
"Aku akan menemuinya." Sarah bangkit dan segera berjalan menuju kamar Ayas.
Sarah mengetuk pintu kamar Ayas, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Ia memutuskan untuk tetap masuk karena sudah mendapat izin dari Reygen.
Ketika pintu kamar terbuka, Sarah langsung melihat Ayas sedang tertidur lelap, karena Ayas sangat lelah dan merasa lemas. Setelah adzan isya berkumandang, ia langsung tidur sebelum Sarah dan Ronald tiba dirumahnya.
Menatap Ayas dari dekat, Sarah duduk di tepi ranjang dan menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi keningnya.
"Sabar, Ayas! ujian belum berhenti dalam bahtera rumah tanggamu. Kakak akan selalu ada untuk mendukungmu." ucap Sarah pelan, karena tidak mau Ayas merasa terusik dan mengganggu tidurnya.
***
Sementara sampai saat ini Remon belum juga tiba dirumah Reygen, membuat kedua sahabatnya itu bertanya-tanya.
"Nald, lo gak bareng sama Remon, tadi?" tanya Reygen khawatir kepada sahabatnya.
"Tadi gue suruh dia duluan, tapi malah dia sendiri yang belum sampe." jawab Ronald.
"Coba lo telpon dulu! gue takut ada apa-apa sama dia." seloroh Reygen kepada Ronald.
Ronald pun mengikuti saran Reygen dan segera mengambil ponsel dari dalam saku celananya, ia segera menghubungi Remon dengan ponsel pintarnya.
Namun, sudah beberapa kali Ronald coba hubungi, ponsel Remon tak kunjung aktif membuat kedua sahabatnya khawatir terjadi sesuatu pada Remon.
Ponsel Remon tidak bisa dihubungi, Ronald pun meletakkan ponselnya ke atas meja. sesaat kemudian mobil sedang berhenti tepat di depan halaman rumah Reygen.
"Panjang umur dia!" ucap Ronald dengan senyum yang mengembang.
Reygen dan Ronald pun menyambut Remon yang baru saja tiba. Mereka segera menghampiri Remon yang sedang berjalan menuju arah mereka.
"Mon, lu dari mana dulu? kok baru sampe!" pertanyaan langsung terlontar dari mulut Ronald.
"Tadi gue lupa gak isi bahan bakar, jadi mogok deh mobil gue! mana jauh lagi ke pom bensin." jawabnya dengan sedikit nada kesal.
"Ya ampun, Remon ... kebiasaan banget sih lo, ya!" ucap Ronald sambil geleng-geleng kepala
"Udah, gak usah di bahas! kalian masuk. Gue mau berangkat dulu." ucap Reygen sambil menunjuk kedalam rumahnya dengan wajah.
__ADS_1
"Pake mobil gue aja." Remon melempar kunci mobil dan langsung ditangkap oleh Reygen.
"Kalian tolong jagain istri gue, ya!" pesan Reygen kepada kedua sahabatnya.
"Iya, lo tenang aja. Lagian ada Sarah juga disini." seloroh Ronald.
"Oke, gue berangkat." Reygen segera menuju mobil Remon dan langsung menghidupkan mesin mobilnya.
Kebetulah mobil Remon diparkir di depan halaman rumah Reygen tanpa masuk ke dalam pagar halaman, membuat Reygen tidak usah susah-susah parkir. Mobil langsung melesat membelah jalanan menuju kediaman Evelyn.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam tersebut tidak menyurutkan niat Reygen untuk meminta Evelyn segera berbicara kepada Rendra agar mencabut tuntutannya.
Bukan karena takut menghadapi meja hijau atau sel jeruji besi, tetapi yang ia takutkan adalah kondisi istrinya yang tengah hamil muda.
Tidak mungkin Reygen meninggalkan Ayas dengan kondiai seperti sekarang. Jika Ia benar-benar masuk ke dalam penjara, pasti Ayas akan selalu memikirkannya dan membuat istrinya tersebut menjadi setres dan banyak pikiran.
"Kali ini aku tidak akan pulang sebelum aku benar-benar membuat momy melakukan apa yang aku minta." tekad Reygen sudah mantap.
Ia berniat tidak akan meninggalkan kediaman orang tuanya yang mewah tersebut, jika permintaannya tidak dipenuhi oleh Evelyn.
