Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 41 : Sudah 10 kali tapi tidak capek


__ADS_3

"Sayang, aku buru-buru!" Reygen mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa.


"Tumben, mau kemana emang?" tanya Ayas penasaran.


"Aku ada janji dengan seseorang." jawab Reygen sambil tetap memakai pakaiannya di bantu oleh Ayas memasangkan dasi.


"Janji? dengan siapa? tumben pagi-pagi banget," tanya Ayas.


"Tenang saja, aku ada janji dengan seorang pria normal, jadi tidak mungkin dia suka sama aku, hm," Reygen terkekeh menahan tawa.


"Hm, coba saja kalau macam-macam," ancam Ayas pada Reygen.


"Iya, manis!" Reygen mengecup kening Ayas dan mengajak istrinya tersebut untuk menemaninya sarapan pagi.


Setelah selesai dengan sarapannya, Reygen segera berpamitan pada Ayas. Ia tidak bilang akan menemui seorang ustadz untuk belajar sholat pengantin secara khusus, karena gengsi Reygen sangat besar.


Ia tidak mau Ayas menertawakannya kalau tahu Reygen akan belajar sholat untuk memenuhi syarat agar bisa memiliki gadis cantik itu seutuhnya.


Reygen sengaja tidak berangkat ke kantor untuk seharian belajar di rumah ustadz yang di maksud.


Kediaman ustadz yang di maksud Reygen tidak jauh dari komplek rumahnya, dalam waktu beberapa menit saja sudah sampai.


tok..tok..


Reygen mengetuk pintu rumah ustadz Marwan.


"Assalamualaikum," Reygen mengucapkan salam.


Seumur hidup, baru kali ini ia mengucap salam ketika bertamu kerumah seseorang. Sebelumnya ia tidak pernah melakukannya kecuali ketika pulang kerja setelah menikah dengan Ayas.


"Waalaikumussalam warahmatullah." jawab seorang pria dari dalam rumah, kemudian segera membuka pintu untuk Reygen.


"Pagi, Pak Ustadz." Reygen tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Pagi, Nak Reygen. Mari masuk!" Ustadz Marwan mempersilahkan Reygen masuk.


Ia mempersilahkan Reygen duduk di sofa ruang tamu dan memanggil istrinya untuk membuatkan minum untuk Reygen.


Setelah satu cangkir teh hangat di suguhkan kepada Reygen, istri ustadz Marwan segera undur diri untuk kembali ke belakang dan meninggalkan suaminya bersama Reygen.

__ADS_1


Ustadz Marwan sudah mengenal Reygen karena keluarga Reygen memang cukup terpandang di kotanya.


"Begini Ustadz, kedatangan saya kesini dan meminta Ustadz untuk meluangkan waktu sehari penuh itu untuk ... m ...." ucapan Reygen terhenti.


Ia merasa malu untuk mengutarakan maksudnya kepada Ustadz Marwan.


"Untuk apa, Nak Rey?" tanya ustadz yang penasaran dengan tujuan Reygen yang memintanya untuk meluangkan waktu sehari penuh untuk dirinya.


'Kalau aku masih gengsi, kapan bisanya, dan aku akan lebih lama lagi dapetin Ayas, huh!' batin Reygen.


"Untuk mengajari Saya sholat pengantin Ustadz. Hm," Reygen tersenyum canggung pada ustadz Marwan.


"Sholat pengantin?" tanya Ustadz Marwan mengulangi perkataan Reygen.


"Iya, Ustadz," jawab Reygen.


"Apa, Nak Reygen akan menikah?" tanya ustad Marwan.


"Saya sudah menikah Ustadz," jawab Reygen dengan mantap.


"Ah, benarkah? Kapan? Saya belum mendengar kabar tersebut," tanya ustadz Marwan.


"Oh, selamat," Ustad Marwan menepuk bahu Reygen, "semoga menjadi keluarga sakinnah, mawaddah, warohmah," ucap ustadz Marwan.


"Langsung saja Ustadz, kapan kita mulai belajarnya?" tanya Reygen yang sudah tidak sabar untuk belajar sholat pengantin.


"Hm, tampaknya, Nak Reygen sudah tidak sabar ya? Hh." ustadz Marwan terkekeh menahan tawa karena melihat Reygen sangat antusias untuk segera praktek.


"Saya ingin cepat-cepat bisa Ustadz, karena ini juga syarat yang diajukan istri Saya sebelum .... " Reygen tidak melanjutkan perkataannya. Namun, ustadz Marwan mengerti kalimat yang terputus itu.


