Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 6 : love at the first sight


__ADS_3

"Ya udah, ayo, cepetan. Udah siang nih! "


Ronald sudah siap dengan setelan jas kerjanya yang berwarna hitam tanpa dasi melingkar dilehernya namun tampak terlihat formal.


Reygen pun tampak sangat berkharisma dengan setelan jas kerja berwarna abu muda dipadukan dengan celana skinny yang membuatnya tetap tampil trendi tanpa mengurangi kharisma dari seorang Reygen yang tampan nyaris sempurna.


"Lo gak ikut, Mon?"


Ronald bertanya pada Remon yang masih rebahan diatas sofa panjang miliknya.


"Ck, males. Gua disini aja."


"Ya udah, kita berangkat dulu."


Ronald dan Reygen segera melangkahkan kaki mereka menuju pintu apartement.


Perjalanan kekantor Ronald hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit dari apartementnya.


"Selamat siang, Pak Ronald!"


"Selamat siang, Pak!"


Sapaan dari para karyawan yang bekerja dikantor Ronald kepada atasannya.


Tatapan beberapa ladies tertuju pada pria tampan yang sedang berjalan disamping Ronald. Ternyata selain Ronald yang terkenal sebagai bos ganteng ada yang mengalahkan kegantengannya yaitu Reygen.


Para gadis menatap Reygen tanpa mengedip, seolah rugi walau sedetik saja beralih dari wajah tampan milik Reygen.


Mereka berdua berjalan bak pangeran tampan seperti pada cerita-cerita kerajaan.


Ronald segera memasuki ruangannya yang dipintu terpasang sebuah papan nama bertuliskan "Kepala Dewan Komisaris" karena jabatan CEO masih dipegang oleh ayah Ronald yang masih aktif diperusahaan.


Ronald mengangkat telepon kantornya untuk menghubungi seseorang, tak lama setelah ia menutup telepon, seorang pria paruh baya segera mengetuk pintu kemudian masuk keruangan Ronald.


"Pak Agus, silahkan duduk."


Pria yang disebut pak Agus segera duduk dikursi belakang meja kerja Ronald.


"Kenalkan ini sahabat saya."


Ronald menunjuk Reygen dengan tangan kanannya yang sedang duduk dibalik meja kerja Ronald bersebelahan dengan Pak Agus.


"Saya Reygen,"


Reygen mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Agus.


"Agus!"


Pria paruh baya itu meraih tangan Reygen untuk berjabatan.


"Baiklah langsung saja, Reygen ini Pak Agus beliau direktur SDM diperusahaanku, dan ini Pak Reygen yang akan menggantikan posisi Pak Usman sebagai Manager baru."


Ronald mengenalkan Reygen pada Pak Agus agar pak Agus bisa mengarahkan Reygen pada pekerjaannya untuk menggantikan pak Usman yang sudah pensiun di hari senjanya.


Pertemuanpun berlangsung hanya beberapa jam saja dan langsung menghadiri meeting bersama CEO yang dijabat oleh ayah Ronald.


Setelah meeting selesai, Ronald bersama ayahnya masih disibukkan dengan pekerjaan lain. Sedangkan Reygen meminta untuk pulang lebih dulu karena pekerjaannya sudah selesai untuk hari ini.


Ketika Reygen sedang menunggu taksi dari jarak dua meter seorang gadis berhijab pun tengah menunggu taksi di dekatnya.

__ADS_1


Dan saat sebuah taksi melintasi jalan didepan mereka berdua, dengan kompak mereka memanggil.


"Taxi!"


Reygen menoleh kearah gadis berhijab, begitupun dengan sang gadis, ia menoleh kearah Reygen.


Taxi berhenti tepat dihadapan mereka berdua, namun Reygen dan sang gadis hanya terdiam saling menatap.


"Manis!"


Gumam Reygen dalam hati sambil tersenyum manis pada sang gadis.


Sang gadis mengerutkan keningnya menatap Reygen dan mereka sesaat saling menatap sampai akhirnya bunyi klakson taxi menyadarkan mereka.


"Siapa yang mau naek?"


Pak sopir membuka jendela mobilnya.


" Ah, ya. Silahkan duluan,"


Suara lembut sang gadis sambil tersenyum sangat manis dan menundukkan kepalanya pada Reygen.


"Eu ... ga apa-apa kamu aja duluan aku cari taxi yang lain."


