Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 78 : Makam


__ADS_3

Setelah selesai dengan aktivitas pagi hari, Reygen dan Ayas segera berangkat menuju makam Reddick.


Reygen menabur bunga di atas makam kakaknya tersebut, mungkin saat ini ia memang bersedih. Kaca mata hitam menjadi asesoris sekaligus menutupi bola matanya yang mungkin sudah berkaca-kaca.


"Kak, aku membawa istriku mengunjungimu. Semoga kau tenang di alam sana." ucap Reygen dengan lirih, kemudian Ayas mengusap bahu Reygen dengan penuh perasaan. Ia mengerti saat ini suaminya sedang bersedih.


Sebait doa terpanjat dari mulut Reygen untuk almarhum kakaknya, Reddick.


Sejenak terlintas kenangan bersama Reddick di benak Reygen, saat mereka bermain bersama dan tak jarang hangout dengan kedua temannya Ronald dan Remon.


Semuanya masih terekam jelas di pikiran Reygen, memorinya seolah kembali ke masa lalu saat ia menabur bunga di atas makam kakaknya.


Di rasa sudah cukup nyekar di makam Reddick, Reygen dan Ayas pun bergegas meninggalkan pemakaman umum yang terletak di tengah kota tersebut.


Di dalam perjalanan, Ayas hanya memegangi tangan kiri Reygen seraya mengelusnya. Ia tahu saat ini Reygen sedang bersedih, untuk itu ia berinisiatif menghiburnya dengan mengajak ke sebuah tempat.


"Bii, gimana kalau kita jalan-jalan dulu?" tanya Ayas memecah keheningan di dalam kendaraan.


"Kemana?" Reygen balik bertanya.


"Tapi, sebelumnya kita mampir ke minimarket, yuk! aku mau mampir ke panti beliin mainan sama keperluan baby Amira " ucap Ayas menatap Reygen yang sedang fokus di belakang kendali setirnya.


"Oke!" Reygen menoleh dan tersenyum kepada Ayas.


Tidak butuh waktu lama, Ayas hanya membeli keperluan untuk anak-anak panti terutama baby Amira. Tiga puluh menit Ayas sudah selesai dengan belanjaannya, mereka tidak membuang waktu dan langsung menuju panti.


Kedatangan mereka di sambut oleh semua penghuni panti terutama bunda Meta dan anak-anak panti yang merasa senang dengan kedatangan mereka.


"Ayas, Reygen. Kenapa gak bilang kalau mau kesini?" tanya bunda Meta lalu memeluk Ayas dan mempersilakan Reygen juga Ayas masuk.


"Iya, bunda, tadi sekalian lewat abis dari suatu tempat jadi mampir, deh, kesini." jawab Ayas sambil menghempaskan pantatnya di atas sofa.

__ADS_1


"Sebentar, bunda ambilkan minum." bunda Meta langsung undur ke belakang untuk membuatkan minum.


"Bunda Meta, bunda Mety mana?" tanya Ayas membuat Meta menghentikan langkahnya menuju dapur.


"Oh, bunda Mety sedang pulang kampung ke rumah mertuanya. Katanya ada acara di kampungnya." jawab Meta yang kini sedang berdiri di dekat lorong menuju dapur.


"Oh!" jawab Ayas hanya membulatkan bibirnya. Meta pun melanjutkan langkahnya menuju dapur.


"Bii. aku mau lihat Amira di kamarnya dulu ya!" ujar Ayas kepada Reygen.


"Ya udah, aku juga mau bawa belanjaan di mobil." ucap Reygen kemudian bangkit menuju mobilnya dan membuka bagasi serta mengeluarkan isi bagasi mobilnya.


Beberapa kantong belanjaan di bawa oleh Reygen masuk ke dalam panti dan ia letakkan di sofa ruang tamu dimana ia duduk.


Sedangkan Ayas sedang berada di dalam kamar baby Amira yang kebetulan Amira ini tidur dalam satu kamar bersama Meta, Amira yang sedang tidur membuat Ayas semakin gemas dan mengusap-usap pipi gembul milik balita yang belum genap satu tahun tersebut.


Tidak ingin mengganggu tidur Amira, Ayas pun meninggalkan Amira di dalam kamar dan kembali menuju ruang tamu dimana Reygen sedang menunggunya.


Tak berselang lama, bunda Meta datang membawa nampan dengan dua cangkir berisi teh manis hangat di atasnya dan langsung meletakkannya di atas meja.


