Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 51 : Hujan


__ADS_3

Reygen berpikir jika Sarah mengajukan syarat seperti Ayas, maka Ronald akan stres dibuatnya. Pasalnya Reygen tahu bagaimana karakter Ronald. Bisa-bisa sahabatnya itu frustasi untuk memenuhi syarat tersebut.


"By the way, terus rencana, Lo apa?" tanya Ronald.


"Kerja!" jawab Reygen singkat.


"Jangan bilang, Lo mau kerja di perusahaan gue!" Ronald menatap tajam.


"Memangnya kenapa?" tanya Rey.


"Pusing gue, ngadepin bawahan kayak Lo! susah diatur." jawab Ronald dengan ringan.


Reygen menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, matanya terpejam menandakan lelah dalam benaknya.


Beberapa saat kemudian, bunda Meta datang membawa beberapa cangkir teh hangat untuk para tamunya.


"Silahkan diminum tehnya," Meta ikut duduk di sofa sebelah Ayas.


"Makasih tante!" jawab Ronald dengan senyum tak jelas.


Reygen dan Ronald tampak canggung mengobrol saat Meta berada bersama mereka, bukan merasa terganggu tapi lebih tepatnya Reygen tidak ingin Meta tahu permasalahan rumah tangganya dengan Ayas kini sedang tidak baik-baik saja.


Setelah di rasa cukup berbincang untuk hari ini, Ronald pun berpamitan.


"Nald, jangan lupa besok jemput gue!" Reygen berkata pada Ronald ketika ia hendak bangkit dari sofa.


"Iya! nanti, kalo gue selesai meeting langsung kesini." jawab Ronald.


"Lo, tahu kan konsekuensinya kalau, Lo lupa?" tanya Reygen mengintimidasi.


Ronald hanya mendelik mendengar ancaman Reygen, ia segera undur diri. Meskipun mereka sering berdebat, tapi mereka tidak mau kehilangan satu sama lain. Seperti Tom and Jerry saja mereka ini!.


"Bii, kita ke makam bunda, yuk!" ajak Ayas dengan wajah sendu. Matanya yang sembab, sungguh menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Reygen menatap sayu kepada istrinya, seolah sedang menguatkan dirinya sendiri yang juga tengah rapuh ditengah badai rumah tangga.


"Ayo! tapi ..." Reygen menghentikan ucapannya.


"Di belakang ada motor bunda Mety, kebetulan beliau sekarang sedang bintek di luar kota. Kita pakai motornya saja, nanti aku minta kuncinya sama bunda Meta. Kamu bisa naik motor 'kan, Bii?" tanya Ayas, ia mengerti saat ini, Reygen tengah bingung karena tidak memiliki kendaraan.

__ADS_1


Reygen mengangguk, kemudian Ayas lekas menemui Meta yang sedang menemani anak-anak panti bermain di belakang.


Ayas meminta izin untuk membawa motor Mety, lalu Meta pun mengambil kunci motor dan memberikannya kepada Ayas.


"Ini, kunci motornya." Ayas memberikan kunci motor kepada Reygen.


Reygen segera menuju halaman belakang panti guna memanaskan motor dan segera memboncengi Ayas menuju makam bundanya.


***


Ayas menabur bunga di atas makam sang bunda, ia tidak menangis tersedu atau merajuk. Namun, ia hanya berdoa untuk almarhumah bundanya dan demi keharmonisan rumah tangganya.


Meskipun demikian, ia hanyalah manusia biasa yang punya titik lemah. Ayas tak kuasa lagi membendung kesedihannya, hingga air mata pun menetes di pipi mulusnya.


Reygen menghampiri Ayas dan berjongkok.


"Jangan nangis lagi, kita pulang, sebentar lagi hujan." Reygen memegang pundak Ayas lembut.


Ayas dan Reygen pun berdiri dan meninggalkan makam sang bunda, mereka berjalan cepat sambil bergandengan karena gerimis sudah mulai turun.


Mesin kendaraan roda dua pun menyala setelah Reygen memasukkan kunci kontak kepada motornya, Ayas segera naik dengan duduk menyamping.


Kendaraan mereka melaju dengan pelan, karena pandangan Reygen sudah sedikit terhalangi oleh gemericik air hujan rintik-rintik yang menerpa wajahnya.


