
Akhirnya setelah satu hari penuh belajar sholat pengantin, Reygen berhasil menghapal gerakan dan bacaan sholatnya. Ia juga bisa menghafal doa dengan baik.
Reygen segera berpamitan kepada Ustadz Marwan dan memberikan sejumlah uang yang ia masukkan ke dalam amplop sebagai tanda terima kasihnya kepada sang ustadz karena telah bersedia mengajarkan ilmunya kepada Reygen.
Mulanya ustadz Marwan menolak pemberian Reygen. Namun, karena Reygen memaksa akhirnya ustadz Marwan menerima pemberian dari Reygen.
"Pak Ustadz, terima kasih atas bimbingannya. Nanti kalau saya butuh pencerahan lagi, semoga Pak Ustadz bersedia untuk memberikan pengajaran lagi." Reygen berkata pada ustadz Marwan.
Ia berpamitan dan mencium tangan kanan ustadz Marwan sebagai tanda hormat kepadanya yang mulai saat ini sudah ia anggap sebagai guru spiritualnya.
"Assalamualaikum, Ustadz." Reygen mengucapkan salam.
"Waalaikumussalam warahmatullah." balas ustadz Marwan.
Reygen dengan hati riang gembira segera menancap gas kendaraannya menuju kediamannya yang tidak jauh dari kediaman ustadz Marwan.
Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya.
Hanya dengan belasan menit saja, Reygen sudah sampai di rumahnya. Ia mengucapkan salam kepada orang rumah, tapi ia tidak melihat Ayas yang biasanya langsung menyambut kedatangannya.
Bi Ipah yang membukakan pintu untuk Reygen. Melihat bi Ipah yang membukakan pintu untuknya, Reygen segera bertanya mengenai Ayas pada bi Ipah.
"Bi, istri saya kemana?" tanya Reygen kepada Ipah.
Sambil berjalan ke dalam rumahnya, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya yang luas bak istana tersebut.
"Anu, Den. Non Ayasnya ada di kamar, katanya sakit perut." Ipah berkata pada Reygen.
"Apa, sakit?" wajah Reygen tampak sedikit panik.
"Iya, Den. dari tadi siang, Non Ayasnya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya." jawab Ipah kepada Reygen.
"Ya sudah, tolong bawakan air putih hangat ke kamar saya." perintah Reygen kepada Ipah.
"Iya, Den." Ipah segera mengerjakan perintah dari majikannya.
Reygen berjalan dengan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
Setelah sampai di depan pintu kamar tidurnya, ia segera membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Ceklek.
Reygen melihat Ayas yang sedang meringkuk sambil merintih kesakitan dan memegangi perutnya. Ia langsung duduk di samping Ayas.
"Sayang, Kamu kenapa?" Reygen tampak sangat hawatir dengan keadaan Ayas. Ia mengusap kepala Ayas dengan lembut.
"Gak apa-apa." Ayas berkata dengan nada lemah, wajahnya terlihat sangat pucat.
__ADS_1
"Tapi, wajahmu pucat banget. Sekarang lebih baik kita ke dokter, Ayo!" Reygen membantu Ayas untuk duduk.
"Gak usah, nanti juga sembuh sendiri." Ayas menolak untuk di bawa ke dokter.
"Bagaimana bisa sembuh sendiri kalau tidak di obati?" Reygen bertanya heran kepada Ayas.
"Bhie, ini bukan sakit. Aku hanya sedang datang bulan." jawab Ayas. Reygen belum mengerti dengan perkataan Ayas.
tok..tok..
Meskipun masih menyisakan tanda tanya, tapi Reygen segera menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Reygen dengan suara lantang.
ceklek.
Bi Ipah memasuki kamar tidur Reygen dan segera memberikan segelas air putih hangat kepada Reygen.
"Ini, Den, air putih hangatnya." Bi Ipah memberikan segelas air putih pada Reygen.
"Terima kasih, Bi." Reygen segera menerima segelas air putih dari bi Ipah.
Bi Ipah segera undur diri untuk melakukan aktivitas lainnya di dapur.
"Sayang, minumlah," Reygen memberikan gelas yang berisi air putih hangat itu kepada Ayas.
Ia membantu Ayas memegangi gelas dengan satu tangannya, sedangkan satu tangan yang lain memegangi tubuh Ayas.
