
Author POV
Setelah aza berpamitan dengan teman-temanya di langsung pergi untuk mengembalikan baby elo ke nando, sepanjang perjalanan aza menwarnai dengan tawa ceria dari baby elo berbanding terbalik dengan nando yang sekarang bingun mencari baby elo, ‘kamu lucu sekali sayang” kata aza gemas dengan baby elo, aza bermain menciumi pipi tembam baby elo yang di tanggapi tawa ceria dari baby elo.
Sampai di depan ruang kerja nando aza langsung mengetuk pintu, tok tok tok
Karena tidak ada jawaban dari dalam aza langsung masuk ke dalam, dimana ruang itu kosong tanpa melihat batang hidung nando, “baby dimana manusia kutub itu?” tanya aza pada baby elo, tentu saja dihanya di tanggapi dengan tatapan polosnya.
“apa ayahmu masih kerja? Dasar manusia kutub mentang-mentang kerja ninggalin anak sendiri awas aja nanti” dumel aza yang hanya di tanggapi coletehan dari baby elo.
Aza melihat karpet yang berisi mainan, pasti untuk baby elo, aza menurunkan baby elo dan mengajaknya bermain sambil menunggu nando.
Berbeda dengan aza yang asyik bermain dengan baby elo sedangkan nando bingun mencari baby elo keseluruh perusahaan dan bahkan mengerahkan semua security untuk ikut mencarinya. “sudah ada kebar di?”tanya nando pada andi, “belum pak” jawab andi cemas melihat bosnya yang siap untuk meledak akan kemarahan dan kecemasan tentang hilangnya baby elo.
“bagaimana belum ada kabar, mencari bayi saja baru bisa merangkak tidak becus” marah nando,
“semua sudah mencarinya pak keseluruh gedung, tidak ada tanda-tanda baby elo dimanapun” jelas andi pada nando
Nando POV
Aku sudah bingun untuk mencari bayiku kemana lagi seluruh gedung sudah aku periksa bersama anak buahku, lagian andi kenapa meninggalkan baby elo sendiri sih, dia sudah bisa meranggak dan terhitung bayi
__ADS_1
yang aktif dia tidak mau diam di tempat dalam waktu lama.
“cari baby elo sampai ketemu jangan kembali kalau tidak ketemu” ucapku mutlak kepada semua bawahanku.
Aku kembali keruangku untuk menghubungi anak buahku yang lain agar membantu mencari baby elo, sampai di ruangku kerjaku aku mendengar suara tawa bayi yang aku sangat kenali yaitu suara tawa baby elo aku
langsung menghampiri sumber suara tersebut dan kulihat adalah baby elo sedang bermian dengan wanita kemarin malam yang datang ke ruanganku.
“baby elo” ucapku pada baby elo yang menoleh setelah aku panggil dia menampakkan senyum dari bibir kecilnya
“kamu kemana saja baby papa mengkhawatirkanmu” kataku sambil mengambil baby elo dan menggendongnya. Aku melihat wanita itu sebelum aku berbicara dia sudah marah-marah terlebih dahulu
“pak nando YANG TERHORMAT kalau anda membawa baby elo ke kantor TOLONG pak nando untuk menjaga dengan benar jangan di tinggalin sendiri dong pak, nanti kalau diculik bagaimana, kalau diculik manusia mending pak nanti minta tebusan sama pak nando secara pak nando kaya, tapi kalau di culik kolongwewe bagaimana pak, gak bisa balik pak......” cerocos wanita itu panjang lebar entah apa yang dikatakan wanita itu dari tadi dia berbicara tanpa henti dan sepertinya dia menasihatiku agar tidak mengninggalkan baby elo.
“dasar tidak sopan memotong pembicaraan orang” kata wanita itu dengan wajah kesalnya.
