
Mendapat penolakan dari Ayas meskipun secara halus akhirnya Reygen memutuskan untuk memesan makanan melalui aplikasi pada ponselnya.
Mereka makan bersama tanpa keluar dari kantor.
TOK..TOK..
Seseorang di luar mengetuk pintu ruangan Reygen, tetapi karena mereka sedang makan Reygen tidak sempat untuk mempersilahkan orang itu masuk dengan sesegera mungkin.
Reygen memintanya untuk menunggu mungkin untuk waktu yang cukup lama sekitar lima belas menit pintu itu pun kemnali di ketuk.
Tok... Tok... Tok.
"Masuk!"
Suara Reygen sedikit lantang, memerintahkan seseorang yang mengetuk pintu itu masuk.
"Ah, Cakra aku minta laporan minggu kemarin,"
Reygen duduk di kursi kerjanya sedangkan Ayas duduk di sofa masih dalam ruangan kerja Reygen.
Cakra segera kembali dengan berkas laporannya dan ia menatap sekilas pada Ayas yang tengah sibuk dengan benda pipih elektroniknya.
"Rey, bagaimana mengenai tawaran pak Roxy mengenai pembangunan gudang tersebut?"
Cakra duduk di seberang kursi kerja milik Reygen yang terpisah oleh sebuah meja berbentuk persegi empat dan beralaskan kaca.
"Bukankah sudah aku bilang, jangan otak-atik tanah itu!"
Reygen manatap tajam pada Cakra.
"T-tapi kita bisa dapat keuntungan besar dari sana, Rey,"
Cakra masih bersikeras untuk membangun sebuah gudang di tanah panti.
"Aku tidak peduli, masih banyak bisnis yang lain untuk mendapat keuntungan."
Reygen kembali membaca laporan yang di berikan oleh Cakra.
"Kenapa kau keras kepala sekali, sih!"
Cakra meninggikan nada bicaranya membuat Ayas menoleh ke arah mereka yang sedang berdebat di meja kerja Reygen.
"Hei, sejak kapan aku bisa di perintah olehmu?"
__ADS_1
Nada acuh tak acuh keluar dari mulut Reygen.
Cakra semakin geram karena mendapat penolakan dari Reygen. Ia semakin kesal pada Ayas yang telah ia ketahui identitasnya sebagai putri dari pemilik Panti Mutiara Hati yang menyebabkan ia gagal untuk mendapat keuntungan besar dari proyek pembangunan gudang di lahan panti tersebut.
Cakra berpikir pasti karena Ayas sehingga Reygen membatalkan pembangunan gudang di tanah panti.
Terbesit pikirannya yang jahat untuk membuat Ayas menjadi pelampiasan kekesalannya. Terlebih masa lalu yang membuat Cakra menyimpan sesuatu terhadap gadis itu.
Cakra keluar dari ruangan Reygen dengan raut wajah suram, ia sekilas menatap pada Ayas yang sedang memeriksa dokumen kerjanya.
Senja mulai menyemburkan cahaya jingga yang menandai jam kerja kantor sudah habis karena mendung pun telah menyapa.
Reygen pun menawarkan diri untuk mengantarkan Ayas pulang ke kost Sarah, tetapi Ayas merasa tidak enak selalu merepotkan Reygen, akhirnya ia memutuskan untuk naik taxi online saja.
Ia memutuskan untuk naik taxi online karena takut di tengah jalan akan turun hujan kalau ia menumpangi ojek online.
Melihat situasi yang menguntungkan akhirnya Cakra menyewa seseorang untuk menjadi driver taxi online yang akan membawa Ayas ke tempat yang telah ia tentukan.
Baru saja driver taxi online asli datang menjemput Ayas, tapi Ayas sudah terlebih dahulu mengendarai taxi online palsu sewaan Cakra.
Ayas di bawa ke suatu tempat yang cukup jauh dari kantornya menuju sebuah tempat yang sepi dan arah yang berbeda dengan tempat yang ia tuju.
Menyadari hal yang tidak beres akhirnya Ayas bertanya pada driver taxi itu.
"Pak, sepertinya kita salah arah deh,"
Gerimis mulai turun dan semakin deras mengucurkan air dari atas langit yang kian gelap oleh awan hitam.
Dengan sedikit panik akhirnya Ayas berhasil mengirimkan lokasinya saat ini pada Reygen dan setelah ia berhasil mengirimkan lokasinya, Ayas segera menelepon Reygen dan sambungan telepon telah tersambung dan Ayas semakin ketakutan ketika benar-benar mendapati ketidak beresan pada driver taxi tersebut.