Perjalanan yang cukup jauh telah dilalui, hampir tengah malam saat ini. Reygen tiba di rumahnya dan mang Ozan segera menghampiri mobil yang dikendarai oleh anak majikannya.
"Selamat malam, Mang Ozan!" sapa Reygen sopan.
"Eh, Den Reygen! sebentar, Mamang bukain pintu dulu!" tanpa banyak bicara, mang Ozan segera membuka pintu pagar rumah dan mempersilahkan Reygen untuk masuk.
Mobil sedan mewah itu langsung memasuki halaman rumah mewah bercat putih. Ia langsung memarkirkan mobil di depan pintu rumahnya.
Sudah beberapa kali mengetuk pintu, tetapi belum ada yang membukakan pintu untuknya. Hingga terdengar suara langkah kaki yang mendekati pintu depan rumahnya.
Terdengar suara kunci yang terbuka dan setelah itu seseorang membukakan lintu untuknya.
Ceklek!
Pintu terbuka, tampaklah seorang wanita paruh baya keluar dari balik pintu.
"Eh, Aden! silahkan masuk, Den!" tanpa banyak bertanya, bi Ipah segera mempersilahkan Reygen masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Reygen menarik napas panjang sebelum ia melangkahkan kakinya kedalam rumah mewah tersebut. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, tempat dimana ia dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua.
Sepasang netra tajam miliknya terlihat mengembun seketika, teringat akan masa-masa dimana ia dan kedua sahabatnya berkumpul didalam rumah tersebut.
Banyak sekali kenangan indah juga menyebalkan di dalam rumah itu, bahkan Reygen seolah bernostalgia ketika ia duduk di sofa ruang tengah.
"Den, mau minum apa?" tanya bi Ipah membuyarkan lamunannya.
"Oh," Reygen segera mengusap ujung netranya yang terasa sedikit basah. "gak usah repot-repot, Bi. Saya hanya ingin bertemu dengan momy!" seloroh Reygen.
"Maaf, Den! mungkin nyonya sudah tidur, karena ini kan sudah hampir tengah malam. Tadi Bibi juga sudah tidur, makanya lama bukain pintu." ucap bi Ipah.
"Ya sudah, saya akan menunggu disini saja, Bi!" ucap Reygen tidak ingin merepotkan bi Ipah.
"Ya sudah kalo gitu, Bibi temenin, ya!" bi Ipah duduk dilantai berlapis karpet import yang tebal.
Reygen meminta bi Ipah untuk duduk di atas sofa sebelahnya, meskipun bi Ipah menolak beberapa kali, karena ia tidak mau bersikap tidak sopan kepada putera majikannya. Namun, Reygen tetap meminta bi Ipah untuk duduk di atas sofa.
Tidak ada rasa canggung kepada wanita tua tersebut, karena sedari kecil Reugen memang di rawat olehnya. Bincang-bincang pun terjadi dengan hangat.
Kasih sayang bi Ipah memang tulus kepada Reygen, meskipun terkadang bi Ipah kewalahan menghadapi kenakalan Reygen dimasa kecilnya, akan tetapi hal itu tidak membuat Ipah bosan melayani anak majikannya tersebut.
Sebenarnya Reygen anak yang baik juga sopan, hanya saja sikapnya yang seolah selalu meminta perhatian membuat bi Ipah terkadang kesulitan menghadapinya.
Hal itu dapat dimaklumi oleh bi Ipah, karena sedari kecil Reygen jarang bahkan sangat sedikit mendapat perhatian dari orang tuanya yang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Den, bagaimana keadaan non Ayas?" tanya bi Ipah disela bincang mereka.
"Alhamdulillah baik, Bi. Sekarang istri saya sedang mengandung." Reygen tersenyum mengingat istrinya yang tengah hamil.
"Alhamdulillah, syukurlah. Semoga semuanya dilancarkan ya, Den! Bibi selalu berdoa untuk kalian berdua." tandas bi Ipah merasa senang mendengar kabar dari Reygen.
"Makasih, Bi!" ucap Reygen.
Tak terasa malam kian larut, sampai dini hari menjelang. Mereka asik berbincang dan saling bertukar kabar.
***
__ADS_1
Bersambung...