“siapa kamu nona berani masuk keruangku dengan sembarangan dan bermain dengan baby elo, apa kamu mau menculik baby elo” tanyaku padanya
“sembarangan kalau bicara, mulut dijaga pak jangan kayak mulut tetangga pedasnya minta di tampol” ucapnya padaku,
“saya kesini mau balikin baby elo ke bapak soal saya nemu di lift sendirian, makanya kalau punya anak jangan di tinggal pak dan ya pak nama saya ATALIA AZAHRA biasa dipanggil aza” kata wanita itu memperkanalkan dirinya padaku, menurutku nama yang yang bagus sayang dia agak gila mungkin.
__ADS_1
Author POV
Ruang kerja nando sunyi hanya celotehan dari baby elo yang mengisi kediaman dari dua orang yang sekarang saling bertatapan dengan sengit, mereka berdua adalah nando dan aza mereka memiliki kekesalan masing-masing dalam diri mereka, aza yang kesal dengan nando karena meninggalkan baby elo sendiri dan saat dia mengembalikannya malah dapat wajah datar dari nando, sedangkan nando kesal karena aza tidak sopan pada nando dan mulut cerewet aza.
“pak saya boleh kembali ke pekerjaan saya?” tanya aza pada nando
“ pergi sana kamu tidak di butuhkan disini” ucap nando dengan ketus di tambah wajah yang datar
“kalau gak mau jawab, yaudah gak usah jawab pak, dari pada di jawab dengan ketus di tambah muka bapak yang datar kayak papan triplek awas pak nanti cepat tua lho,,.. terus gak ada yang mau deh yang jadi istri bapak, soal udah tua mukanya kayak triplek lagi kan ogak” ucap aza panjang lebar dan mengkritik bosnya tersebut, nando yang di samakan dengan triplek pun menjadi marah dan tidak terima, nando termasuk duren yang di cari para wanita, tampan dan kaya sudah melekat pada nando dia tidak terima dijelekkan oleh aza,
“KAMU! Menyamakan saya dengan papan triplek, beraninya kamu mau saya pecat” ucap nando dengan suara yang cukup tinggi
“ya gak bisa gitu dong pak saya cuman menyatakan kebenaran pak, memang kan wajah bapak datar gak ada ekspresi apapun ya samakan sama papan triplek kalau gak percaya saya nanti carikan papannya deh terus di sanding sama wajah bapak kan sama pak” ucap aza dengan polos
“KELUAR SEKARANG JUGA” ucap nando mengusir aza dari ruangan tersebut
“keluar ya keluar pak gak perlu teriak kali, awas nanti darah tinggi lho pak, gak baik untuk kesehatan, ya gak baby?” kata aza sambil meminta persetujuan dari baby elo yang dari tadi di gendongan aza. “kamu yang bikin saya darah tinggi, sekarang juga kamu keluar dari ruangan saya SEKARANG JUGA” nando benar-benar kesal dengan aza yang dari tadi bukannya takut malah membatah nando terus, selama tidak ada yang berani membantah nando hanya aza satu-satunya yang berani untuk menjawab semua perkataan dari nando.
Aza yang melihat nando yang marah segera untuk pergi dari ruangan tersebut, aza menurunkan baby elo yang masih digendongan aza ke karpet bulu yang ada. Tetapi saat baby elo turun dari gendongan aza otomatis menangis dan tidak mau terpisah dengan aza, melihat itu aza tidak tega dan menggendonganya kembali.
“pak, baby elo gak mau saya turunin” ucap aza pada nando yang mencoba mengontrol emosinya
__ADS_1
Nando yang melihat anaknya menangis dan tidak mau turun dari gendongan aza langsung menghampirinya untuk mencoba untuk menggendongnya, akan tetapi baby elo juga tidak mau untuk digendong nando, dia cuman mau di gendong oleh aza.
“baby sama papa ya” nando mencoba membujuk baby elo agar mau turun dari gendongan aza. Baby elo masih menolak turun dari gendongan aza, melihat itu aza merasa kasihan dan terus menimangnya agar baby elo tenang. Nando yang melihat itu hanya bisa pasrah tentang kedekatan baby elo dan aza.