
Dari pada pusing memikirkan hal ini, Reygen putuskan untuk sejenak rehat dan menyusul Ayas di dapur.
"Lagi masak apa, Yank?" tanya Reygen sambil memeluk Ayas dari belakang.
"Mau coba masak steak!" jawab Ayas.
"Emang bisa?" tanya Reygen kembali.
"Gak tau, liat aja nanti! Ayas melirik pada Reygen, "Bii, ihhh... malu, tuh diliatin Bi Ipah!" Ayas menunjuk bi Ipah dengan wajahnya.
Bi Ipah hanya senyum-senyum sendiri melihat kemesraan Reygen kepada Ayas yang sudah tak bisa ditutupi lagi. Hampir setiap hari pemandangan seperti ini terjadi di rumah, membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri.
"Bi Ipah, biasa aja, tuh!" ucap Reygen tak mau kalah, "iya 'kan Bi?" lanjutnya.
"Iya, Den!" jawab bi Ipah sambil tersenyum.
"Tuh 'kan, Bi Ipah juga dulu kalau sama suaminya pasti begini! iya, gak, Bi?" tanya Reygen kembali.
Bi Ipah hanya senyum-senyum dan berkata, "Iya!"
"Tuh, kan!" ucap Reygen, membuat Ayas hanya mendengus dan menggelengkan kepala dengan tubuh yang masih dalam penjara kedua tangan Reygen dari belakangnya.
***
Seselesainya masak, Ayas langsung membersihkan diri dan bertukar pakaian. Dihadapan Reygen, Ayas tak sungkan lagi membuka kerudungnya, bahkan kalau hanya di dalam kamar ia sudah berani menggunakan pakaian seksi hanya untuk suaminya.
Hidangan pun sudah tersedia di atas meja makan, Reygen duduk bersebelahan dengan Ayas. Mereka menikmati makan malam dengan steak coba-coba buatan Ayas, semoga saja Chef amatiran ini tidak membuat lidah Reygen menolak.
"Bii, gimana steak nya, enak?" tanya Ayas melihat Reygen sudah mengunyah steak yang dia masak.
"Hm, enak! masih bisa dimakan," jawabnya sambil tetap menikmati hidangan.
"Beneran?" tanya Ayas mencoba meyakinkan.
"Iya, apalagi ada kamu yang nemenin aku makan, tambah enak, deh jadinya!" jawab Reygen menggoda seraya menarik turunkan alisnya.
"Dasar! mantan badboy, bisa aja gombalnya!" rajuk Ayas.
***
Pagi yang cerah, matahari telah bersinar untuk menghangatkan bumi. Ayas membantu Reygen memasangkan dasi dan saat tangan Ayas sedang sibuk memasang dasi pada leher kerah kemeja Reygen, tetapi Reygen malah menarik tubuh Ayas ke dalam pelukannya,
"Jangan keluar rumah, sebelum aku pulang kerja!" ucap Reygen seraya menatap wajah Ayas yang hampir bersentuhan dengan wajahnya.
__ADS_1
"Iya, lagian kapan aku keluar rumah gak sama kamu, Bii!" sahut Ayas, "lagian mau ngapain keluar rumah stok belanjaan dapur juga masih banyak!" lanjutnya.
Reygen pun melepaskan pelukannya dan tersenyum,
"Istri yang baik!" Reygen mengusap ujung kepala Ayas.
Baru saja Ayas selesai memasangkan dasi, ponsel Reygen berdering. Dia berjalan menuju nakas dimana ponselnya masih tergeletak disana. Terpampang nama Vans di layar ponsel Reygen.
"Ngapain, sih, nih anak pagi-pagi udah nelpon!" gerutu Reygen.
"Siapa, Bii?" tanya Ayas.
"Vans!" jawabanya datar.
Reygen pun menerima panggilan dari Vans, hanya beberapa menit saja setelah berbicara dengan Vans melalui sambungan, Reygen menarik napas panjang dan meminta Ayas untuk ikut ke kantor bersamanya.
"Yank! cepat siap-siap! hari ini kamu ikut aku ke kantor!" ujar Reygen.
"Apa? ke kantor? ikut kamu?" pertanyaan yang beruntun dari Ayas.
"Iya, Vans sudah ada di depan rumah, dia mau menginap berapa hari, karena ada keperluan di jakarta." tutur Reygen ringan.
Hari yang menyebalkan memang, di satu sisi Reygen tidak mau mengajak Ayas ke kantor karena hari ini akan ada pertemuan dengan pemilik hotel bernama Wildan, lelaki yang baru saja kemarin membuat Reygen cemburu setengah hidup, di satu sisi lagi jika Ayas berada di rumah tanpa didampingi Reygen juga bukan pilihan yang baik mengingat Vans pernah berbuat tidak sopan kepada istrinya tersebut.
