
Sidang atas kasus yang dilaporkan oleh Rendra akan dilaksanakan hari ini, Reygen dihadirkan sebagai saksi atas kasus pelecehan dan kekerasan yang di lakukan oleh Cakra terhadap Ayas yang mengakibatkan ia kehilangan janin dalam perutnya, sekaligus ia juga menjadi terdakwa atas kasus kekerasan yang di alami oleh Cakra.
Reygen sudah memberi bukti fisik mengenai pengakuan Cakra yang telah ia rekam beberapa hari yang lalu kini sudah di selidiki oleh pihak yang berwajib, sekarang tinggal menunggu sidang selanjutnya.
Sebelum Evelyn terbang ke ke luar negri menyusul Rouge(suaminya), ia telah meminta pengacara keluarga untuk membantu Reygen dalam kasus ini.
Sepulang dari kantor pengadilan negeri, Reygen langsung menemui Ayas di rumah sederhana mereka.
Ayas menghampiri dengan segelas kopi yang ada ditangannya.
"Bii, bagaimana sidangnya?" tanya Ayas dengan wajah cemas, ia meletakkan cangkir kopi di atas meja sofa.
"Tenang saja, Sayang. Aku akan baik-baik saja, lagi pula pengacara keluarga sudah mengurusi semuanya. Bukti fisik mengenai kejahatan Cakra lun telah sampai di tangan pihak yang berwajib." jawab Reygen seraya menatap Ayas, ia tak mau istrinya banyak fikiran karena masalah ini.
"Syukurlah, semoga kamu tidak sampai ..." belum sempat Ayas meneruskan ucapannya, Reygen menutupi mulut Ayas dengan jari telunjuknya.
"Sstttt, berdoa saja!" Reygen tersenyum dan menggenggam tangan Ayas.
Ayas tersenyum dan mengangkat cangkir kopi untuk Reygen.
"Minum dulu kopinya, Bii." Ayas tersenyum dan memberikan cangkir kopi kepada Reygen.
"Terima kasih, Sayang." ucap Reygen kemudian meraih cangkir yang sedang berada di tangan Ayas.
Reygen menyesap beberapa kali kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas dari kopi kesukaannya yang telah di buat oleh istri tercintanya.
"Yang, kamu mau jalan-jalan gak?" tanya Reygen sambil menatap Ayas.
"Aku pengen ke panti, Bi!" ucap Ayas manja, ia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Reygen.
"Boleh, kapan maunya?" tanya Reygen sambil mengusap lengan Ayas.
"Gimana kalau nanti sore? sekalian aku pengen banget makan sate!" Ayas merajuk dan menatap Reygen.
"Siap, tuan putri. Kemanapun kamu mau, akan aku antar sampai ke tujuan." Reygen mendekap Ayas erat.
__ADS_1
Sudah lama tidak bertemu dengan anak panti terutama Amira, bayi yang kurang lebih satu tahun di titipkan di panti. Ayas sangat mengingat pertemuan pertamanya dengan Reygen yaitu saat ia hendak memgurusi akte kelahiran Amira.
Saat sedang asik bermanja kepada suaminya, tiba-tiba saja Ayas merasa mual dan segera berlari ke wastafel.
Reygen dengan setianya menemani Ayas di belakang. Melihat mata Ayas yang berkaca-kaca karena setelah muntah, Reygen tampak sangat khawatir.
Keringat yang membasahi wajah Ayas, membuat Reygen segera mengambil tisu dan mengelap keringat yang membasahi wajah Ayas.
Reygen membantu Ayas berjalan menuju kamar tidur dan membaringkan tubuh Ayas yang terlihat lemas setelah muntah-muntah.
"Sayang, kalau kamu sakit lebih baik gak usah ke panti dulu, ya. Nanti aku belikan satenya saja." ucap Reygen sambil mengusap-ngusap pipi Ayas.
"Gak apa-apa, Bi. Ini juga udah gak mual, kok!" Ayas tersenyum menandakan dirinya baik-baik saja.
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama, ya. Aku gak mau kalau kamu kecapean. Ingat kan kata dokter itu apa?" tanya Reygen memperingatkan Ayas atas ucapan dokter tempo hari.
"Iya, Sayang..." Ayas mencubit pipi Reygen dengan gemas.
