
Hari ini Reygen dan Ayas sedang libur karena tanggal merah.
Reygen bermaksud untuk mengajak Ayas jalan-jalan menikmati suasana liburnya, meskipun sebelumnya Ronald dan Remon sudah beberapa kali mengajaknya jalan namun di tolak oleh Reygen.
Pagi yang cerah secerah hati Reygen saat ini yang telah memasuki musim semi dengan bunga yang bermekaran indah di taman hati.
Reygen sudah siap di meja makan untuk sarapan bersama dengan Ayas. Sebenarnya Ayas masih canggung untuk duduk berdua di meja makan karena bi Ipah dan bi Ida selalu menolak untuk di ajak makan pada satu meja dengan Reygen, tadinya Ayas pun tidak mau tapi Reygen mengancam tidak akan melanjutkan pembangunan panti jika ia tidak menuruti perintahnya. Dasar Reygen tukang modus.
Reygen selalu terlihat bersemangat menyantap sarapan paginya setelah Ayas ada di rumah ini, hal itu di rasakan oleh bi Ipah dan bi Ida yang akhir-akhir ini merasakan perubahan yang luar biasa pada Reygen.
Setelah sarapan pagi Reygen menunggu Ayas yang sedang mencuci piring bekas sarapan mereka di ruang tengah. Bi Ipah sebenarnya meminta Ayas untuk tidak mencuci piring karena sudah tahu bahwa Reygen sedang menunggunya, tetapi Ayas bersikeras membantu bi Ipah.
Mulut Reygen terasa asam karena biasanya setelah makan ia akan menyesap tembakau sampai belasan batang, tetapi kali ini ia tahan karena hawatir penyakit asma Ayas akan kambuh jika ia terkena asap rokok.
Ayas sudah keluar dari dapur dan mendatangi Reygen. Sebelumnya Reygen sudah berpesan pada Ayas untuk menemuinya di ruangan tengah.
"Ada apa, ya, Pak? bukankah hari ini hari libur?"
Ayas berdiri di dekat sofa yang di duduki oleh Reygen.
"Aku mau ngajak kamu keluar,"
Reygen menengadahkan wajahnya ke wajah Ayas.
"Kemana?" tanya Ayas singkat
"Cari udara segar,"
"Apakah ini bagian dari pekerjaan? atau lembur?"
"Hm, jika bukan, apa kamu akan menolaknya?"
Reygen berdiri dan mendekati Ayas.
"Maaf, Pak, hari ini saya mau ke rumah kakak saya,"
Ayas memalingkan wajahnya dari Reygen.
"Oke, aku akan mengantarkanmu."
Reygen meninggalkan Ayas untuk memanaskan mesin mobilnya sebelum mengantar Ayas.
"T-tapi, Pak!" Ayas menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Huh, mau ngehindar malah ada aja alasannya."
Ayas hanya ingin menghindari perasaannya yang mulai mengagumi Reygen, ia tidak ingin rasa itu berkembang terus menerus karena terlalu dekat dengan pria tampan yang memiliki pesona luar biasa itu.
Karena Ayas sudah mandi sejak subuh tadi jadi ia hanya tinggal mengambil tasnya yang masih ada di dalam kamar.
Ayas segera keluar rumah dan Reygen segera membukakan pintu mobilnya untuk Ayas layaknya melayani seorang putri.
Mereka segera meluncur ke kost Sarah dengan mobil Reygen.
"Bapak, tuh, ya, kenapa sih selalu mengkaitkan setiap keinginan Bapak dengan pekerjaan? apa Bapak gak ada kerjaan lain selain mencampuri urusan saya?"
Ayas menatap sinis pada Reygen yang sedang menyetir.
__ADS_1
"Hm, bukankah itu menguntungkan bagimu?"
Reygen menjawab dengan nada datar tanpa menoleh pada Ayas.
"Maksud Bapak?"
Ayas mengernyitkan dahi nya.
"Kalau aku tidak mengantarmu, lalu kamu mau naik apa? bukankah kamu belum punya ponsel lagi?"
Reygen tersenyum penuh kemenangan.
Mendengar perkataan Reygen, Ayas sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Reygen tersenyum senang dan ia sekaligus akan bicara pada Sarah mengenai perasaannya terhadap Ayas untuk mendapat dukungan dari Sarah yang sudah di anggap kakak oleh gadis pujaan hatinya.
