
Aza POV
“Za kamu gak pulang?”
tanya kak eva yang sudah bersiap untuk pulang, memang waktu menunjukkan untuk
pulang. “Tidak kak, masih banyak laporan yang harus aku teliti, hari ini aku
lembur” jawab aza, memang rencana hari ini lembur soal banyak tugas yang menumpuk
dan harus diserahkan paling lambat besok, “ya udah kamu hati-hati, jangan
terlalu malam pulangnya kakak pulang dulu” nasihat kak eva, “ iya kak,
makasih”.
Waktu menunjukkan pukul
7 malam banyak pegawai yang sudah pulang akan tetapi masih ada beberapa yang
lembur, “Aza?” panggil pak hendra ternya juga lembur,
“iya pak”
“hari ini kamu lembur?”
tanya pak hendra
“iya pak hari saya lembur
ini tinggal sedikit nanggung kalau dikerjakan” jawabku
“oooo, za saya titip
dokumen ini tolong kamu antarkan ke ruang CEO nanti jam 8 saya mau pulang
sekarang soal istri saya sakit” kata pek hendra sambil menyerahkan dokumen
yanng sepertinya penting.
“iya pak saya akan
antarkan, tapi memang pak bos ada di kantor?” tanyaku penasaran, apa pak bos
__ADS_1
juga lembur. Jujur aku belum pernah bertemu dengan pak bos yang katanya
ganteng.
“iya, beliau ada
dikantor kamu langsung saja antarkan saja” perintah pak hendra
“Siap pak, saya akan antarkan ke raung pak bos” jawabku dengan sikap hormat ala milter, pak hendra tersenyum kecil melihat kalukanku “ya sudah saya pulang dulu, kamu pulang juga jangan malam-malam” nasihat pak hendra, “baik pak, hati-hati dijalan dan semoga istri bapak cepat sembuh” teriakku melihat kepergian pak hendra.
Setelah menerima dokumen dari pak hendra aku kembali berkutat dengan tugas-tugasku yang tinggal sedikit lagi akan selesai.
Pukul 8 malam tepat semua pekerjaanku selesai, sesuai dengan perintah pak hendra aku keruang CEO untuk menyerahkan dokumen yang dititipkan. Ruang CEO terletak pada lantai 18.
Sampai di lantai 18 suasana kantor sangat sepi, memang lantai 18 khusus untuk ruang kerja CEO dan sekretaris, kulihat meja sekretaris sudah kosong, mungkin sudah pulang memangkan sudah malam, sampai di depan pintu besar yang bertanda CEO aku mengetuk pintu
Tok tok (anggap aja suara pintu)
“permisi?” tanyaku soal disini sangat sepi,
lama menunggu tidak ada sahutan sekali lagi saya mengetuk pintu untukmemastikan,
“permisi pak?”
Saat aku akan pergi aku
mendengar suara tangisan bayi, aneh disini kan tidak ada bayi kan, “apa mungkin
anak tuyul” gumanmku pada diriku, emang
ada anak tuyul kan tuyul juga anak-anak emang anak punya anak? Pikirku mulai
ngelantur. Tapi kok berasal dar ruang CEO ya, emang pak bos pelihara tuyul kan udah kaya?
Dengan berani aku memasuki ruang CEO untuk memastikan itu bukan tuyul, “permisi pak” aku mendorong pintu dan aku langkahkan kakiku ke dalam ruangan tersebut, yang aku lihat hanya
ruang besar dengan meja kerja beserta sofa untuk tamu, tangasin bayi terdengar
makin keras berasal dari pintu hitam yang berada dalam ruang tersebut, dengan
rasa penasaran aku memasuki pintu tersebut. Yang aku lihat sebuah ruangan
dengan ranjang besar dan beberapa perabitan yang ditata rapi “mungkin ini ruang istirahat pak bos” , ditengah ranjang ada bayi yang menangis dengan keras,karena kasian aku langsung masuk dan menggendong untuk menenanggkan bayi tersebut “bayi siapa ini kok di tinggal sendiri, cucup sayang takut sendiri ya.. tenang sayang ada kakak cantik
__ADS_1
disini” kataku sambil menenangkan sang bayi, aku merasa kasihan pada bayi ini
dia sendirian diruang besar ini.
Setelah menimangnya cukup lama akhirnya dia tenang, sekarang aku melihat dengan jelas bahwa bayi ini berjenis kelamin laki-laki, dan dia sangat tampan dengan rambut hitam, pipi gembil dan bola mata besar melihatku kyaaaaa “kamu sangat lucu sayang” kataku
sambil menciumi pipi gembilnya.
“ngomong-ngomong kenapa
kamu disini sendiri mana orangtuamu” tanyaku pada bayi ini hanya di tanggapi
tawa riang dari sang bayi, “bodoh kamu za
emang bayi bisa ngomong” aku meruntuki kebodohanku sendiri mengajak bayi
berbicara paling ditanggapi dengan ocehan bahasa planet yang aku tidak
mengerti.
Sekarang aku bingung mau aku apakan bayi ini, kalau di tinggal kan kasihan sendirian disini, tapi kalau aku bawa kalau di cari orangtuanya bagaimana nanti dikira aku penculik bayi. Tapi kitanya bayi ini anak pak bos deh soal kan di ruang istirahat pak
bos, tapi kan pak bos belum ada kabar menikah, atau jangan-jangan anak luar nikah
pak bos, karena malu pak bos nyembunyiin semua, dasar laki-laki maunya enaknya
aja gak mau tanggung jawab.
Karena aku tak tega meninggalkannya aku menemaninya sampai nanti ada yang mencarinya sekarang aku
malah asik main dengan bayi ini, aku mau meletakkan bayi ini pada ranjang agar kembali tidur, tapi setelah aku membaringkannya malah nangis lagi.
Ouwe ouwe ouwe (anggep aja suara bayi angis)
Terpaksa aku menggendongnya lagi, aku meninangnya sampai dia bertidur.
Cukup lama aku menimanngnya akhirnya dia tidur, aku letakkan kembali ke ranjangnya tidak lupa aku kasih bantal disamping kanan-kirinya biar tidak jatuh. Kyaaaaa... bayi ini
sangat lucu meski sedang tidur, aku cukup lama mengamati bayi ini sampai ada
suara yang mengagetkanku
“Apa yang kamu lakukan
__ADS_1
disini?”