Mereka sangat menikmati hidup sebagai pasangan suami istri. Suasana pinggiran kota yang masih asri membuat udara masih terasa sedikit sejuk, meskipun tetap saja Reygen selalu merasa kegerahan karena tidak ada AC.
"Panas, Yang!" jawab Reygen masih mengibas-ngibaskan bajunya.
"Ya udah, kalau mau pasang AC, pasang aja." ucap Ayas.
"Kamu nanti gak kedinginan?" tanya Reygen, karena ia tahu kalau Ayas sering kedinginan di dalam ruangan ber-AC. Maklum Ayas memang tidak terbiasa menggunakan AC.
"Gak apa-apa, kok! 'kan ada kamu yang meluk aku, jadi aku gak akan kedinginan." ucap Ayas dengan nada khas kemnajaannya.
Sikap Ayas yang semakin hari semakin manja, membuat Reygen semakin gemas dan tidak ingi jauh dari iatrinya itu.
"Kamu tuh, bisa aja!" Reygen mencubit hidung lancip sang istri.
"Ya udah, kalau mau ke panti cepetan mandi." titah Reygen kepada Ayas.
"Gak mau mandi, dingin." ucap Ayas.
__ADS_1
Memang selama mengidam entah kenapa Ayas jarang sekali mau mandi, katanya dingin dan gak mau mencium bau sabun yang ada di dalam kamar mandi. Entah alasan atau apalah yang jelas Reygen tidak memaksa, baginya aroma tubuh Ayas tidak berubah meskipun ia tidak mandi.
"Ternyata sekarang istriku malas mandi, ya! kalau gitu, aku buat kamu mandi besar aja, mau?" tanya Reygen dengan wajah nakal.
"Iihh, Hubby... nakal!" jawab Ayas dengan senyum malu-malu.
"Makanya, mau mandi apa aku paksa buat mandi besar?" tanya Reygen kembali.
"Ya udah, aku mandi. Tapi awasin dulu semua sabun dan detergen yang ada di dalam kamar mandi." Ayas kembali merajuk.
"Hah, gak salah?" tanya Reygen dengan wajah yang sedikit melongo mengenai permintaan istrinya yang sedikit aneh
"Iya, gak salah. Aku enek nyium bau sabun sama detergen, Bii." rajuk Ayas kepada Reygen.
"Hm," Reygen menarik napas panjang, dalam hatinya nyesel gue nyuruh istri mandi. Ujungnya di suruh yang aneh-aneh deh sama dia. "oke, aku singkirin semua sabun dan detergen yang ada di dalam kamar mandi." Reygen melangkah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ia mulai menyingkirkan semua sabun dan detergen dan di masukkan ke ember kemudian meletakannya di luar kamar mandi.
Setelah itu ia memanggil Ayas untuk segera mandi. Ayas pun bergegas ke kamar mandi, tetapi wangi aroma pengharum kamar mandi membuatnya kembali muntah-muntah samlai Reygen kebingungan sendiri.
"Sayang, kamu gak kenapa-kenapa?" tanya Reygen setelah Ayas membuka pintu kamar mandi.
"Masih bau, Bii." jawab Ayas sambil menutup hidungnya.
"Kan aku udah ambilin semua sabun sama detergennya, tuh di dalem ember." Reygen menunjuk ember kecil yang ada di dekat pintu kamar mandi.
"Itu bau aroma karbol kamar mandi, Bii.." ucap Ayas.
"Terus gimana?" tanya Reygen sudah kebingungan dengan sikap istrinya yang semakin aneh.
"Aku pengen mandi di belakang aja ya?" tanya Ayas sambil mengerjap-ngerjapkan matanya kepada Reygen.
"Apa? mandi di belakang? tapi kan halaman belakang kita masih belum di pagar dengan rapi, Sayang..." ucap Reygen seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Ayas barusan.
"Pokoknya aku lengen mandi disana, titik!" Ayas cemberut dan melipat kedua tangan di atas dada, membuat Reygen semakin bingung.
__ADS_1
Sejenak Reygen memikirkan permintaan Ayas, akhirnya ia menyetujui lermintaan istrinya yang seperti kekanak-kanakan, dengam syarat Ayas mandi memakai baju juga hijab.