Ayas mengerti maksud Reygen yang mengajaknya ikut ke kantor, dia pasti tidak mau membiarkan istrinya berada di dalam satu rumah bersama pria seperti Vans. Ayas pun tak perlu lagi bertanya dan langsung bersiap untuk ikut bersama suaminya ke kantor.
***
"Selamat pagi, Pak Reygen!" sapa Wildan.
"Selamat pagi, Pak Wildan!" sahut Reygen, dan keduanya pun berjabat tangan, "silahkan duduk!" sambung Reygen mempersilahkan Wildan duduk.
Ayas sedang asik membaca majalah di sofa salah satu sudut ruangan kerja Reygen. Sesekali Wildan terlihat mencuri pandang ke arah dimana Ayas sedang duduk, meskipun hanya terlihat kepala Ayas dan yang tidak terhalang sandaran sofa, tetapi cukup terlihat.
"Baiklah, jika sudah cukup! saya ada pekerjaan lain!" ujar Reygen secara tidak langsung meminta Wildan untuk segera keluar dari ruangannya.
"Oke, sampai ketemu besok di hotel!" Wildan menyalami Reygen.
Wildan pun undur diri dan sekilas menengok ke arah dimana Ayas sedang duduk, seperti tak ingin membuat hal yang tidak diinginkan terjadi lantas Wildan segera keluar dari ruangan kerja Reygen.
Tak ingin membuang waktu lagi Reygen segera menemui Ayas yang masih asik dengan bacaannya. Dia langsung duduk di samping Ayas dan mencium pipi sang istri.
CUP!
__ADS_1
"Makasih, ya!" ucap Reygen setelah mengecup sekilas pipi Ayas, membuat wanita itu kaget dengan tindakan tiba-tiba dari Reygen.
"Makasih, buat?" tanya Ayas.
"Buat temenin aku kerja!" jawab Reygen.
"Hm!" Ayas hanya mengangguk dan menarik turunkan alisnya.
Reygen menatap wajah Ayas berlama-lama, membayangkan bagaimana seandainya Ayas tidak ada di sampingnya, membayangkannya saja Reygen seperti tidak sanggup, karena setelah Ayas hadir dalam kehidupannya betapa Reygen berubah hampir seratus persen dari kebiasaan buruk menuju perlahan menjadi selalu berbuat baik.
Tentu saja hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh Ayas yang selalu menjadi inspirasi bahkan sering menjadi motivator untuk Reygen agar selalu berbuat yang baik, meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa hidayah itu memang hanya datang dari Tuhan, tetapi perantara juga penting agar hidayah itu tersampaikan dengan baik.
"Makan siang di luar, yuk!" Reygen mengambil majalah yang sedang di baca oleh Ayas.
"Ayok! kebetulan aku juga udah lapar banget!" tukas Ayas.
"Lapar mulu, bumil! pipi udah cabi juga!" Reygen mencubit gemas kedua pipi Ayas yang mulai cabi.
"Mulai, ngeledek!" Ayas mencucut.
"Jangan cemberut! nanti jelek!" ledek Reygen.
"Abis... ihh! seneng banget sih, ledekin aku!" Ayas tambah kesal.
"Emang seneng! apalagi kalau udah bikin pipi tembem ini menggembung kek balon!" Reygen kembali mencubit kedua pipi Ayas gemas.
"Ih, nyebelin!" Ayas semakin cemberut dan menepis tangan Reygen yang masih mencubit-cubit manja pipi gembul Ayas.
"Ih, bentar Yank! aku suka pencetin pipi gembul kamu!" Reygen kembali menekan-nekan pipi Ayas dengan jari jempol dan telunjuknya.
"Awas! aku mau pipis!" Ayas menepis tangan Reygen dan bangkit lalu menggerakkan kakinya, "awas! ya kalau ngeledek aku lagi, aku gak mau makan siang!" ancam Ayas manja.
"Iya, iya, udah sana kalau mau pipis, jangan ngompol disini!" kembali Reygen menggoda Ayas.
Ayas semakin geregetan dan malah mendekati Reygen dan duduk dipangkuannya. Ayas menggoda Reygen dengan memasukkan tangannya ke dalam kemeja Reygen dan mengusap-usap dada bidang milik suaminya.
"Hei! kamu mau aku melakukannya disini?" tanya Reygen sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ayas.
Ayas tidak menghiraukan ucapan Reygen, tangannya terus nakal berjalan-jalan di perut Reygen membuat pria itu semakin menegang.
"Sayang!" desah Reygen.
Setelah Reygen benar-benar sudah menegang, Ayas malah menghentikan aktivitasnya dan turun dari pangkuan Reygen,
__ADS_1
"Gak tahan! pen pipis!" Ayas langsung lari ke toilet.
Reygen hanya menghela napas panjang dan memejamkan matanya, "Bidadariku, pintar sekali dia membuatku seperti cacing kepanasan begini. Awas, kamu! selesai pipis gak akan aku ampuni." gumam Reygen.