Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 60 : Ketenangan yang Terusik


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah hati yang kembali merekah indah dalam sakinnah rumah tangga Reygen dan Ayas.


Hari ini adalah hari pertama Reygen bekerja di kantor perusahaan Remon,


"Sayang, kamu masak apa?" tanya Reygen seraya memeluk Ayas dari belakang yang sedang menata makanan di atas meja makan.


"Ayam kecap!" Ayas mendongakkan wajahnya ke belakang menatap Reygen yang sedang membenamkan wajah di bahunya.


Reygen menghirup aroma khas dari tubuh wanita itu, terlebih saat ini rambut Ayas masih setengah basah karena habis keramas sehingga aroma shampo khas miliknya sangat menyegarkan.


"Bii, udah, ah, aku geli ... " Ayas merinding karena Reygen kembali memainkan hidung bangirnya untuk mengusap leher jenjang sang istri.


Bukannya berhenti, Reygen malah membalikkan badan Ayas dan kembali memeluk seraya menyapu bibir istrinya.


"Hmph," Ayas melepas pagutan Reygen yang terasa semakin dalam, "Bii. Nanti kamu kesiangan. Ihh!" Ayas mendorong dada suaminya.


"Gak mau jauh dari kamu, Ay!" menatap penuh hasrat kepada istrinya.


"Udah, ah, gombalnya! nanti kesiangan berangkat kerja." Ayas menggeser kursi meja makan dan mendudukinya, begitupun dengan Reygen yang menduduki kursi di sebelah Ayas.


"Yasmine Humaira istriku, terima kasih, ya! terima kasih sudah mau mendampingiku dan menerimaku apa adanya." ucap Reygen seraya menatap teduh kepada Ayas.


"Iya, suamiku Reygen Scalfh yang ganteng! hm." Ayas kembali tersenyum.


Wajahnya mulai kembali ceria, kehangatan sikap suaminya membuat dia merasakan kebahagiaan yang tiada tara, meskipun kehidupannya bersama Reygen terkadang membuatnya menitikan air mata, tetapi tidak dipungkiri juga bahwa suaminya tersebut selalu memberi kebahagiaan untuknya.


Mereka sarapan dengan penuh kasih dan sayang, sesekali saling menyuapi dan melempar senyum seolah tidak ada habisnya rasa cinta yang mereka berikan satu sama lain. Maklum masih terhitung pengantin baru, tapi semoga selamanya seperti ini, ya Babang Rey ...


"Bii, nanti berangkat kerja pake apa?" tanya Ayas yang sedang merapikan meja makan.


"Aku pesan taxi online." Reygen membantu istrinya membawa piring kotor dan meletakkannnya di atas wastafel.


"Oh, ya udah, gih! cepetan berangkat. Biar aku aja yang beresin ini semua." sambil mencuci piring.

__ADS_1


"Ya sudah, aku siap-siap dulu, ya!" Rey mencuci tangan.


"Hm!" Ayas mengangguk.


***


"Sayang, taxi-ku sudah datang, aku pergi dulu, ya!" Reygen mengulurkan tangan kanannya dan langsung di sambut oleh Ayas yang kemudian mencium punggung tangan Rey.


"Baik-baik di rumah, ya. Jangan kemana-mana sebelum aku pulang. Assalamualaikum. Cup!" kecupan manis mendarat di kening Ayas.


Ayas menatap dengan senyuman manis menghiasi bibirnya, menghantarkan Reygen sampai ia berlalu dengan kendaraannya.


Ia berlalu memasuki rumahnya, tetapi baru saja ia menutup pintu sebuah mobil sedan mewah barhenti tepat di depan halaman rumah Ayas.


Mendengar suara mesin mobil yang baru saja mati di halaman rumahnya, Ayas menyibak gorden jendela dan melihat sosok wanita sosialita paruh baya baru saja turun dari kendaraan mewahnya.


Ia bersama seorang pemuda seusia Reygen yang berjalan menuju pintu. Ayas tidak ingin membuka pintu, tetapi pemuda itu tetap mengetuk tanpa jeda, bahkan ketukannya telah terdengar berubah menjadi sebuah gedoran pintu.


"Ya, Allah ... lindungi aku!" Ayas terlihat sangat ketakutan dan tergeda-gesa masuk ke dalam kamar tidurnya mencari ponsel untuk menghubungi Reygen.


Ayas berharap semoga suaminya cepat datang. Dari dalam kamar yang terletak di ruangan paling depan, Ayas mendengar jelas pembicaraan mereka yang akan mendobrak pintu.


