
AC yang sangat dingin di dalam ruangan kerja Reygen membuat Ayas kedinginan dengan baju yang setengah basah karena tampias dari air hujan meskipun ia mengenakan payung.
"Baru hari pertama kerja sudah telat. Hari ini kamu akan menjadi asisten pribadiku, dan mulai hari ini kau juga harus tinggal di rumahku untuk memulai pekerjaan tambahanmu."
Reygen mendorong kertas putih yang berisi mengenai kontrak kerja dan peraturan-peraturan yang harus Ayas patuhi, Ayas pun segera membaca kontrak kerja itu dan menanda tanganinya.
Satu tahun bukan waktu yang lama untuk bekerja di perusahaan Reygen, karena dengan seperti ini , setelah dia menyelesaikan kontrak kerja bersama Reygen, dia akan bisa tinggal di panti lagi bersama anak-anak panti yang lain.
"Lalu apa tugasku di kantor ini?"
Ayas dengan suara yang sedikit gemetaran sambil kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri yang sedang kedinginan.
Melihat wajah Ayas yang semakin pucat dan bibir yang bergetar Reygen pun berdiri dan berjalan memutari meja kerjanya mendekati kursi yang sedang di duduki oleh Ayas.
"Apa kau sakit?"
Reygen sudah berdiri disamping Ayas dan melihat kerudung yang dikenakan Ayas berubah warna semakin pekat dan lembab.
"Bisakah kau mengurangi suhu dingin dari remote AC ruanganmu?"
Ayas hanya memejamkan matanya dan berusaha menahan dingin pada tubuhnya. Mendengar perkataan Ayas, Reygen pun segera berjalan memutari meja kerjanya untuk mengambil remote AC yang ada di laci meja kerjanya dan segera mematikan AC di ruangannya. Ia segera membuka jasnya dan memberikan pada Ayas.
"Aku sudah tidak kedinginan lagi, terimakasih!"
Ayas menolak Reygen yang sedang mengulurkan jas padanya.
Reygen mendesah, karena Ayas keras kepala tidak mau memakai jas Reygen.
"Ok, tugasmu dikantor ini adalah menjadi asisten pribadiku, dan kemanapun aku pergi, kamu harus menemaniku, dan sekarang ikutlah denganku."
Reygen segera menutup laptopnya dan memakai kembali jasnya, Ia segera berjalan menuju pintu ruangan kerjanya dan Ayas hanya mengikutinya dari belakang.
Sepanjang jalan menuju pintu keluar kantor, Ayas dan Reygen menjadi pusat perhatian para karyawan di kantor Reygen, sepasang muda mudi yang memiliki paras di atas rata-rata membuat banyak orang terpesona.
Setelah tiba di parkiran mobil kantor, Reygen segera membukakan pintu mobil depannya untuk Ayas. Sebenarnya Ayas bingung kenapa Reygen yang kini menjadi bos nya malah membukakan pintu untuknya tapi Ayas bersikap tidak peduli dengan hal itu, Ia pun duduk di depan kursi samping pengemudi di sebelah Reygen.
Melihat Ayas yang hanya terdiam, Reygen pun berinisiatif untuk memasangkan seatbelt pada Ayas.
PLAK...
"Hei mau apa kau?"
Ayas memukul pundak Reygen yang hendak memasangkan sabuk pengaman pada Ayas.
"Kalau tidak mau aku pasangkan, ya kamu pasang sendiri."
Reygen kembali duduk dengan posisi tegak di kursi kemudinya, lalu Ayas segera memasang sabuk pengaman itu dengan sendiri.
Mobil Reygen menempati posisi pada lahan parkir yang masih kosong untuk satu mobil disebuah basement Mall.
"Bukankah kita sedang kerja? lalu untuk apa kita kesini?"
Ayas tampak keheranan saat Reygen berjalan menuju pintu masuk Mall dari belakang.
"Ini juga bagian dari pekerjaan.!"
Reygen hanya terus berjalan di depan Ayas memasuki area pusat perbelanjaan.
__ADS_1
Dia menuju sebuah stand yang menyediakan berbagai busana kantor mulai dari sepatu, jas sampai tas kerja lengkap ada disana.
"Kamu pilih baju kerja yang cocok dengan mu, aku akan menunggumu di depan ruang ganti."
Reygen segera menuju kamar pas di dalam stand tersebut dan duduk di depan kamar pas yang sudah tersedia satu kursi tunggu.
Ayas pun memilih baju kerjanya sesuai dengan karakternya yang berhijab, Ia memilih setelan blazer dengan celana dan tangan baju yang panjang untuk ia padu padankan dengan hijabnya, setelah mengambil satu stel baju kerjanya ia segera menuju kamar pas, Reygen yang melihat Ayas mendekat Ia langsung menahan Ayas karena melihat hanya satu pasang baju yang ia bawa.
"Hei, kenapa kamu hanya ambil satu pasang?"
Reygen menahan Ayas yang hendak masuk kamar pas.