"Udah." hanya dua tegukan, Ayas sudah tidak mau lagi meminumnya dan menjauhkan gelas yang di pegang oleh Reygen.
"Tadi, kamu bilang apa? tamu bulanan?" tanya Reygen penasaran. Ia meletakkan gelas ke atas nakas samping tempat tidurnya
"Hm." Ayas menganggukkan kepalanya.
"Ya, Tuhan ...." Reygen menepuk jidatnya sendiri, dia baru mengerti kalau tamu bulanan itu adalah PMS bagi wanita, "biasanya berapa lama tamumu itu singgah?" Reygen lanjut bertanya pada Ayas.
"Biasanya, sih, satu minggu," Ayas tersenyum sambil mengedipkan matanya berulang kali dengan cepat.
"Apa? satu minggu!" Reygen membulatkan ke dua matanya seperti mau loncat.
Melihat wajah suaminya seperti bebek yang mendengar petir di siang bolong, Ayas hanya terkekeh menahan tawa.
"duh ...." Ayas mengaduh sakit sambil memegangi bagian perutnya.
"Sakit sekali kah?" Reygen bertanya kepada Ayas.
"Hm," Ayas menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sini, aku usapin." Reygen memasukkan tangannya ke dalam baju tidur Ayas.
Ia mengusap perut Ayas dengan lembut sampai sang pemilik perut yang masih datar tersebut merasa sangat nyaman dan tertidur.
Seolah tak ingin berhenti mengusap perut sang istri tercinta, Reygen sampai lupa kalau ia belum mandi dan bertukar pakaian.
Ia menghentikan usapannya dan bergegas untuk membersihkan dirinya ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual di kamar mandi, ia bertukar pakaian dan kembali mengusap perut istrinya sampai ia sendiri tertidur dengan tangan kanannya masih menempel di perut sang istri.
Malam indah berpenghuni insan manusia yang telah lelah dan terlelap dalam mimpi, melepas penat untuk menyambut esok yang lebih bersemangat.
***
Pagi ini Reygen bangun tidur lebih cepat, Ayas masih terlelap dalam tidurnya.
Reygen tidak tega untuk membangunkan Ayas yang sepertinya sangat mengantuk mungkin karena tamu bulanannya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ayas meraba tempat tidur di sampingnya. Namun, ia tidak mendapati Reygen di sana.
"Bhie!" Ayas memanggil Reygen.
Ia beranjak dari tempat tidurnya dan mencari suami tampannya tersebut ke segala penjuru kamar tidurnya.
Setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Ayas baru menghentikan pencariannya dan segera menyiapkan baju kerja untuk suaminya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan Reygen muncul dari dalamnya.
"Sayang, apa kamu udah sembuh?" tanya Reygen yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah tidak terlalu nyeri," Ayas mendekati Reygen.
Pria tampan itu menarik tubuh Ayas ke dalam pelukannya. Ia mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Ayas, membuat hidung mancung mereka saling menyentuh.
"Bhie, lepasin, cepat pakai bajunya." Ayas mencoba melepaskan pelukan Reygen, tapi pria itu malah mengeratkan pelukannya dan membungkam mulut Ayas dengan mulutnya sampai mereka kehabisan napas.
"Kalau hanya seperti ini boleh kan?" Reygen tersenyum dan kembali menelusuri rongga mulut istrinya penuh gairah.
"Hmph ... sudah sana, nanti kamu kesiangan berangkat kerjanya." Ayas melepaskan pagutan Reygen dan membuang wajahnya.
"Kali ini aku akan melepaskanmu, tapi ingat seminggu lagi kau tidak akan bisa kemana-mana." Reygen menatap tajam pada Ayas.
"Kita lihat saja nanti!" tantang Ayas pada Reygen.
Ayas berpikir bahwa Reygen belum bisa melakukan syarat yang ia pinta, padahal suami tampannya tersebut sudah sangat menguasai syarat yang ia minta.
__ADS_1
Setelah ritual di pagi hari selesai, Reygen segera berangkat ke kantor dan meminta seseorang untuk mengurus bulan madunya bersama Ayas untuk minggu yang akan datang.
Sebuah villa di pegunungan yang menghadap langsung ke sebuah pantai menjadi pilihannya untuk berbulan madu dengan istrinya.