Perjalanan yang cukup memakan waktu satu jam lebih akhirnya berakhir dengan Reygen yang memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu pagar kostan Sarah.
Ayas berjalan di depan di ikuti oleh Reygen, Ayas segera mengetuk pintu kamar kost Sarah.
Tok..tok..
"Assalamualaikum."
Ia berdiri menunggu Sarah membukakan pintu untuknya dan beberapa saat kemudian...
"Waalaikumussalam,"
Terdengar suara dari dalam kamar kost.
Pintu kamar kost petakan Sarah terbuka.
"Ayas!"
Sarah langsung tersenyum dan kemudian Ayas meraih tangan kanan Sarah dan mencium punggung tangan Sarah sebagai tanda hormat kepada gadis yang sudah ia anggap sebagai kakak.
Sarah melihat pria tampan yang sedang berdiri di belakang Ayas. Ia menajamkan penglihatannya dan berhasil mengingat sosok pria tampan yang sedang berdiri di belakang Ayas.
Meskipun Reygen tidak memakai setelan jas yang terkesan elegant namun penampilan santainya kali ini pun tak kalah keren dengan celana warna cream yang hanya menutupi lutut dengan banyak kantong di padukan dengan kaos oblong warna putih dan di lapisi kemeja warna biru yang tidak ia kancingkan satupun.
Reygen tersenyum pada Sarah ketika Sarah menoleh padanya.
"Hei, ayo masuk!"
Sarah merangkul tubuh Ayas, dan Reygen mengikuti mereka untuk masuk ke dalam, tetapi Ayas menahannya.
"Pak, Kamu mau kemana?"
"Masuk!"
Nada cuek dari Reygen.
"E-e-eh, kita di sini perempuan semua dan kamar kost kak Sarah itu sempit banget jadi laki-laki gak boleh masuk."
Ayas melarang Reygen.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu kita cari tempat yang bisa buat ngobrol bertiga."
Reygen memberi saran.
Sarah dan Ayas hanya saling melempar tatapan mereka, merasa akan di abaikan dan hanya menjadi nyamuk atau lalat di antara ke dua gadis cantik itu akhirnya Reygen menghubungi Ronald.
Sarah dan Ayas memang sangat jarang keluar jika tidak ada urusan penting, mereka menyetujui ajakan Reygen dengan syarat tidak pergi ke tempat-tempat sepi atau tempat yang tidak pantas untuk mereka kunjungi.
***
Reygen sudah janjian dengan Ronald melalui sambungan telepon untuk bertemu di sebuah taman kota.
"Rey,"
Terdengar suara teriakan Ronald, dia mengangkat tangan kanannya dan melambaikan pada Reygen.
Ayas dan Sarah berjalan di belakang Reygen sambil terus mengobrol.
Melihat Reygen datang dengan ke dua gadis cantik yang menggunakan hijab membuat Ronald menatap heran dari ujung kaki sampai ujung kepala kedua gadis tersebut.
"Seperti bidadari."
Ronald bergumam pada dirinya sendiri.
"Woy, malah bengong, Lo,"
suara Reygen membuyarkan lamunan Ronald pada kedua gadis berhijab tersebut.
Ronald menarik pergelangan tangan Reygen dan berjalan dengan membawa paksa tubuh Reygen untuk lebih menjauh dari Ayas dan Sarah.
"Ngapain, sih, Lo?"
Reygen melepaskan tangan Ronald yang sedang mencengkeram pergelangan tangannya.
"Rey, itu cewek yang malem-malem ke rumah, Lo, kan?"
"Iya, kenapa?"
Wajah dingin kembali di pasang oleh Reygen.
"Mereka siapa, sih?"
Reygen pun menceritakan asal muasal pertemuannya dengan Ayas dan bagaimana sampai gadis cantik itu bisa tinggal di rumah Reygen. Ia pun mengatakan hal yang sebenarnya mengenai perasaan terhadap Ayas.
Kedua bola mata Ronald membulat seketika dan mulutnya menganga seperti ikan mas saat Reygen mengatakan bahwa ia sepertinya sudah jatuh cinta pada Ayas.
"Gila, gak salah, Lo?"
Ronald tampak keheranan.
"Menurut, Lo?"
Reygen menatap tajam pada Ronald.
Ronald hanya menunduk dan tersenyum geli sambil mengusap tengkuk lehernya. Baru kali ini ia seperti melihat seorang manusia yang sedang jatuh cinta pada sosok Reygen.
__ADS_1