"Jika aku banyak membeli baju untuk kerja, nanti gajiku habis kamu potong buat bayar baju ini!"
Ayas berkata tidak dengan nada lembut pada Reygen.
Mendengar perkataan Ayas, Reygen hanya terkekeh menahan tawa.
"Hei, ini hanya fasilitas kantor untukmu dan aku tidak akan masukan tagihan padamu."
Reygen memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kerjanya.
Ayas hanya berdecak kesal lalu ia kembali memilih satu stel lagi pakaian kerjanya. Setelah mendapat baju yang ia rasa cocok, Ayas pun segera menghampiri Reygen.
"Aku sudah ambil dua pasang."
Ayas menunjukkan dua stel baju yang ia tenteng masih lengkap dengan hangernya.
"Silahkan,"
Tangan kanan Reygen mempersilahkan Ayas untuk memasuki kamar pas.
"Aku tidak akan mencobanya disini."
Ayas hanya memalingkan wajahnya dari Reygen sambil memeluk dua pasang baju yang masih lengkap dengan hangernya.
'*dasar keras kepala*'
Gumam Reygen dalam hati, padahal sebelumnya justru Ia yang paling keras kepala dan hanya Ayas yang bisa meluluhkannya.
__ADS_1
"Oke, kita ke kasir!"
Reygen menunjuk lokasi pembayaran di salah satu sudut stand.
Setelah Reygen membayar belanjaan Ayas, mereka pun segera keluar dari toko dan Ayas hanya mengikuti Reygen dari belakang. Reygen membawa Ayas pada salah satu Resto yang ada di dalam Mall.
"Bukankah kita harus kembali ke kantor?"
Ayas yang mengikuti Reygen memasuki sebuah Resto tampak bingung kenapa Reygen masuk ke Resto padahal seharusnya mereka kembali ke kantor karena masih jam kerja.
"Temenin aku sarapan!"
Reygen hanya menoleh pada Ayas yang ada di belakangnya.
"Benar-benar menyebalkan," gerutu Ayas, tetapi apa boleh buat, saat ini posisi Reygen adalah bos yang harus dia patuhi.
Mereka segera duduk di sudut Resto dan Reygen sengaja memilih tempat yang sedikit di pojokan dengan hanya tersedia dua kursi dan satu meja makan terlihat sangat privasi.
'A*neh, sudah jam sepuluh siang baru sarapan terus makan siangnya jam berapa sih dia*?'
Gumam Ayas dalam hatinya dan Ia hanya memanyunkan bibirnya membuat Reygen yang sedang melihatnya tersenyum geli.
Hari sudah mulai sore, cahaya senja sudah menghiasi langit menjadi berwarna jingga menuju gelap.
Hari ini Ayas akan pulang ke rumah Reygen sesuai perjanjian. Ia akan melaksanakan tugas tambahannya sebagai asisten rumah tangga di rumah Reygen, meskipun Reygen tidak menganggapnya ART karena sebenarnya Reygen hanya ingin melihat Ayas setiap hari di rumahnya. menyebalkan bukan...
Setibanya dirumah...
"Bawakan tas kerjaku ke dalam kamar!"
Ayas yang berjalan memasuki rumah mewah Reygen hanya menatap kesal pada pria yang selalu memberinya perintah tanpa bisa dibantah.
Namun, mau bagaimana lagi saat ini Pria yang super tampan namun menyebalkan bagi Ayas itu adalah bos yang harus Ia patuhi perintahnya. Lagi-lagi Ayas tidak bisa menolaknya.
Ayas pun mengikuti Reygen sampai lantai dua dimana kamar tidur Reygen berada. Setelah mereka memasuki kamar tidur, Ayas segera meletakkan tas kerja Reygen di atas tempat tidurnya dan langsung melengos untuk meninggalkan kamar Reygen tetapi Reygen menahannya.
"Hei, mau kemana?"
Ayas menghentikan langkahnya dan hanya mematung di dekat pintu kamar tidur Reygen, ia memejamkan matanya untuk sejenak, ia sudah lelah dengan kegiatan hari ini tapi Reygen masih saja belum puas memperkerjakan Ayas.
"Apalagi? bukankah aku sudah menyimpan tas kerjamu?"
dengan kesal Ayas masih berdiri di dekat pintu kamar Reygen dan membelakangi Reygen yang tengah duduk di tepian ranjangnya.
Reygen mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya dan segera bangkit dari duduknya untuk mendekati Ayas.
TUK..TUK..TUK..
Karena suasana hening suara sepatu pantofel Reygen terdengar nyaring ditelinga Ayas, gadis cantik itu membulatkan kedua bola matanya dan jantungnya berdetak sangat kecang karena baru kali ini ia berada di dalam sebuah kamar tidur dengan pria dewasa yang bukan muhrimnya, Reygen semakin mendekat dan menghalangi tubuh Ayas yang sedang menghadap pintu kamar tidur Reygen.
__ADS_1
Ayas mulai ketakutan, pikirannya mulai negatif kepada Reygen.