
"Mom, tolong! aku tidak ingin meninggalkan istriku dalam keadaan ia sedang mengandung anakku!" ucap Reygen datar.
"Hm, Rey! apa kau tidak merasa sedang di bohongi oleh wanita jala*g itu!" cebik Evelyn dengan satu ujung bibirnya terangkat.
"Apa maksud Momy? istriku wanita baik-baik, bahkan ia lebih terhormat dari wanita-wanita yang sebelumnya aku kenal!" ucap Reygen tegas.
Evelyn mengambil sesuatu dari dalam tas yang ia letakkan di samping kursi meja makan. Tiga lembar foto ia lempar ke hadapan Reygen.
Reygen melihat foto dalam keadaan terbalik yang dilemparkan oleh Evelyn, ia lantas mengambil tiga lembar foto dan menatapnya dengan seksama.
Foto pertama, Ayas sedang menerima uang dari seorang pria yang duduk di kursi meja makan di sebuah restoran.
Foto kedua, Ayas sedang di peluk oleh seorang lelaki yang tadi memberikan uang kepadanya.
Foto ketiga Ayas sedang duduk dan tertawa dengan lelaki si pemberi uang tadi.
Reygen tidak percaya dengan semua gambar yang sedang di pegangnya saat ini. Ia langsung berpikir bahwa itu adalah sebuah hasil rekayasa editor foto.
Karena ia hafal benar bahwa tempat Ayas dan lelaki yang ada di dalam foto itu adalah di sebuah Restoran di Bali ketika mereka berbulan madu. Tidak mungkin Ayas pergi dengan seorang lelaki disaat mereka selalu berdua, hanya saja mungkin saat itu Reygen sedang meninggalkan Ayas ke belakang sebentar.
Bukankah tidak mungkin jika Ayas melakukan hal yang tidak senonoh di restoran lagi pula mana sempat mereka melakukan hal seperti yang di utarakan oleh Evelyn hanya beberapa menit saja ketika Reygen ke toilet.
"Apa kau sudah mengerti?" tanya Evelyn dengan wajah yang tidak ramah.
"Mom, ini hanya rekayasa, foto ini hanya editan. Aku tahu lokasi dimana foto ini di ambil! itu di restoran ketika aku dan istriku berbulan madu dan kami tidak pernah pergi sendiri-sendiri, aku selalu bersama Ayas!" ucap Reygen yakin.
"Apa kau bisa membuktikannya?" tanya Evelyn dengan nada dingin.
"Dari mana Momy mendapat foto ini?" Reygen balik bertanya kepada Evelyn.
"Orang yang telah kau buat tidak berdaya di rumah sakit!" ucap Evelyn.
"Cakra!" ucap Reygen penuh amarah.
__ADS_1
Ia mengepalkan tangannya dengan dada naik turun, emosinya kembali tersulut ketika mengetahui kenyataan bahwa Cakra lah yang selama ini membuat kekacauan dalam rumah tangganya, terlebih ia telah membuat Evelyn membenci istrinya tanpa kesalahan yang di perbuat oleh Ayas.
Fitnah itu memang benar-benar lebih kejam! Fitnah bisa membuat satu kaum porak poranda apalagi pertahanan mertua, ia tidak berdaya ketika Cakra sudah bisa menghasutnya.
"Dia juga bilang kalau anak yang gugur dalam kandungan Ayas tempo dulu itu bukan anakmu! Rey, jika kamu bisa membuktikan bahwa semua perkataan Cakra itu tidak benar, aku akan merestuimu." ucap Evelyn tanpa menyembunyikan sesuatu apapun kepada Reygen.
"Sudahlah, Evelyn. Aku akan berangkat ke bandara, kau mau mengantarku atau tidak? karena aku tidak mau terlambat," ucap Rouge membuat suasana perlahan tidak terlalu panas, "Rey, aku percaya padamu! tapi aku tidak bisa berbuat banyak, selesaikan urusanmu dan ungkaplah kebenarannya."
Rouge segera bangkit dari kursi meja makan dan segera meninggalkan Reygen, Evelyn terburu-buru mengaitkan tas tangannya untuk menyusul Rouge yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.
Rouge tidak ingin berdebat dan basa-basi lagi, ia ingin Reygen segera menyelesaikan masalah langsung pada inti.
Reygen memutuskan untuk ikut mengantar Rouge ke bandara bersama Evelyn, setelah itu ia akan meminta Evelyn untuk mengantarnya ke tempat dimana Cakra berada.
Evelyn dan Reygen berada di dalam mobil yang berbeda, Rouge memilih untuk berada di dalam mobil bersama Reygen, sedangkan Evelyn bersama sopir pribadinya dengan mobil yang berbeda.
"Rey, Papi harap, kau segera menyelesaikan urusanmu dengan Cakra dan Momy-mu. Setelah itu kembali tangani perusahaan kita, karena akan banyak projek di tahun yang akan datang." ucap Rouge kepada Reygen yang sedang fokus menyetir.
