perlahan, sesuai perintah dari si gadis, dia menciumi dengan lembut bibir ranum berwarna peach itu. Bergerak lebih dalam lagi, dia menuju ceruk leher Liyana yang sudah melukiskan betapa kejamnya dia selama ini. Beberapa bekas jeratan nafsunya terlihat dengan jelas menghiasi leher jenjang gadis itu. Tapi bukannya membuat dia jera, malah semakin tergoda tiap kali melihat luka merah di leher Liyana.
" Ugh.. jangan menolakku, kamu harus membuat aku menikmati tubuh ini sebelum kita berpisah esok.."
Liyana menatapi sorot mata Lishian yang sangat mengharap dia membuka seluruh kain yang menutup tubuhnya.
" Meskipun kamu masih mencurigai aku, tapi aku juga sama, membencimu..."
Sret !!!
Dengan cepat, Liyana menarik kaus putih polosnya dengan satu tangan saja, hingga membuat semua bagian tubuhnya terlihat begitu jelas di depan Lishian.
Sementara pria yang masih dalam posisi yang sama, membopong tubuh Liyana itu, hanya mengatur detak jantungnya yang berdegup tak menentu. Sesekali dia mempermainkan dua benda kenyal di depan wajahnya itu, dan menggerayangi mereka. Si kembar yang membuat candu.
' Aku tahu kalau kita berdua sama-sama bodoh, sudah tahu saling curiga, tapi mengapa masih saja senang saat saling menikmati.. apa karena hubungan ini membuat kita merasa candu ??'
" Hhh.. hhh.. hhh...."
Dan suara itu, suara yang terkadang sukses membuat Lishian melakukan pelepasan hingga beberapa kali, mendadak kembali terdengar tatkala adik kecil miliknya itu mulai bergerak maju dan mundur.
__ADS_1
" Ugh..."
' Liyana.. gadis kecil ini canduku..'