Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 10 : Penggusuran Panti


__ADS_3

Suasana super canggung terlihat jelas karena keduanya bersikap seperti salah tingkah.


"Oh, Tuhan, wanita ini menggemaskan sekali. Ingin kumakan saja rasanya." gumam Reygen dalam hati.


"Masuklah!"


Reygen mempersilahkan Ayas untuk masuk dan memastikan gadis cantik berbusana muslimah itu masuk kedalam rumahnya dengan keadaan selamat.


"Terima kasih."


Ayas segera melangkah masuk setelah membuka pagar halaman panti dan ia sempat tersenyum ketika menoleh pada Reygen saat tubuhnya akan segera menghilang dibalik pintu panti.


'Ah, sial... kenapa perasaanku tidak karuan seperti ini?'


Reygen seolah tidak rela ditinggalkan oleh Ayas dengan keadaan hatinya yang sedang bercampur aduk. Entah rasa apa yang sedang hinggap di hatinya saat ini, karena ia merasa semua rasa telah bercampur baur sehingga sulit membedakan mana asam, manis atau pahit sekalipun.


Reygen masih tertegun di depan pintu pagar halaman panti, hingga nada dering ponsel yang membuatnya sedikit tersentak.


"Ah, Ronald... Sorry, gua lupa."


Reygen sambil menepuk Keningnya dengan tangan kanan.


Ia pun segera berbalik dan berjalan menuju mobil yang terparkir didekat bahu jalan dan sesekali menoleh kebelakang sambil tersenyum tidak jelas.



Baru saja Reygen membuka pintu apartemen Ronald, Ia sudah dihadapkan dengan pemandangan yang cukup mengerikan. Tatapan Ronald yang memicing membuat Reygen berbalik menatapnya lebih sadis.



"Lo abis dari mana, sih?"


Ronald langsung menyerang Reygen dengan pertanyaan, dan nada bertanya Ronald yang setengah berteriak membuat wajah Reygen semakin merah menahan emosi.



"Kunci mobil, Lo!"


Reygen melempar kunci mobil ke arah Ronald yang sedang duduk di sofa ruang tengah apartementnya.



"Rey, gua nanya, Lo dari mana, hah?"


Ronald bangkit dari sofa dan menghadang Reygen yang akan meninggalkannya menuju kamar ruang tamu.



"Perlu, gua jelasin?"


Nada sinis dari Reygen membuat amarah Ronald semakin memuncak.



"Bisa, gak, sih, Lo belajar hargain orang lain?"


Ronald semakin meradang sampai Ia mencengkeram kerah baju Reygen.



Reygen melepaskan cengkeraman tangan Ronald yang bersarang dikerah baju depannya dengan kasar.



"Gua lagi gak mau berantem."


Reygen melanjutkan langkahnya menuju kamar yang ia tempati, sedangkan Ronald masih bersungut-sungut memaki teman yang tak beradabnya itu.



"Kenapa, sih, dia, makin aneh dan menyebalkan saja."

__ADS_1


Gumam Ronald dengan rasa kesal dan bercampur penasaran.



Pagi mulai menyapa, Ronald yang sudah bangun dan segera pergi ke dapur untuk memanggang roti sarapannya. Reygen yang juga sudah membuka matanya tapi masih enggan beranjak dari kasur empuknya.


Ia telentang sambil membuat bantal dari kedua tangannya dan memandangi langit-langit kamar Apartement Ronald.


Reygen berusaha menyangkal rasa yang telah bersarang di dalam hati dengan logika dan egonya.


Setelah dirasa cukup untuk menyeimbangkan rasa, Reygen segera keluar dan menghampiri Ronald yang sedang menunggu roti panggangnya matang.


"Bikinin gua satu!"


Suara datar dari Reygen membuat Ronald menoleh.


"Bikin aja ndiri!"


Ronald hanya membalas dengan nada cukup sinis.


"Lo masih marah?"


Reygen merasa bersalah dengan sikapnya semalam, nadanya tak sedingin biasanya.


"Ternyata, hati Lo, masih bisa peka ya,"


Sudut bibir Ronald terangkat diujungnya.


"Gua minta maaf?"


Permintaan maaf Reygen membuat mata Ronald melebar seketika dan mulutnya membuka keheranan, sejak kapan sahabatnya itu tahu kata 'maaf' karena selama ini Reygen tak pernah mengucapkan kata 'maaf' dalam hidupnya, ia terlalu egois dan selalu ingin menang sendiri.


"Hahaha ... kuping Gua masih normal kan?"


Ronald tertawa terbahak dan memegangi kupingnya membuat Reygen hanya tersenyum tipis.


"Gua mau balik kerumah."


"Lo, udah baikan sama nyokap, Lo?"


Permintaan maaf Reygen membuat api amarah Ronald padam seketika, betapa tidak karena baru kali ini seumur hidupnya Reygen mengucapkan kata maaf padanya. Reygen hanya manggut-manggut sambil tetap menikmati tembakaunya.