"Aku juga tidak ingin berlama-lama dengan masalah ini, Pi. Aku tidak tega melihat istriku selalu tersakiti, terlebih saat ini dia sedang mengandung cucumu." Reygen berkata tanpa menoleh.
Berbeda saat dulu, Reygen selalu melampiaskan amarah atau kekesalannya kepada benda-benda haram yang memabukkan, tetapi kali ini Reygen benar-benar telah berubah. Ia menjadi sosok yang dewasa dan bertanggung jawab, hal itu yang membuat Rouge bangga terhadap putranya.
Ia tak habis pikir dengan alur pemikiran sang istri yang selalu menganggap menantunya itu adalah wanita tidak baik, padahal sudah jelas Ayas telah membawa Reygen ke jalan yang jauh lebih baik dari masa kelamnya terdahulu.
Kadang pemikiran wanita itu memang lebih ribet dari pada pemikiran para pria yang simple dan mengedepankan logika. Terlalu banyak hal yang dipikirkan sehingga semua menjadi lebih rumit.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Rouge, Reygen, Evelyn bersama sopir pribadinya sampai di bandara internasional.
***
"Rey, jika kau butuh bantuan Papi untuk membuka mulut Cakra, hubungi aku." ucap Rouge penuh wibawa.
Pria paruh baya tersebut memeluk Evelyn dan juga Reygen, ia segera menuju boarding pass untuk melakukan pengecekan data penerbangannya.
__ADS_1
Rouge selalu mendukung apapun yang Reygen lakukan selama itu adalah hal yang positif, karena ia sadar tidak memiliki banyak waktu untuk putranya tersebut.
Berbeda dengan Evelyn yang selalu mengatur apapun tentang Reygen, meskipun ia harus memaksakan kehendak. Evelyn berpikir ia berkuasa atas kehidupan Reygen karena dia adalah ibunya.
Namun, ia tidak sadar kalau selama ini ia tidak banyak menghabiskan waktu untuk putranya tersebut, sehingga ada jarak antara mereka.
Chemistry antara ibu dan anak tersebut tidak begitu baik terjalin. Selalu ada miss komunikasi antara mereka, karena Evelyn hanya memenuhi kebutuhan materi Reygen tanpa ia sadari bahwa jiwa seorang anak juga butuh kasih sayang seorang ibu.
"Mom, tolong antar aku ke tempat Cakra. Aku akan membuatnya mengakui semua kebohongannya selama ini." ucap Reygen dengan merendah.
Evelyn melirik dengan sinis, kemudian menarik napas panjang.
"Baiklah." Evelyn berjalan menuju mobil yang terparkir di area bandara, di ikuti oleh Reygen setelah mereka melihat pesawat yang di tumpangi oleh Rouge melesat di udara.
Evelyn menumpangi sebuah mobil sedan bersama sopir pribadinya, sedangkan Reygen mengendarai mobil Remon yang telah ia pakai menuju kediaman orang tuanya.
Reygen mengikuti mobil yang Evelyn tumpangi bersama sopir pribadinya. Setelah beberapa jam karena macetnya jalanan ibu kota, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit ternama di ibu kota.
Evelyn berjalan memimpin di depan, sedangkan Reygen mengikuti langkah Evelyn dengan gagah.
Lorong demi lorong telah dilewati sehingga sampailah di salah satu ruangan VVIP dimana Cakra masih mendapat perawatan disana.
Evelyn mengetuk pintu dan segera memasuki ruangan tersebut, disana Cakra masih terbaring dengan keadaan penuh luka lebam di sekujur tubuhnya, juga kaki yang mengalami cedera patah tulang yang parah akibat pukulan benda tumpul oleh Reygen.
Sebenarnya Reygen sudah sangat emosi ketika ia melihat Cakra, tetapi sekuat tenaga ia tahan amarah yang hanya akan memperburuk keadaan.
Reygen mencoba untuk tetap tenang, meskipun hatinya sedang menahan gemuruh yang teramat sangat dahsyat yang ingin segera ia luapkan kepada Cakra.
"Sabar, Rey!" gumamnya dalam hati seraya menarik napas panjang agar ia bisa mengendalikan emosinya.
Beberapa tulang sendi pada kaki Cakra mengalami cedera patah tulang yang cukup serius, sehingga membutuhkan perawatan yang intensif di rumah sakit.
Meskipun keadaannya saat ini masih terbaring di atas bangsal rumah sakit, tetapi Cakra telah mendapatkan kesadaran penuh. Ia tidak mengalami amnesia atau cedera kepala yang serius, hanya robek di bagian pelipisnya setelah terkena pukulan Reygen yang memakai cincin kawin.
__ADS_1
Hanya saja saat ini ia tidak bisa berjalan karena kakinya masih mengalami cedera yang berat. Hal ini yang menjadi tuntutan Rendra atas persetujuan Evelyn.