
Sementara ditempat lain, Sarah tidak berani tidur di kamar Ayas. Ia memilih untuk tidur di kamar lainnya, karena rumah Ayas dan Reygen memang memiliki tiga kamar tidur.
Kamar depan di tempati oleh Ayas, kamar tengah oleh Sarah dan kamar belakang oleh Ronald dan Remon.
Pukul 03.00 saat ini. Ayas terjaga dari lelapnya dan ia meraba tempat tidur disampingnya, Ayas tidak mendapati suaminya.
Ayas teringat perkataan suaminya tadi siang bahwa ia akan pergi menemui Evelyn. Gegas Ayas bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Betapa terkejutnya ia saat melihat dua orang laki-laki sedang duduk di ruang tamu, Ayas segera berlari masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil kerudung, karena saat ini ia tidak memakai hijab.
"Kenapa mereka ada disini?" tanya Ayas dalam hati.
Ia tidak ingin menemui Remon dan Ronald, karena sadar antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh ada dalam satu atap meskipun tidak melakukan apa-apa.
Karena sebelumnya ia tidak mengetahui kedatangan Sarah, Ronald dan juga Remon. Ayas merasa terkejut dengan keberadaan mereka di dalam rumahnya, karena sebelum Reygen pergi. Ayas sudah tidur karena merasa lelah.
Gegas Ayas meraih ponselnya dan menghubungi Reygen. Ia menanyakan perihal kedua sahabatnya yang kini ada di dalam rumah mereka.
Reygen pun menjelaskan kepada Ayas bahwa Sarah pun ada disana. Ia tidak perlu takut karena Reygen yang meminta Ronald dan Remon juga Sarah untuk menemaninya selama Reygen pergi.
Ayas menghubungi ponsel Sarah, untuk meminta Sarah menemaninya. Setidaknya Ayas tidak sendirian ketika harus bertemu kedua sahabat suaminya.
Setelah mendengar nada dering dari ponsel pintarnya, Sarah pun terjaga dari lelapnya. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas.
Sambil menajamkan penglihatannya yang masih sedikit kabur karena bangun tidur, ia melihat nama Ayas terpampang di layar ponselnya, tanpa pikir panjang Sarah langsung menyentuh tombol hijau untuk menerima panggilan dari Ayas.
Setelah berbicara dengan Ayas melalui ponselnya, Sarah bergegas keluar dari kamar. Ia melihat Remon dan Ronald masih terjaga di ruang tamu.
Mereka tidak bisa tidur karena gangguan nyamuk dan juga kamar yang tidak ber-AC membuat mereka kepanasan.
"Sedang apa mereka jam segini masih belum tidur?" tanya Sarah dalam benaknya.
Sarah menghampiri Ronald dan Remon.
"Nald, Remon, kenapa kalian belum tidur?" tanya Sarah.
"Panas! banyak nyamuk!" jawab Remon dengan nada manja.
Mereka memang tidak bisa tidur tanpa AC, ditambah tidak sedikit nyamuk yang menyerang mereka sehingga tak henti untuk bersiaga memukul para nyamuk nakal yang hendak menghisap darah mereka tanpa permisi.
__ADS_1
Maklum karena di pinggiran kota seperti ini masih banyak pepohonan dan bahkan semak belukar yang menjadi sarang nyamuk juga bisa jadi sarang hewan lainnya.
Mendengar penuturan Remon yang manja, Sarah terkekeh menahan tawa, sedangkan Ronald hanya diam sambil menatap Sarah dengan wajah polos tanpa make up.
"Ya udah, aku ke kamar Ayas dulu ya!" Sarah berlalu menuju kamar Ayas.
Ia mengetuk pintu kamar Ayas, setelah Ayas membukakan pintu untuknya, Sarah dan Ayas bersama-sama mengambil air wudhu untuk melakukan sholat di sepertiga malam.
Setelah selesai mengambil air wudhu, mereka segera menuju kamar masing-masing.
"Aku sholat dikamar ini saja, ya!" Sarah menunjuk pintu kamar yang ia tempati.
"Iya!" Ayas mengangguk dan meninggalkan Sarah di kamar kedua, sedangkan ia terus berjalan menuju kamarnya yang terletak di kamar paling depan dan solat disana.
Hembusan angin malam menyelusup dari sela-sela jendela kamar Ayas, membuat suasana terasa cukup dingin juga hening.
Ayas bermunajat dalam doanya, wajah yang tampak cerah dan masih sedikit basah membuat wanita itu terlihat lebih segar meskipun tampak sedikit pucat.
"Ya Allah ... malam ini hamba sangat memohon kepada-Mu. Tolong kabulkan permintaanku, lancarkan segala maksud dan tujuan suami hamba untuk meminta keadilan. Jangan biarkan suami hamba berada dalam kesulitan apapun. Lindungi dia, kabulkan permohonan kami ... " sebait doa dalam dinginnya malam, sepinya hati membuat tangis meronta dalam diri.
