Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 58 : Sahabat


__ADS_3

Dalam keadaan tak berdaya, diselimuti kesedihan yang membara, ia hanya bisa berpasrah dalam doa. Senandung yang tak terucap oleh lisan. Namun, terpanjat melalui sanubari terdalam. Ayas memintal pilu dalam gugu...


"Bii, maaf. Aku tidak bisa menjaga calon buah hati kita." seolah air mata sudah mengering dari sumbernya, Ayas hanya menatap sendu wajah Reygen.


"Sayang, kamu ini bicara apa? Aku yang seharusnya minta maaf, karena aku sudah membuatmu masuk ke kehidupanku yang keras, aku yang telah menyebabkan hidupmu seperti ini. Tolong maafkan aku!" Reygen menciumi jemari Ayas yang masih lemas.


Beberapa menit kemudian, ponsel Reygen berdering. Nama Remon terpampang di layar ponselnya.


Reygen menerima panggilan melalui ponsel pintarnya. Ia meminta Remon untuk membelikan beberapa makanan untuk Ayas.


Selang hampir setengah jam, Remon tiba dengan makanan yang di pesan oleh Reygen. Ia tidak sendiri, Ronald pun ikut bersama Remon.


"Rey, sorry! gue minta maaf." Ronald berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, ini bukan salahmu. Semua sudah jalan Tuhan, Nald. Oh ya, gue minta tolong! Lo cari informasi mengenai keberadaan Cakra." titah Reygen kepada Ronald.


"Cakra?" Ronald menautkan kedua alisnya, "untuk apa?" sambungnya kembali.


"Ikuti saja perintahku!" Reygen memotong perkataan Ronald. Ia tidak ingin Ayas mendengar rencananya terjadap Cakra yang telah membuatnya kehilangan janin dalam perut istrinya.


"Gue sama Remon tunggu di sofa." ucap Ronald yang menunjuk sofa di dalam ruangan tersebut.


"Hm!" Reygen hanya bergumam, tatapannya kembali kepada sang istri tercinta yang masih terbaring disampingnya, ia duduk di tepi ranjang.


"Sayang, kamu mau makan apa? bubur, buah atau apa?" tanya Reygen seraya mengusap kepala Ayas yang berbalut hijab.


"Aku tidak mau makan, Bii!" Ayas mengedip dengan lesu, seolah gairah hidupnya telah sirna.


"Ay, kamu gak boleh seperti ini. Kamu harus makan supaya lekas pulih! Aku suapin bubur, ya!" Reygen meraih bubur yang ada dalam kotak yang dibawa oleh Remon.


"Bii, aku gak lapar," suara parau Ayas membuat Reygen semakin merasakan sesak di dadanya.


"Kalau kamu tidak mau makan, aku akan membunuh Cakra sekarang juga!" ancam Reygen kepada Ayas yang menolak untuk disuapi bubur.


Mendengar ucapan Reygen, Ayas merasa sangat hawatir dan terpaksa menerima suapan dari tangan suaminya. Dua suap bubur ayam berhasil masuk ke dalam perut Ayas,

__ADS_1


"Udah, Bii! aku gak kuat lagi. Enek!" Ayas memalingkan wajahnya menghindari suapan dari Reygen, ia menolak suapan ke-tiga dari sendok yang dipegangi oleh suaminya.


"Ya, udah. Aku kesana dulu!" Reygen menunjuk Ronald dan Remon yang sedang menunggu di sofa.


"Hm!" Ayas mengangguk.


Dalam kekalutan, Reygen mencoba menahan dirinya agar terlihat tetap tenang. Ia khawatir jika emosinya meluap saat ini maka, Ayas akan lebih merasa down.


***


Senja mulai menyapa, semburat cahaya jingga mulai menyembur dari sang gagah, si raja siang.


Tak berapa lama, Sarah datang dengan tergesa. Ia mendapat kabar dari Ronald, bahwa Ayas sedang dalam perawatan di rumah sakit.


Setelah mengetuk pintu dan Reygen membukakannya untuk Sarah, Ia langsung setengah berlari menuju ranjang dimana Ayas masih terbaring disana.


"Yas!" Sarah duduk dan menggenggam tangan Ayas.


"Kak!" Ayas tidak ingin terlihat lemah, ia berusaha menahan air mata yang seolah meronta ingin melepaskan diri dari kelopaknya.


"Cuma kecelakaan kecil, Kak!" Ayas mengusap tangan Sarah yang sedang mengegenggam tangannya.