"Bagaimana kalau kita berteduh dulu?" tanya Reygen sedikit menoleh kebelakang.


"Iya!" sahut Ayas dengan sedikit menggigil, karena bajunya sudah sedikit basah.


Reygen meminggirkan motornya di sebuah warung pinggir jalan yang sedang sepi pengunjung. Ia melihat bibir istrinya sedikit membiru dan tangannya gemetaran.


"Sayang, kamu kedinginan?" Reygen manatap Ayas, tangannya menggenggam tangan Ayas. Ia meremasnya untuk menciptakan rasa hangat pada tangan sang istri.


Ayas mengangguk karena saat ini ia sedang merasa sangat kedinginan, terpaan gerimis dan angin yang cukup kencang telah menerpa tubuh Ayas dan Reygen yang tadi melakukan perjalanan.


Reygen mengajak Ayas duduk pada kursi panjang yang terbuat dari kayu, ia memeluk tubuh istrinya yang sedang menggigil.


"Sayang, bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan saja, supaya kamu bisa cepat bertukar pakaian. Menunggu disini hanya akan membuatmu tambah kedinginan, karena baju kamu sudah basah." ajak Reygen yang masih memeluk tubuh Ayas.


"Iya!" Ayas mengangguk.

__ADS_1


"Ay, duduknya jangan miring, aku takut kamu jatuh." Reygen menyarankan Ayas untuk tidak duduk miring lagi.


Karena Ayas memang memakai ****** ***** panjang, jadi tidak masalah dengan saran Reygen. Lagi pula mau bagaimanapun, toh mereka kini sudah menjadi pasangan yag sah.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, dengan erat Ayas memeluk Reygen yang sedang mengendarai motor matic milik Mety.


Derasnya air hujan, sederas air mata Ayas yang mengalir. 'Aku tidak mau terlihat lemah dimatamu, Rey. Tapi aku juga tidak bisa berpura sangat kuat, padahal aku rapuh!' Ayas mengeratkan pelukannya.


'Aku bisa melepaskan semua milikku, tapi aku tak bisa melepaskan harta yang paling berharga yang akan selalu ku jaga selama hidupku, Yasmine Humaira istriku!' Reygen memegangi tangan Ayas yang melingakar di pinggangnya.


Air hujan dan angin menerpa tubuh mereka, 'dingin' ... mungkin hanya kata itu yang kini mereka rasakan. Namun, hangatnya pelukan Ayas, membuat Reygen menepis rasa dingin itu.


***


"Sayang, cepat mandi. Ganti bajumu, nanti masuk angin. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu." Reygen dan Ayas memasuki panti lewat pintu samping karena saat ini baju mereka telah basah kuyup.


"Iya, Bii. Tolong bawakan baju aku." pinta Ayas.


Ayas langsung menuju kamar mandi belakang yang ada di dekat dapur, sedangkan Reygen hanya membuka bajunya saja dan berjalan memasuki kamarnya.


Ia mengambil baju Ayas yang sudah tersimpan di dalam lemari pakaian.


"Ini bajunya!" Rey, melantangkan suaranya.


Ayas membuka sedikit pintu kamar mandi untuk memberi celah agar tangan Reygen bisa masuk, kemudian Ayas mengambil baju yang ada di tangan Reygen.


Reygen segera membuat teh hangat untuk istrinya, lalu ia meletakkan di atas nakas samping tempat tidur. Ia pun mengganti celana yang basah kuyup di dalam kamarnya.


***


"Sayang, minum tehnya, mumpung masih hangat." Reygen menyodorkan teh kepada Ayas.


"Makasih, Bii." Ayas tersenyum dan mengambil cangkir dari tangan Reygen.


Beberapa sesapan teh hangat sedikit membuat tubuh Ayas merasa hangat.


"Apa masih dingin?" tanya Reygen. Ayas mengangguk dan meletakkan cangkir ke tempat semula.


"Kalau masih dingin biar aku hangatkan dengan tubuhku!" Reygen membabat bibir Ayas penuh hasrat, bibir yang dingin itu kini kembali hangat.

__ADS_1


~Sensor~ (selanjutnya terserah anda! ☺)


Sejenak mereka kembali hanyut dalam buaian asmara, rehat dalam sebuah masalah bukan berarti lari untuk selamanya.


__ADS_2