Reygen turun dari kendaraan yang sudah membawanya kembali ke rumah setelah Ayas menghubunginya melalui ponsel.


Kedua tangannya mengepal keras setelah melihat sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang sendiri kesarangnya tanpa ia cari dengan susah payah. Ia berjalan dengan dada naik turun menandakan emosi yang sudah meledak-ledak di dadanya. Darahnya terasa panas seperti sedang mendidih.


Cakra hendak mendobrak pintu rumah Ayas, tetapi hal itu tidak sempat terjadi karena Reygen menarik kerah baju belakang Cakra dengan kuat, ia melayangkan bogem mentah kepada pemuda yang selama ini ia cari.


BUGH!


BUGH!


Dua pukulan berhasil mendarat sempurna di wajah Cakra, seperti belum puas, Reygen kembali menghujani Cakra dengan hantaman keras.

__ADS_1


"Rey, hentikan!" teriak Evelyn yang sedari tadi berdiri menyaksikan Reygen dan Cakra sedang baku hantam.


Reygen tidak menghiraukan leraian Evelyn, meskipun Cakra mencoba melepaskan diri, tetapi Reygen tidak sedikitpun memberi celah untuk Cakra menghindar darinya.


Puluhan tinju telah bersarang di beberapa bagian tubuh Cakra sehingga pemuda tersebut sempoyongan.


Cakra jatuh di dekat sebuah kayu, ia mengambil kayu tersebut dan memukul pundak Reygen. Namun, tenaga Cakra sepertinya sudah terkuras karena telah banyak menerima serangan dari Reygen sehingga pukulannya dapat di tangkis oleh tangan kekar Reygen, kemudian ia mengambil alih kayu tersebut dan menyerang Cakra tanpa ampun sampai pria seumuran dirinya itu tergeletak tidak berdaya dan bersimbah darah di atas tanah.


Evelyn hanya menganga dan melebarkan kedua bola matanya melihat keganasan Reygen terhadap Cakra.


"Ada apa Momy kesini bersama orang yang telah membunuh calon anak Rey?" tanya Reygen dengan nafas tersengal-sengal setelah perkelahiannya bersama Cakra.


"Membunuh? calon anakmu?" tatapan Evelyn penuh tanya. Ia terduduk lemas di kursi rotan teras rumah Reygen.


Ayas menjerit setelah ia membuka pintu dan melihat Cakra tergeletak di halaman rumahnya dengan kondisi mengenaskan.


"Bii, ada apa ini? kenapa Cakra?" Ayas tidak melanjutkan perkataannya, ia segera mengerti apa yang telah terjadi.


Ayas segera meminta Reygen untuk membawa Cakra ke rumah sakit, Evelyn yang melihat Ayas begitu ketakutan dan sangat menghawatirkan Reygen pun melihat menantunya itu keheranan.


Evelyn segera memanggil sopirnya untuk membawa Cakra ke rumah sakit, Ayas bersikeras ingin menemani Cakra ke rumah sakit. Dia ingin memastikan Cakra masih bisa tertolong, tetapi Reygen menahannya.


"Kalian berdua, ikut!" titah Evelyn kepada Reygen dan Ayas.


Akhirnya Reygen tidak punya pilihan lagi, ia menuruti perkataan Evelyn, meskipun dalam hatinya enggan melihat Cakra.


"Aku dan istriku akan naik taxi. Silahkan Momy duluan!" Reygen menarik tangan Ayas untuk masuk ke dalam rumahnya. Kemudian ia menutup pintu dengan keras.


BRUKK!


Evelyn hanya memejamkan matanya ketika Reygen melempar daun pintu itu dengan kuat. Ia langsung masuk ke dalam mobil yang sudah ada Cakra di dalamnya.


Hatinya bertanya-tanya, 'Apa maksud Reygen dengan perkataannya, membunuh calon anak, Rey?' pikirannya bergelut sendiri. Beberapa opsi pun terlintas di benaknya 'sebaiknya aku tanyakan sendiri kepada Reygen' Evelyn memejamkan matanya sejenak, kemudian ia menatap Cakra yang berlumur darah sedang duduk tak berdaya di kursi depan samping pengemudi.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus menghubungi Rendra." Evelyn mengambil ponsel pintar dari dalam tas tangan mewah berwarna navy yang terletak di sampingnya.


Ia menghubungi sepupu yang tak lain adalah ayah dari Cakra.


__ADS_2