Ayas tak dapat memejamkan matanya kembali, ia terus meminta kepada sang Maha kuasa untuk perlindungan suaminya. Berharap hajat dikabulkan, Ayas mengalunkan ayat-ayat suci di tengah kesunyian malam.
Suaranya yang merdu ketika membaca ayat suci, membuat malam semakin syahdu dan mengantarkan jiwa-jiwa yang tenang semakin merindukan sang Maha Kuasa.
Sampai lelah dengan pintanya, menjelang subuh Ayas tidak lagi memejamkan kedua mata. Suara adzan yang bersahutan, ia lanjut dengan dua rokaat wajibnya.
***
Begitupun dengan Reygen, ia melaksanakan solat subuh di kamar tamu rumahnya. Sambil menunggu Evelyn menemuinya, Reygen tidak akan menyerah sampai ia berhasil membuat Evelyn menemui Rendra dan mencabut tuntutannya.
Bi Ipah yang melihat perubahan drastis dari anak majikannya tersebut, tidak kuasa menahan tetesan manik bening dari ujung netranya ketika melihat Reygen bersujud di dalam kamar tamu, kebetulan Reygen tidak menutup pintu kamar agar ia tidak sedikitpun melewatkan waktu untuk segera menemui Evelyn.
"Ya, Tuhan ... baru kali ini aku melihat Den Reygen melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Semoga saja nyonya bisa kembali menerima Reygen dan istrinya dirumah ini." gumam bi Ipah dalam hati.
Tak ingin terlihat oleh Reygen, bi Ipah segera beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi. Selain memasak untuk kedua majikannya, ia juga memasak telur ceplok kesukaan Reygen.
Bi Ipah merasa sangat senang bisa kembali melihat Reygen di rumah ini, bagaimana pun ia sudah menganggap Reygen seperti putranya sendiri yang ia besarkan sejak kecil.
Setelah selesai dengan masakannya, bi Ipah segera menata makanan di atas meja makan. Selain menyiapkan piring untuk nyonya dan tuan besarnya, ia juga menyiapkan satu piring untuk Reygen.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Rouge dan Evelyn turun dari lantai dua dimana kamar mereka berada, kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur Reygen.
Melihat ada tiga piring yang tersedia diatas meja makan, lantas Evelyn langsung bertanya kepada bi Ipah.
"Bi, satu piring itu buat siapa?" tanya Evelyn datar kepada bi Ipah.
Mendengar pertanyaan Evelyn dengan tatapan tajamnya, bi Ipah menundukkan kepala dan merasa ragu untuk menjawab pertanyaan dari majikannya tersebut.
Rouge melihat kegugupan dari wajah bi Ipah. ia mencoba untuk bertanya tanpa membuat bi Ipah takut untuk menjawabnya.
"Jawab saja, tidak usah takut, Bi!" tutur Rouge dengan nada datar.
Bi Ipah masih menunduk dan memberanikan diri untuk menjawab.
"Itu, Anu, Nyonya. Den Reygen ada di kamar tamu!" jawab Ipah dengan gugup.
Mendengar jawaban dari Bi Ipah, Rouge dan Evelyn menatap bi Ipah dengan tatapan menyelidik.
"Panggil Reygen kesini!" ucap Rouge dengan suara berat.
Bi Ipah langsung menuju kamar tidur tamu dan memanggil Reygen untuk datang keruang makan atas perintah kedua orang tuanya.
Reygen menarik napas panjang, bersiap apapun yang terjadi ia harus memperjuangkan niatnya agar Rendra mencabut tuntutannya ke pihak yang berwajib.
Bukan takut menghadapi hukum atau tidak bertanggung jawab, melainkan Reygen takut kalau harus meninggalkan Ayas dalam keadaan ia sedang mengandung.
Reygen berpikir, bagaimana seandainya jika ia harus mendekam di sel tahanan ketika istrinya sedang dalam kondisi lemah tengah mengandung.
Setidaknya walaupun Rendra tidak bersedia mencabut tuntutannya, Reygen berharap perkara ini ditunda sampai buah hatinya terlahir selamat ke dunia.
Dengan demikian Reygen akan sedikit merasa lega, karena bisa menemani Ayas dalam masa sulit mengandung buah hati mereka.
Ia tidak ingin kehilangan janin dalam kandungan Ayas untuk yang kedua kalinya.
"Iya, Bi. Saya akan segera kesana." Reygen mengantongi ponselnya yang tergeletak diatas nakas, ia bergegas menuju ruang makan dimana Rouge dan Evelyn sudah menunggunya.
🌹🌹🌹
Bersambung...
__ADS_1
Wah, hari senin jangan lupa Vote nya ya, kak!
Terima kasih! 💓💓💓