Ayas berusaha tersenyum meski dalam kepedihan yang luar biasa. Ia tidak ingin menampakkan gurat kekacauan dalam hatinya kepada siapapun, kecuali menumpahkannya kepada sang Ilahi dan suami tercintanya.


"Sekarang, bagaimana keadaanmu, Dek?" tanya Sarah kembali.


"Aku sudah baik-baik saja, Kak! mungkin besok juga bisa pulang." jawab Ayas.


"Syukurlah, kamu sabar, ya! Kakak yakin, nanti juga pasti kamu bisa kembali mengandung dan memiliki buah hati bersama Reygen." Sarah tersenyum berusaha menghibur hati Ayas.


"Ehem!" deheman Ronald membuat Sarah dan Ayas menoleh kearahnya. Ronald berjalan mendekati Sarah.


"Sar, nanti pulang aku anterin, ya!" Ronald terlihat keki di hadapan sang pujaan hati.


Mendengar ucapan Ronald, Sarah menoleh kepada Ayas dan mengerutkan keningnya. Hal ini cukup membuat Ayas menarik ujung bibirnya, sedikit menghibur melihat Ronald salah tingkah di depan Sarah.

__ADS_1


"Bisa, Lo ya, cari kesempatan dalam kesempitan!" ucap Remon kemudian terkekeh melihat Ronald tidak menyia-nyiakan pertemuannya dengan Sarah, meskipun dalam keadaan prihatin mengenai sahabatnya.


"Diem, Lo! namanya juga usaha." Ronald menghardik Remon.


Remon tertawa terbahak melihat kelucuan Ronald, tapi Reygen masih memperlihatkan wajah datarnya tanpa ekspresi. Hatinya masih terlalu rapuh untuk menyembunyikan kesedihannya saat ini.


Kadang ulah kedua temannya tersebut memang memberi warna di saat hanya hitam dan putih yang mewarnai hidup Reygen. Sahabat yang saling menguatkan, saling memberi semangat, dan saling melengkapi.


Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, maka kekurangan yang ada pada salah satu sahabat, hendaknya tertambal oleh kelebihan dari sahabat yang lain. Hal itu merupakan kesempurnaan semu yang ada di dunia fana.


"Yas, Lo mau 'kan, jadi adik ipar gue?" Ronald mengangkat kedua alisnya dua kali dengan cepat kepada Ayas, Sarah hanya mengernyitkan keningnya melihat gelagat Ronald yang menurutnya kekanak-kanakan.


Ayas hanya tersenyum dalam luka, ia merasa sedikit terhibur oleh kekonyolan dari sahabat suaminya.


"Kamu ngomong apa sih?" tanya Sarah dengan ekspresi malu-malu meong.


Tak dipungkiri Ronald juga adalah seorang pemuda tampan blesteran, meskipun tak setampan Reygen. Tapi Ronald punya pesona tersendiri dalam memikat hati wanita.


"Jangan mau sama dia, Sar. Anak kambing aja dia pacarin! haha." Remon tertawa puas setelah meledek Ronald.


Ronald geram dengan perkataan Remon, akhirnya ia berjalan menyambangi Remon yang sedang duduk di sofa bersama Reygen.


Remon dan Ronald bergulat seperti halnya anak kecil yang sedang bermain gulat ala smackdown. Melihat tingkah konyol kedua sahabatnya, sedikit ujung bibir Reygen mulai terangkat.


Reygen beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang selalu ada dalam suka dan duka, meskipun kadang bisikan setan selalu memenangkan setiap tindakan yang mereka ambil.


Itulah gunanya sahabat, menjadi obat dikala jiwa sedang merasa sakit, menjadi matahari dikala gelap sedang menghampiri, dan menjadi tongkat untuk kembali membantu berdiri disaat diri terasa setengah mati.


"Nald, Mon! thank you, ya! lo udah jadi sahabat gue." Reygen berkata tulus, baru kali ini ia bersikap manis kepada kedua sahabatnya, membuat Ronald dan Remon merasa heran.


"Lo gak, kesurupan 'kan, Rey?" Ronald menatap heran kepada Reygen.


"Nald, coba pegang pantatnya, kali aja dia lagi sakit!" Remon kembali usil.


Mereka bertiga saling berpeluk ala pria jantan, membuat Sarah dan Ayas yang melihat merasa terharu.

__ADS_1


Persahabatan tanpa memandang apapun, tanpa syarat apapun, dan tanpa pamrih apapun.


__ADS_2