Reygen berusaha mengalah dan mempersilahkan sang gadis untuk mengambil taxi duluan.


Baru kali ini Reygen mengalah pada seseorang dengan bersikap lembut, ia masih tersepona eh terpesona pada keanggunan dan kecantikan sang gadis yang bak bidadari turun dari kahyangan.


"Makasih, permisi!"


sang gadis mulai melangkahkan kakinya menuju taxi yang sudah dibukakan pintu oleh pak sopir, perlahan tubuh mungil yang bebalut hijab itu masuk ke dalam taxi. Reygen yang enggan berpaling dari sang gadis terus menatap mobil yang ditumpangi olehnya sampai tak terlihat lagi.


"Siapa dia?"




Malam mulai menyapa, Ronald pulang ke apartementnya dan disuguhi oleh pemandangan super langka yang nyaris tidak pernah dia lihat selama hidupnya.



Reygen sedang senyum-senyum sendiri sambil memainkan sebatang tembakau pada sela-sela jarinya.



"Woy, ngapain Lo senyam senyum sendiri kayak orang kesurupan!"


Ronald melempar tas kerjanya keatas sofa yang sebelahnya telah dihuni oleh Reygen. Namun Reygen tak menanggapi perkataan Ronald. Ia hanya sekilas melirik pada Ronald kemudian kembali dengan khayalannya.



Ronald segera duduk disofa single yang bersebelahan dengan sofa panjang yang sedang dihuni oleh Reygen. Ia mengendurkan dasi yang membuka kancing jas dan membiarkan punggungnya roboh pada sandaran sofa.



Melihat kejanggalan pada temannya itu, Ronald kembali menatap Reygen dan menyipitkan matanya seraya menelisik Reygen dengan penglihatannya.


__ADS_1


"Woy, udah pulang Lu?"


Remon datang dari arah dapur sambil membawa kemasan kopi dingin.



"Eh, Mon, kenapa sih dia?"


Ronald menunjuk Reygen dengan dagunya.



"Gak tau, tuh, semenjak pulang dari kantor Lu, dia kayak orang kesurupan. Senyum-senyum sendiri."


Remon menatap heran pada Reygen kemudian ia langsung duduk disamping Reygen dengan menyingkirkan tas Ronald.



"Berisik!"


Reygen menancapkan tembakaunya pada asbak yang ada di atas meja terletak didepan sofa.



Reygen melangkah menuju kamar tidur tamu yang ia tempati semenjak menginap di apartemen Ronald, apartemen yang memiliki dua kamar tidur tersebut sudah beberapa tahun kebelakang telah dibeli oleh Ronald.



Ronald pun segera menuju kamar tidurnya dan memasuki kamar mandi yang ada dikamar utama miliknya, ia mulai membersihkan tubuhnya dengan membasahi sekujur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.



Sedangkan Remon sedang asik dengan TV kabel yang menyuguhkan film action kesayangannya.



Setelah Ronald selesai dengan ritual mandinya, ia segera mendatangi Remon yang tengah menikmati acara TV kabel.



"Mon, si Reygen kenapa sih?"


Ternyata Ronald masih penasaran dengan sikap aneh sang ketua geng.



"Gak tahu, gua, semenjak pulang dari kantor Lu, dia kayak gitu. Eh, Nald, maen PS yuk!"


Remon yang memang usianya paling muda dengan pemikiran paling muda juga diantara mereka bertiga. Ronald hanya memejamkan matanya lebih lama kemudian menuruti permintaan Remon.



Sementara di dalam sebuah kamar, seorang pemuda tengah asik dengan pikirannya sendiri. Ia tersenyum sambil membayangkan wajah sang gadis berhijab tadi. Beberapa kali ia bertanya sendiri pada dirinya.



"Siapa, sih, dia?"


Rasa penasaran telah hinggap pada otak dan hatinya, membuat ia tak tenang dan berniat untuk mendatangi tempat dimana ia bertemu dengan gadis berhijab itu.

__ADS_1



Malam kian larut dan kedua pria yang tengah kelelahan dengan permainan PS nya telah terkapar tak berdaya dengan mimpinya masing-masing, sementara Reygen terus mencoba untuk memejamkan matanya yang selalu menolak untuk terpejam padahal ia sudah merasakan ngantuk yang luar biasa.


__ADS_2