Ayas dan Reygen pun mensruput teh manis hangat yang di suguhkan oleh Meta. Mereka berbincang sambil sedikit tertawa ringan mendengar kejenakaan para bocah penghuni panti.


Meta bercerita saat salah satu dari anak panti yang puff di celana tapi ia hanya diam di pojokan, pas ditanya malah diam saja dan akhirnya ia menangis dan memeluk Meta.


Juga ia bercerita mengenai salah satu anak laki-laki yang sedang bermain bola, lantas cellananya kedodoran sampai menjadi bahan tertawaan oleh teman-temannya.


Mendengar kejadian yang di ceritakan oleh Bunda Meta, Reygen refleks berkata kepada Ayas :


"Yang, kalau kita punya banyak anak seru kayaknya, ya!" celetuk Reygen sambil membayangkan kalau ia punya banyak anak.


Mendengar celetukan dari Reyegn, Ayas lantas mencubit tangan Reygen, membuat suaminya itu teriak kesakitan.

__ADS_1


"Aww!" Reygen mengusap bekas cubitan kecil yang di lakukan oleh Ayas.


"Satu aja belum berojol udah mau minta banyak!" Ayas melotot ke arah Reygen membuat bunda Meta terkekeh menahan tawa menyaksikan pemandangan yang ada di depannya.


"Ya, aku kan cuma lagi ngebayangin serunya punya banyak anak, Yank!" ucap Reygen polos sambil mengusap-ngusap tangannya yang menjadi sasaran empuk cubitan Ayas.


Tawa demi tawa kecil tercipta dari mulut mereka, setelah dirasa cukup mengobrol dan melepas rindu kepada anak-anak panti, Ayas langsung berpamit untuk melanjutkan aktivitasnya.


Kali ini Ayas minta kepada Reygen untuk mengantarnya ke makam almarhumah bunda Aisyah dan juga almarhum ayahnya.


Karena makam bunda Aisyah dan ayah tidak jauh dari panti jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk menempuh tempat tersebut, hanya beberapa belas menit saja mereka sudah langsung sampai di pemakaman umum.


Ayas menaburkan bunga di atas makam ibunya dan membaca sebait ayat suci juga doa untuk ibunda tercintanya yang telah tiada.


Karena makam ayahnya tidak berdekatan, Ayas harus berjalan melewati beberapa pusara untuk mencapai pusara ayahnya. Disana ia kembali menaburkan bunga juga membaca aya-ayat suci lalu berdoa seperti yang ia lakukan di atas makam sang bunda.


Tak terasa air mata menetes di sudut netra Ayas, ia merasa sedih karena ke dua orang tuanya tidak bisa menyaksikan pernikahannya dengan Reygen dan saat ini ia sedang mengandung anak dari Reygen dan tidak bisa di saksikan oleh calon nenek dan kakek dari anaknya.


"Sayang, sudah sore. Kita pulang!" Reygen mengusap pundak Ayas yang masih berjongkok di sisi makam ayahnya.


Ayas mendongakkan wajahnya menatap Reygen yang sedang berdiri di sampingnya, kemudian ia lekas berdiri dan menggandeng lengan Reygen sambil berjalan menuju kendaraan yang terparkir di area pemakaman.


"Mau pulang ke mana?" tanya Reygen kepada Ayas.


"Terserah kamu aja, Bii." Ayas menatap Reygen yang sedang fokus menyetir.


"Kita kediamanku dulu, ya!" ucap Reygen.


"Hm." Ayas mengangguk dan tersenyum.


Kendaraan Reygen pun melaju membelah jalanan menuju kediamannya di kota, perjalanan yang cukup memakan waktu membuat Ayas sedikit lelah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Reygen meminta bi Ipah untuk menyiapkan susu dan makanan untuk istrinya tersebut, seperti biasa Ayas ingin makan di gazebo. Entah kenapa gazebo ini telah menjadi tempat favorit untuk Ayas, ia selalu ingin makan di sana. Mungkin karena disana terasa sejuk dengan angin sepoy-sepoy dan pepohonan yang cukup rimbun membuat udara terasa sejuk alami.


Setelah makan, Ayas ingin belajar berenang. Dengan senang hati Reygen akan mengajari Ayas berenang, ia juga mengerti jika berenang itu bagus untuk wanita yang sedang hamil.


__ADS_2