"Serah Lo, lagian gua rugi bayar karyawan tipe kayak, Lo!"


Mendengar perkataan Ronald, Reygen hanya tersenyum tipis dan Ronald mengambil roti panggangnya lalu meletakkannya diatas piring yang telah ia sediakan.



"Akhirnya kamu pulang juga."


Evelyn yang melihat kedatangan Reygen didalam rumahnya tersenyum senang karena Reygen menginjakkan kakinya kembali dirumahnya.


"Duduk, sini!"


Evelyn menepuk sofa disebelahnya untuk di duduki oleh Putra semata wayangnya. Reygen pun segera menduduki sofa panjang disebelah Evelyn.



"Bagaimana, kamu sudah siap terjun ke dunia bisnis dan mengurus perusahaan papi mu?"


Evelyn sudah tak sabar mendengar Reygen untuk segera menduduki jabatan tertinggi menggantikan almarhum kakaknya yaitu Reddick.



"Kasih, Rey waktu buat mempersiapkan diri Mom,"



"Hmm, momy udah gak ada waktu lagi Rey, karena harus segera terbang. Kasian papi mu sendirian di sana."


__ADS_1


"Satu atau dua hari ini Rey akan langsung menemui Cakra."



"Baiklah, cukup membuat lega. Besok Momy akan langsung terbang,"



"Hm."


Reygen hanya berdehem dan menganggukkan kepalanya.



Pagi yang cerah mulai menyapa, ternyata proses penggusuran panti dipercepat karena akan segera dibangun sebuah gudang demi kepentingan perusahaan.


Cakra, sepupu dari Evelyn belum mendapat kabar mengenai pembatalan penggusuran tanah Panti akhirnya siang ini sejumlah alat berat telah sampai didekat area panti.


Semua penghuni panti tampak menangis dan entah harus berbuat apa, sedangkan Ayas sudah berangkat ke kantor Pemerintahan Daerah untuk menanyakan dokumen yang kemarin ia berikan pada Sarah sekalian ada sesuatu yang akan Ayas urus mengenai Taman Kanak-kanak yang ada di Panti.


Ayas sengaja berangkat di pagi buta karena takut akan kemalaman lagi seperti waktu itu, Ia tidak mengetahui masalah panti saat ini karena bunda Dahlia melarang siapapun untuk memberitahunya, Ia hawatir putri satu-satunya itu akan syok mendengar kabar ini dan tergesa-gesa dengan urusannya.


Semua penghuni panti berteriak histeris melihat Alat berat yang perlahan tapi pasti merobohkan bangunan sedikit demi sedikit sampai rata dengan tanah, bunda Dahlia yang memiliki lemah jantung akhirnya roboh ke tanah melihat kejadian hari ini, jantungnya tidak kuat menahan amarah dan gejolak kesedihan.


Para pengurus panti bertambah panik dan segera membawa Bunda Dahlia ke rumah sakit terdekat. Sedangkan anak-anak Panti diurus oleh Meta dan Mety selaku pengurus panti.


Melihat bunda Dahlia yang sudah beberapa jam tidak sadarkan diri membuat salah satu pengurus panti tetap menghubungi Ayas melalui sambungan ponselnya.




Pukul 15.30.



Mendengar kabar dari salah satu pengurus panti membuat tubuh Ayas lemas serasa tak bertulang, seketika itu tubuhnya roboh bersimpuh dan menangis tanpa suara membuat Sarah yang sedang bersamanya membulatkan mata dan terperangah melihat Ayas dengan keadaan seperti itu.



"Yas, kamu kenapa?"


Sarah panik dan segera mensejajarkan tubuhnya dengan Ayas kemudian Ia memegangi pundak Ayas yang sedang duduk bersimpuh di atas tanah. Ayas hanya diam dan kemudian ia memeluk Sarah dengan sangat erat.



"Panti digusur, Kak!"


Suaranya parau dan tak bertenaga air matanya mengucur deras, seketika itu Sarah memeluk Ayas diiringi suara tangisan yang pecah dari Ayas.



"Ayo bangun, kita ke panti sekarang."


Sarah dan Ayas memang baru saja tiba di kostan Sarah setelah Sarah selesai dengan jam kerjanya.



Sarah segera memesan transportasi online melalui aplikasi hijau pada ponselnya. Selang beberapa menit taxi online pun segera datang dan mereka langsung menumpanginya menuju panti.



Perjalanan yang cukup memakan waktu itu akhirnya berakhir di depan bangunan yang telah rata oleh alat berat.



Ayas keluar dari kendaraan dan terpaku melihat keadaan yang ada dihadapannya. Ia merendahkan tubuhnya dan bersimpuh lalu meraih puing-puing bangunan yang telah hancur.



"Aku gak akan maafin dia."

__ADS_1


Ayas meremas puing bangunan yang telah hancur itu dengan kedua genggaman tangannya.


__ADS_2