Ustadz Marwan tertawa geli melihat wajah Reygen yang kini seperti tomat yang sudah matang sempurna dan siap untuk di panen.


"Baiklah, ayo kita langsung mulai saja." ustadz Marwan mengajak Reygen ke musholla kecil yang berada di halaman belakang rumah ustadz Marwan.


"Baiklah, Nak Reygen. Sekarang ikuti saya untuk melafalkan niat sholatnya. Ushalli sunnatan nikaahi rak'ataini ba'diatan lillahi ta'ala allahu akbar." Ustadz Marwan memelankan tempo bacaan niat sholatnya agar bisa di dengar dan di ikuti oleh Reygen.


Reygen mencoba untuk menghafal bacaan tersebut dan mengucapkannya berulang-ulang sampai ia benar-benar fasih melapalkannya.


Setelah ia berhasil menghafal niat dengan bahasa arab, lalu ustad Marwan kembali memberi petunjuk.

__ADS_1


"Aku berniat salat sunah setelah nikah dua rakaat karena Allah Ta'ala Allah Maha Besar. ucapkanlah dalam hati, saat Nak Reygen mengangkat ke dua tangan untuk takbiratul ihram." ustadz Marwan mempraktekkannya di hadapan Reygen.


Reygen segera mengikuti gerakan yang telah di contohkan oleh ustadz Marwan.


Setelah hampir tiga jam, akhirnya perjuangan Reygen membuahkan hasil. Untuk bacaan solat seperti biasanya sudah di hafal oleh Reygen karena sering melakukan sholat berjamaah dengan Ayas.


Karena sering mendengar Ayas membacanya dengan keras ketika sholat, hal itu dimaksudkan agar Reygen bisa mendengarnya dengan jelas dan bisa menghafalnya.


"Sebenarnya, tiada anjuran atau pun imbauan untuk membaca surat atau doa tertentu. Namun, dalam sabda Rasulullah SAW, diriwayatkan bahwa sang suami sebaiknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun istri sambil mendoakan :


Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi" ustadz Marwan kembali mempraktekkannya pada Reygen agar lebih jelas.


"Doa ini artinya : Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa".


Reygen kembali memaksimalkan daya ingatnya agar bisa menghafal semua bacaan yang sudah di ajarkan oleh ustadz Marwan.


Akhirnya hampir lima jam Reygen berusaha menghafal semua lafadz yang di ajarkan oleh ustadz Marwan, ia berhasil menghafalnya.


Reygen segera mempraktekkan sholat pengantin di hadapan ustadz Marwan. Hampir sepuluh kali ia mempraktekannya tanpa mengeluh lelah sama sekali.


"Dasar anak muda, kalau sudah menginginkan sesuatu maka akan lupa dengan kata lelah, hm." ustadz Marwan berkata dalam hatinya.


"Nak Reygen, apakah tidak capek dari tadi sudah sepuluh kali mempraktekkan sholatnya?" tanya ustadz Marwan kepada Reygen.


"Ah, tidak ustadz. Saya kan masih muda, jadi saya kuat, kok." Reygen tersenyum dan hendak kembali berdiri untuk mempraktekkan sholatnya menuju kesebelas kalinya.


"Sudah, sudah, sebaiknya kita istirahat dulu. Meskipun Nak Reygen tidak capek, tapi saya yang melihatnya sudah merasa lelah, maklum faktor usia." ustadz Marwan tersenyum dan menghentikan Reygen yang akan segera berdiri untuk praktek sholat lagi.


Ustadz Marwan bergegas menuju dapur dan mengambil dua botol air mineral untuk Reygen dan dirinya sendiri.


"Ini, minum dulu. Supaya tenggorokannya tidak kering, karena dari tadi Nak Reygen tidak berhenti membaca bacaan sholat." ustadz Marwan memberikan satu botol air mineral untuk Reygen.


"Terima kasih, Pak Ustadz." Reygen menerima air mineral dalam kemasan yang di berikan oleh ustadz Marwan. Ia meminum air itu sampai habis.


Mereka beristirahat sejenak sambil berbincang ringan. Reygen juga banyak bertanya mengenai kewajiban dan larangan dalam rumah tangga dan tugasnya sebagai seorang suami yang belum ia ketahui menurut ajaran agamanya.


Setelah di rasa cukup untuk beristirahat, Reygen kembali mempraktekkan sholat pengantin di hadapan ustadz Marwan sampai ia benar-benar hafal gerakan dan bacaannya.


"Sayang, siap-siap, ya, aku akan segera memilikimu seutuhnya."

__ADS_1


__ADS_2