"Pak, saya minta turun di sini,"
Ayas berkata dengan nada panik pada sopir tersebut, tapi tidak di gubris oleh sang driver.
Reygen yang baru saja memutar kendali pada kemudinya menancap gas menuju lokasi yang Ayas kirim melalui aplikasi pada ponselnya.
Ayas mencoba untuk membuka pintu mobil namun sang driver sudah mengambil alih untuk mengunci mobil dari kendalinya.
Ayas mencoba membuka paksa pintu kendaraan yang ia tumpangi dan berusaha memecahkan kaca jendela mobil dengan tangan dan tasnya namun gagal.
Sambungan dari panggilan Ayas yang masih terhubung pada Reygen membuat pria yang sedang mengejar menuju lokasi yang di share oleh Ayas itu mendengar dengan jelas suara ketakutan dari Ayas yang meminta driver untuk berhenti dan suara pukulan dari kaca jendela terdengar oleh Ayas membuat Reygen semakin menancap gas kendaraannya.
Ayas mencari sesuatu untuk bisa memecahkan kaca jendela mobil yang ia tumpangi dan satu-satunya benda keras yang ada di dalam mobil itu hanya ponsel pintarnya.
__ADS_1
Ayas sempat memukul driver taxi gadungan tersebut dari belakang dengan ponsel miliknya dan membuat driver itu semakin marah dan mencengkeram sebelah tangan Ayas yang memukulnya, sedangkan satu tangannya lagi masih mengendalikan setir.
Karena perlawanan Ayas akhirnya mobil tersebut oleng dan tertabrak mobil yang di kendarai oleh Reygen.
Duar!
Mobil Reygen menghantam bagian sisi kiri dari taxi online gadungan tersebut menyebabkan taxi itu kehilangan arah dan naik ke trotoar jalan sebelum akhirnya menabrak pohon besar yang ada di bahu jalan.
Mobil taxi online tersebut ringsek di bagian depan dan berhenti setelah menabrak sebuah pohon besar.
Reygen masih terkejut dengan kejadian ini membuat ia diam sejenak sebelum kembali sadar dan memutuskan untuk turun dari mobilnya dan mengecek kendaraan yang ia tabrak dari samping tersebut.
Sopir taxi gadungan tidak mengalami luka yang parah karena ia memakai sabuk pengaman. Sopir itu segera berusaha untuk melarikan diri setelah Reygen datang untuk melihat kendaraannya namun karena ia masih shock dan mengalami luka pada kakinya membuat ia tidak bisa berlari kencang.
Melihat seorang gadis yang tidak sadarkan diri dan terluka di depan kaca mobil yang telah pecah karena benturan yang sangat keras Reygen tak mempedulikan driver yang berusaha kabur tersebut, ia sudah mengambil beberapa gambar kendaraan yang di kendarai oleh Ayas dan driver gadungan itu untuk di serahkan kepada yang berwajib setelah membawa Ayas ke rumah sakit.
Reygen segera mengeluarkan Ayas dari dalam mobil dan memasukkannya ke dalam mobil miliknya. Ia segera menancap gas kendaraannya untuk membawa Ayas ke rumah sakit terdekat.
Kening Ayas mendapat luka yang cukup dalam sehingga darah segar terus saja mengalir dari luka tersebut.
Dengan kecepatan yang cukup maksimal disertai jalanan yang lengang karena jalan ini jarang di lalui oleh kendaraan membuat Reygen leluasa memacu kendaraannya.
Lima belas menit akhirnya Reygen sampai di salah satu rumah sakit kota, ia segera menggendong Ayas menuju ruang Instalasi Gawat Darurat.
Dokter dan perawat yang sedang bertugas di ruangan tersebut segera mengambil tindakan pada Ayas.
Reygen hanya di perbolehkan menunggu di balik tirai rumah sakit yang memisahkan antara branker yang satu dengan branker yang lainnya.
Reygen sangat tidak terlihat tenang saat ini, ia terus bolak balik seperti setrikaan.
Setelah hampir sepuluh menit akhirnya salah satu perawat yang memeriksa Ayas keluar dari balik tirai IGD.
"Maaf, apa Anda salah satu keluarga pasien?"
Perawat tersebut bertanya pada Reygen.
"Ya."
"Pasien harus segera ditangani dan hal tersebut membuat dokter harus membuka hijab dan sedikit baju yang menutupi punggungnya karena ada luka di pelipis kepala dan punggung sebelah kanan pasien."
Suster menjelaskan pada Reygen.
***
__ADS_1
Dear, vote, like, komen, ya...
😍😍😍